Rabu, 20 Desember 2017

Gus Nur Mencla Mencle: Nantang Polisi-Banser, Minta Maaf, Ngaku NU, Ngece NU Lagi

Foto: Dutaislam.com
DutaIslam.Com – Gagal mengisi pengajian di Surabaya, Sugi Nurhaja atau yang akrab disapa Gus Nur curhat melalui sebuah rekaman video yang kemudian disebar di Media Sosial (medsos). Entah dimana video berdurasi 10:34 itu dibikin. Yang jelas, Gus Nur didampingi beberapa pengurus Front Pembela Islam (FPI) dan disela-sela curhatannya sesekali disambut teriakan takbir ala FPI, allahu akbar!

Pertama dan yang paling utama Gus Nur menucap salam dan bersalawat kepada Nabi Muhmmad. Dengan panggilan saudara Gus Nur mulai curhat dengan bercerita kegagalannya mengisi mengajian di dua masjid di Kota Surabaya.

Di awal curhatan ini, Gus Nur bingung siapa yang menggagalkan pengajiannya. Simpang siur, antara polisi dan Banser. Gus Nur kemudian mengemukakan alasan pembuatan video tersebut.

Pertama, ia meminta maaf kepada jamaah karena tidak bisa menemui secara langsung. Kedua, dia kesal karena merasa dihalang-halangi. Gus Nur curhat, sudah seminggu sebelumnya dirinya dapat surat keberatan. Namun, dua hari sebelum pengajian berlangsung dibolehkan. Giliran kurang sehari, berubah menjadi tidak boleh.

Gus Nur sudah berada di Surabaya. Ketika di hotel dia mendapat jawaban kalau pengajiannya tidak dibolehkan polisi. Katanya, 50-an lebih personil polisi berjaga dengan membawa laras panjang.

"Saya kaget, pengajian kok dijaga polisi, ini apa, dari pada saya marah ya sudah. Tadi malam (kemarin malam, red) saya sudah mau marah ke Banser, yang muncul di otak saya Banser. Banser yang membatalkan, Banser ini, Banser, tapi kok semakin ke sini kok gak ada Bansernya. Sing ono polisi," katanya dengan suara meninggi.

Sampai di sini ia mulai berspekulasi. Sudah tahu yang melarang polisi, tapi masih mengarahkan ke Banser. Bahkan sampai nantang-nantang. "Ini polisi yang ngadu domba atau Banser yang bermain? Ayo diselesaikan secara hukum, ayo, apa salah saya. Ndak usah pengecut begini lah, nggak usah pengecut,” katanya.

”Aku nggak masalah pengajian batal. Aku hanya ingin tahu siapa yang membatalkan, kalau Banser siapa, yang mana orangnya, kalau polisi, polisi yang mana, nomornya berapa, namanya siapa,” katanya, nantang.

Gus Nur kemudian mengeluarkan kata bernada ancaman perang jika kejadian serupa terus terjadi. Jamaah FPI sama Banser perang. "Ini wis tak empet. Ayo polisi, polisi, astagfirullahaladzim,” katanya kemudian.

Gus Nur kemudian merasa tidak habis pikir mengenai pengawalan pengajiannya oleh 50-an personil polisi dengan laras panjang. “Apa? Satu komando yang jelas ini, berarti apa? Indikasinya apa? Gus Nur provokatif?” tanya Gus Nur yang kemudian dijawabnya sendiri.

Gus Nur pun mengakui kalau dirinya provokatif. Tapi dia membandingkan kalau provokatifnya masih mending daripada yang lain. Bahkan dia mengklaim meskipun provokatif tapi masih mempunya etika. Wok wok wok....

"Lho, banyak yang lebih provokatif dari Gus Nur. Banyak. Sak provokatifku aku iki rung gen rek, saya masih tahu etika," katanya.

Gus menguatkan meskipun dirinya provokatif sampai sekarang masih tabligh dimana-mana. Mulai orasi di Monas sampai sekarang, dia mengaku belum pulang. Dia mengaku sibuk ngisi acara di Tasik, Garut, Solo, Cibubur, dan, katanya lagi, ini kata dia, dengan biaya sendiri. Wik wik wik...

”Nggak diamplopi, bayar sendiri, kamar hotel bayar sendiri karena ini dakwah dan nggak ada apa-apa,” katanya dengan nada tinggi.

Setelah itu Gus Nur bicara dengan nada rendah dan mengajak untuk menjadikan Surabaya sebagai kota bersih dan menjadi kota kebanggaan. Gus Nur lantas minta maaf kepada Banser jika selama ini mungkin bermasalah atau mungkin karena salah paham.

Tak hanya itu, Gus Nur mengaku kalau dirinya juga warga NU dan sayang kepada NU. Tapi jika dirinya ada kata-kata yang kasar karena mengkritik NU, Gus Nur minta kebijaksanaan. Tapi di akhir kalimatnya, ia seperti menuduh NU sebagai "yang menggagalkan pengajian". Innalillah.

"Aku jaluk sepuro yo karo temen-temen Banser, selama ini mungkin bermasalah, intinya mungkin ada salah paham yo, intinya aku kan juga NU, aku juga sayang sama NU. Kalau ada kataku yang kasar mengkritik NU, sebenarnya kalau mau demokrasi, mau bijaksana, kan NU nggak semuanya baik. Sama dengan saya, nggak semuanya baik, kalau mau gagalkan saya ya telpon baik-baik. Nomorku gampang dicari, noroku gampang dicari," katanya.

Baru beberapa detik setelah mengucap permintaan maaf kepada Banser, Gus Nur kembali melempar serangan dengan nada bicara marah. Dia bilang kalau sebelumnya boleh mengisi pengajian asal tanda tangan mengakui NKRI. ”Ini kan lagu lama, di dadaku NKRI, nggak usah tanda tangan koyok ngunu iku, kayak jaman PKI,” katanya kesal. Disampingnya ada Laskar PKI, eh FPI ding, yang ikut geleng-geleng ala-ala jaran goyang.

Gus Nur bilang bahwa dirinya emosi dalam keraguan, apakah Banser atau bukan. Dia mengaku bimbang. Sampai-sampai FPI sibuk membantu dirinya. Gara-gara itu, Gus Nur lagi-lagi melempar serangan. Kali ini NU yang diserang lantaran tidak ada orang NU yang menjaga Gus Nur. Tetapi justru orang FPI yang menjaganya.

“Aku orang NU rek, dijaga FPI lho, NU iki neng ndi?” ujar Gus Nur, oo, minta dijaga NU tah.
Begitu juga ketika dirinya tabligh dimana-mana. Yang mengawal bukan NU tapi justru dari Kokam. Hal itu menurut Gus Nur tidak bagus secara moral. 

”Nggak butuh pengawalan sakjane, tapi dari segi moral, etika, kok ngene NU itu?” ucap Gus Nur, menyalahkan NU.

Gus Nur kemudian bercerita bahwa dirinya sekarang sudah tidak bisa ngisi pengajian di Hongkong. Gus Nur tidak tahu alasannya. Yang jelas tidak boleh oleh pihak imigrasi. Padahal, jamaah di sana katanya meledak-ledak. Dan pencekalan itu juga pernah terjadi di Blitar, dan sekarang di Surabaya.

Meskipun begitu, Gus Nur mengaku tidak emosi. Sebab kalau emosi bisa perang saudara beneran. "Dari subuh temen-temen FPI ngajak (perang, Red) saya, ayo Gus berangkat, ini agama Allah, ayo berangkat,” ucap Gus Nur menirukan ajakan dari FPI. 

Ngaku tidak emosi, namun Gus Nur lagi-lagi nantang. Kali ini nantang-nantang bahkan mengancam akan melanjutkan ke ranah hukum.

"Jawab, siapa yang bermain ini. Banser… ayo jawab. Hei polisi, ayo jawab. Kalau nggak tak lanjut ke hukum, ini. Kan selama ini aku sudah sabar, tak lanjut ke proses hukum, tak balik ke Perppu Ormas nanti. Yang buat kamu, tak balikkan ke kamu, ketangkep semua nanti kamu, karena gagalkan pengajian, persekusi,” katanya. 

Di akhir curhatannya, Gus Nur minta maaf ke jamaah. Tak ketinggalan dia menuding Banser dan Polisi saling lempar tanggung jawab. Tapi ditunggu jurus "diancuk" dan "matamu picek" nya, tidak keluar.

Bagaimana omongan Gus Nur, mencla-mencle kan? Anak begitu kok mau minta dijaga NU dan Banser. Mikir! [dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini