Sabtu, 30 Desember 2017

Hujan Pun Segan dengan Mbah Hamid (Adik Mbah Wahab Chasbullah)


Oleh Gus Pecut

DutaIslam.Com - Mbah Yai Hamid (adik pendiri NU; KH Wahab Chasbulloh) adalah putra mbah Chasbulloh Said Tambak Beras yang wafat tahun 1956 M.

Dalam tutur tinular yang beredar, sepulang belajar dari Makkah, hidup beliau hanya ngglutek (fokus dan tinggal) di pondok untuk ngajar para santri atau ngaji di kampung kampung sekitar Tambakberas saja.

Jadi, bisa dikata, mbah Hamid yang mbengkoni (menunggui) pondok dengan dibantu mbah Yai Fattah, sedang mbah Wahab Chasbulloh bertugas untuk dakwah memperkenalkan NU keluar kota dan propinsi. Kalau pulang saja mbah Wahab ngajar santri.

Karamah uniknya, kalau terjadi mendung di musim hujan, biasanya mbah Hamid akan keluar rumah ngawasi tukang yang sedang membuat bata merah (mbah Hamid berdagang bata merah), Ketika mbah Hamid keluar rumah, maka biasanya mendung tidak jadi menurunkan hujan.

Jadilah orang orang kampung Tambak Beras makmum Yai Hamid dalam membuat bata. Artinya, sekalipun musim hujan, kalau mbah Hamid masih membuat bata merah, maka masyarakat akan ikut buat bata karena tidak kawatir hujan.Kyai Wahab Chasbullah, Tokoh dan Diplomat Internasional

Suatu saat, KH. Wachid Hasyim pergi ke Tambakberas untuk sowan ke mbah Wahab Chasbulloh. Setelah bertemu mbah Wahab, Yai Wachid minta ditakwilkan mimpinya yang berupa kejebur atau kecemplung sumur.

Tahu Yai Wachid minta takwil mimpi, maka mbah Wahab menyuruh Yai Wachid untuk menemui adiknya, yakni mbah Hamid. Ketika Yai Wachid bertemu mbah Hamid dan bercerita tentang mimpinya, maka mbah Hamid hanya menangis.

Setelah Yai Wachid pulang, mbah Wahab bertanya, “Lapo mbok tangisi? (kenapa kamu menangisi Yai Wachid).

Jawab mbah Hamid, “Gus Wachid niku cepet drajatnya, tapi geh cepat pejahnya.” (Yai Wachid itu derajatnya cepat naik, tapi juga cepat wafatnya).

Terbukti KH. Wachid Hasyim masih muda sudah jadi menteri agama, dan masih muda pula wafatnya. (riwayat dari KH. Irfan Sholeh Tambakberas pada 16-8-2016).

Karamah unik lainnya beliau tidak bisa di foto. Beberapa santri dan Kiai memberi kesaksian tentang hal itu.

Mbah Hamid wafat pada 8 ramadhan. Setelah sahur, beliau terhuyung terus berbaring dan minta diambilkan Quran. Setelah quran di tangan mbah Hamid, beliau menutupi wajahnya dengan quran, dan innalillahi wainna ilayhi rajiun. Untuk mbah Hamid, alfatihah.. [dutaislam.com/gg]

Source: Gus Pecut/ Galeri Foto dan Kisah Teladan Ulama.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini