Rabu, 20 Desember 2017

Felix dan HTI Masih Terus Main Kuda Lumping

Felix Siauw. Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Pasca Aksi Bela Palestina di Monas, Felix merasa marah, kesal, kecewa, gundah, campur aduk jadi satu.

Apa pasal? Tak lain dan tak bukan, lantaran ia gagal menyampaikan orasi di hadapan para penggemarnya yang sejak awal sudah berada di barisan paling depan.

Bagi orang yg merasa telah "menjadi besar", tak mendapatkan panggung bisa bermakna "tak dihargai", dan itu jelas mimpi buruk bagi seorang Felix.

Dalam akun FB-nya, Felix curhat. "Tiba2 Kyai Cholil Nafis, MC aksi maju dan minta panggung disterilkan, semua mundur kecuali pembaca ikrar dan pemuda, termasuk saya tetap di tempat awal", tulis Felix.

"Lalu datanglah Kyai Marsudi Suhud, meminta saya mundur disertai isyarat tangan sambil mendorong.. Saya heran", tulis Felix berikutnya.

"... Para asatidz lain yg melihat, sambil marah menghampiri saya. Mereka tak tega saya diminta mundur dengan cara seperti itu..", tegas Felix.

Dari paragraf demi paragraf, Felix sebenarnya bermaksud merangkai sebuah kronologi, di mana telah terjadi "pendlaliman" atas dirinya.

Felix, tampaknya sedang melakukan konstruksi sosial, yakni membentuk opini publik sesuai citra yg ia inginkan.

Disadari atau tidak, tatkala Felix menyebut bahwa para asatidz marah atas perlakuan yang ia terima, maka Felix secara implisit ingin mengatakan, betapa tidak manusiawinya perlakuan yang ia terima.

Maka dengan begitu, kemarahan dia, secara apik disembunyikan, dan meski ia sendiri yang sebenarnya marah, namun seolah-olah  dia menerima dengan lapang dada, dan justru org lain yang marah dan tidak terima atas apa yang menimpa dirinya.

Pertiyiinnyi: Seberapa kasarkah dorongan Kyai Marsudi Suhud terhadap felix, sehingga para ustadz yang ada di situ merasa perlu untuk marah? Apakah posisi Felix sudah pada level "dijengkak-kan" oleh Kyai Marsudi?

Terus terang, saya meragukan itu. Boleh jadi, Felix saja yang terlalu lebay dan cemen.

Pertanyaan besarnya adalah: Dalam kapasitas apa Felix naik dan berada di atas panggung? Bukankah ia tahu bahwa Aksi Bela Palestina (ABP) adalah aksi yg disponsori oleh MUI bersama ormas Islam?

Mestinya Felix sadar bahwa ia bukan representasi dari ormas manapun, karena HTI bukan lagi bagian dari ormas Islam yang diakui di bumi Nusantara.

Sebagai propagandis HTI, Felix juga harus tahu diri, dan tidak memaksakan untuk naik ke atas mimbar. Cukuplah dia berada di bawah saja bersama kerumunan massa. Itu lebih baik. Bukankah begitu kawan.

Terlebih lagi, sudah jadi rahasia umum bahwa Felix adalah anti nasionalisme, pernah menyatakan talak tiga terhadap nasionalisme, termasuk juga  nasionalisme Palestina.

Tahun 2015 Felix pernah menulis. "Berhati-hatilah dalam perjuangan, jangan sampai niat kita membantu saudara kita yang tertindas di Palestina justru menjadi sesuatu yang buruk karena kita tidak mengerti duduk permasalahan dan akhirnya malah mendukung nasionalisme Palestina".

Jadi jelas dan tegas, bhw Felix tidak pernah mendukung kemerdekaan Palestina yang didasarkan pada ikatan nasionalisme, atau negara kebangsaan.

Jika Felix mendapatkan panggung, bisa jadi akan terjadi pembelokan materi aksi dari apa yg telah disepakati antara ormas Islam dan MUI.

Kekhawatiran ini cukup beralasan, sebab saat Ustadz Bahtiar Nasir melakukan orasi, tiba-tiba saja ia menuntut pembubaran MK. Ini jelas sudah keluar dari kesepakatan.

Tampaknya, Felix dan gerombolan HTI akan terus berusaha mencari panggung utk bermain kuda lumping.

Ayo kang mas. Seruput kopinya, hisap dalam-dalam kreteknya, dan nikmati sensasinya [dutaislam.com/pin]

Keterengan: 
Artikel dibuat Semar Bodronoyo. 

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini