Senin, 04 Desember 2017

Ia Muda, Karir Bagus, Ekonomi Mapan, Krisis Spiritual Kenapa Jadi Radikal?

Ilustrasi: Istimewa
Oleh Haryoko R. Wirjosoetomo

DutaIslam.Com - Tiga bulan lalu saat makan siang bersama partner saya - ia peneliti senior terorisme - kami memperbincangkan presentasi BNPT dalam sebuah seminar terbatas yang saya hadiri sehari sebelumnya. Diskusi kami terfokus pada pengaruh media sosial terhadap terbentuknya paham radikal penganjur kekerasan dalam diri seseorang, khususnya mereka yang berasal dari kelompok sosial menengah atas.

Isu tersebut sangat menarik bagi saya. Selama ini penganut paham radikal penganjur kekerasan lebih banyak ditemukan pada kelompok sosial bawah. Mereka gampang dimobilisasi dalam kemasan elastis yang mudah berubah bentuk: forum ini itu, front ini itu, gerakan ini itu. Kelompok menengah atas lebih sulit diraba dan tidak tampak keberadaan fisiknya.

Lantaran itulah banyak orang terkaget-kaget saat mendengar kabar Agustian Hermawan - mantan ketua KNPI Depok - tewas di Syria dan baru belakangan diketahui ia bergabung dengan milisi ISIS di sana. Begitu pula dengan kepergian Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu Badan Pengusahaan Kawasan Batam (BP Batam), Dwi Djoko Wiwoho beserta keluarga ke Syria untuk bergabung dengan ISIS.

Media Sosial dan Psikologi Spons
Kedua kasus di atas, menjadi tiga jika ditambahkan dengan kasus Triyono Utomo Abdul Bakti - mantan pegawai Kemenkeu, alumni Flinders University Australia - adalah puncak gunung es penuh tanda tanya. Dan dalam diskusi kami siang itu, partner saya mengajukan sebuah tesis: hubungan antara Media Sosial dengan Psikologi Spons.

Selama ini ia rupanya mengamati, setidaknya dalam satu dekade terakhir muncul gejala menarik pada segmen masyarakat menengah atas. Muda, karir bagus, ekonomi mapan namun kosong secara spiritual. Munculnya kesadaran akan kekosongan tersebut, didukung oleh kemapanan perekonomiannya, melahirkan upaya penebusan untuk mengejar ketertinggalan. Anak-anak disekolahkan di sekolah berbasis agama terbaik, biaya tak menjadi masalah bagi mereka. Lantaran kesibukan kerja, belajar agama dimulai dari internet karena bisa dilakukan dimanapun dan disinilah titik awal perubahan pola fikirnya dimulai.

Selama limabelas tahun terakhir, organisasi-organisasi radikal penganjur kekerasan banyak menggunakan internet dan media sosial sebagai media penyebarluasan paham yang mereka yakini. Propaganda-progapanda ISIS bahkan mendominasi Youtube, digarap serius dengan animasi dan kualitas gambar sekelas film produksi Holywood. Kemudian ada pula yang memberikan terjemahan teksnya dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Dikombinasikan dengan kehausan spiritual yang dialami, teori psikologi spons pun berbicara. Menyerap semua informasi yang bisa diserap di internet, terinternalisasi dalam diri, mencari relasi sosial dengan orang-orang sepemahaman di media sosial, terjadi proses interaksi sosial yang saling menguatkan dan berujung kepada pemilikan paham radikal penganjur kekerasan.

Memang, uraian partner saya masih dalam tataran teoritik namun sangat bisa saya pahami. Sejauh pengamatan saya terhadap lingkar sosial kehidupan saya sendiri, fenomena tersebut cukup banyak saya temui. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya?

Langkah strategis yang musti dilakukan adalah mematahkan dominasi kelompok-kelompok radikal penganjur kekerasan di media internet dan media sosial. Tentu saja tidak semata mengandalkan kekuasaan pemerintah dengan memblokir situs-situs dan akun-akun mereka, lantaran tidak akan menuntaskan masalah. Salah satu cara adalah menggunakan strategi yang berulangkali saya sampaikan disini: counter narasi dengan garapan grafis yang setara.

Untuk content narasinya, bukankah bertaburan pepunden dan pinisepuh di republik ini? Kita tak akan kekurangan narasumber berwibawa baik dari sisi keilmuan maupun pengaruh sosial. itu adalah modal kuat untuk memenangkan perang persepsi ini. Bukan untuk "mengalahkan" 10 persen penganut paham radikal tersebut, namun untuk menjaga 90 persen lainnya. [dutaislam.com/gg]

Tulisan Haryoko R. Wirjosoetomo di akun facebooknya dengan judul "Media Sosial dan Psikologi Spons" Cinere 3 Desember 2017.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini