Jumat, 29 Desember 2017

Hadis Shohih yang Menyesatkan


DutaIslam.Com - Jika ada berita seandainya benar itupun dalam memahaminya harus cermat, teliti dan melihat  konteksnya bagaimana. Tidak bisa kita telan mentah-mentah, harus dimatangkan dulu baru ditelan.

Apalagi kalau berita itu hasil masakan Bani Micin /Sarimanis yang memang gemar membuat berita hoax atau berita gorengan dengan dikasih pemanis cap "agama"  tentunya harus lebih kita waspadai lagi.

Tidak sedikit orang yg telah menjadi korban berita hoax dan gorengan itu, baik dari kalangan dosen, guru, mahasiswa, pelajar, bahkan habib,  kiai,  ustadz,  muballigh, da'i atau santri pun, apalagi orang awam.

Hadits shahih saja, jika langsung ditelan mentah-mentah, bisa jadi problem besar. Apalagi berita yang berseliweran di internet/medsos, lebih-lebih berita hoax.

Hadits shahih kok menyesatkan? Emang ada? Kok bisa? Kalau hadits dhaif atau hadits palsu, mungkin benar menyesatkan. Lha, ini hadits shahih, kok dibilang menyesatkan?

Sabar, yang bilang gitu bukan saya. Yang bilang ulama besar ahli hadits dan ahli fiqih, yaitu Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H). Beliau mengatakan:

ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﻀﻠﺔ ﺍﻻ ﻟﻠﻔﻘﻬﺎﺀ

"Hadits itu menyesatkan kecuali bagi para fuqaha."

Konon sebelum beliau juga sudah ada ulama yang lebih salaf yang mengatakannya yaitu Ibnu Uyainah (w. 198 H).

Maksudnya? Bisa menyesatkan karena bisa saja meski hadits itu shahih tapi konteksnya beda, sehingga tidak cocok diterapkan di suatu kasus.

Kalau yang baca orang awam gak ngerti fiqih, dia pasti terjebak teks. Beda banget kalau yang baca sekelas fuqaha senior. Beliau tahu konteks, latar belakang, asbabul wurud dan mampu membandingkan dengan sekian ribu hadits lain.

Contoh hadits tentang Nabi SAW perintahkan shalat di masjid pakai sendal dan sepatu. Alasannya saat itu biar tidak menyerupai yahudi. Yahudi Madinah shalatnya lepas sendal dan sepatu.

ﺧﺎﻟﻔﻮﺍ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻻ ﻳﺼﻠﻮﻥ ﻓﻲ ﻧﻌﺎﻟﻬﻢ ﻭﻻ ﺧﻔﺎﻓﻬﻢ

"Berbedalah kalian dengan yahudi. Karena mereka shalat tidak pakai sandal dan sepatu." (HR. Abu Daud).

Baca hadits ini tanpa pemahaman tentang konteks, munasabah, siyaq, 'urf serta penjelasan para fuqaha yang ekspert, pasti membingungkan, bahkan menyesatkan.

Khususnya kalau ada orang lugu baca hadits ini, terus dia main masuk masjid aja seenaknya, sedangkan sandal atau sepatunya tidak dilepas. Alasannya karena perintah Nabi SAW. Dan haditsnya shahih. Wah, alamat digebukin rame-rame jamaah se masjid nih.

Salah satu contoh hadits lainnya adalah dinar yang di dalamnya terdapat inskripsi Kristiani dan simbol Salib. Namun uang emas ini dipakai oleh Nabi bahkan hingga masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. [dutaislam.com/gg]

Source: Ustadz Ahmad Sarwat/ Dafid Fuadi

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini