Jumat, 08 Desember 2017

Bapak Menghormati Ilmu, Anak Mengunggulkan Nasab

Ilustrasi: Istimewa
Oleh Ichwan Ndeso

DutaIslam.Com - Saya habis berjumpa kawan lama. Dia bercerita yang menyedihkan. Ada seorang tokoh yang amat disegani oleh masyarakat. Sangat dihormati karena merupakan sosok panutan umat. Beliau mendirikan sebuah lembaga pendidikan keagamaan. Istrinya juga orang yang sangat alimah. Tiap hari mengajar dan mendidik anak-anak yang diamanahkan padanya.

Si tokoh ini punya anak banyak, 7 orang; empat perempuan dan tiga laki-laki. Semua anaknya dididik secara baik sesuai tuntuntan Tuhan dan Rosul.

Setiap anak dikirim ke pondok pesantren, lalu pulang dari mondok diajak membantu ngopeni yayasan pendidikan yg didirikan orang tuanya itu.

Empat anak perempuan yang sudah dewasa, masing-masing dinikahkan dengan perjaka yang terpilih. Tidak sembarang pria, tapi yang mumpuni dalam ilmu dan akhlak. Standarnya sesuai sang bapak tentunya.

Menantu pertama, adalah santri paling pandai dan paling dihormati di lembaga sang bapak itu. Sang pengasuh kagum pada kepintarannya, pada keluasan ilmunya, sehingga diambil menantu.

Pun demikian, menantu kedua, ketiga dan keempat, adalah orang-orang yang tidak jauh beda dengan suami sang sulung. Sehingga semakin moncerlah keluarga sang tokoh. Kini empat menantu membantu si tokoh memimpin lembaga pendidikan keagamaan itu.

Maka yayasan itupun semakin berkembang. Semakin banyak yang belajar di situ. Masing-masing diberi tugas memimpin lembaga-lembaga yang dinaungi yayasan yg membuka unit-unit baru.

Tiga anak laki-laki masih kecil-kecil sehingga belum diberi mandat apa-apa. Ketika masanya mondok, mereka pun dikirim ke pesantren di luar propinsi.

Sampailah suatu masa, sang pendiri sakit. Usianya yang tua, membuat beliau tidak lagi bisa mengasuh langsung yayasannya. Sehingga menantu tertua yang menggantikan beliau ngimami sholat, mulang ngaji dan sebagainya.

Bahkan bisa dikatakan sang menantu ini menambah tinggi kemulian mertuanya. Karena dia mengembangkan yayasan mertuanya dengan semangat pengabdian dan memadukan dengan manajemen yang bagus. Adik-adik iparnya membantunya sepenuh semangat yang sama.

Rupanya sakitnya abah, panggilan anak-anak dan para menantu kepada sang pengasuh, tidak kunjung sembuh. Sudah suratan takdirnya, beliau akhirnya wafat di rumah sakit.

Usai masa berkabung, menantu sulung itulah yang menggantikan posisi pemimpin di lembaga tersebut. Yayasan pun dikembangkan sampai memiliki aset yang banyak. Jadi lembaga besar kelas kabupaten.

Namun... Tibalah saatnya para anak lelaki lulus dari pendidikannya. Mereka boyong dari pondok dan satu persatu menikah. Ketika pulang, tiga anak lelaki ini merasa berhak memimpin dan menguasai seluruh peninggalan abahnya. Menurut mereka, merekalah pewaris tahta.

Melihat bahwa yang memimpin adalah menantu, serik hati mereka. Tiga anak lelaki itu kompak memusuhi menantu. Terutama menantu tertua yang menjadi pengasuh kini.

Aneka ulah dan fitnah pun disebar, yang intinya, menantu itu tidak punya hak menggantikan abah. Yang punya hak adalah anak kandung. Mereka merasa punya nasab sedangkan menantu adalah orang jelata yang bejo saja.

Suasana di yayasan itu pun jadi berubah tegang. Singup oleh konflik laten; perseteruan tersembunyi. Setiap ada tamu, anak-anak lelaki itu mengampanyekan bahwa menantu telah merebut hak waris mereka. Jamaah ngaji dan orang tua murid juga sering mendengar hal macam itu.

Jadilah kisruh di yayasan itu melanda masyarakat. Warga sekitar ikut merasakan ketegangannya. Antar saudara sesama anak almarhum abah telah berseteru, saling mendiamkan dan tidak saling sapa. Menjauh-jauhkan diri, pernuh rerasan dan kasak-kusuk negatif tiada henti.

Sampai akhirnya sang menantu tidak kuat, dia merasa terteror oleh ulah adik-adik iparnya itu. Yang membuatnya heran, dia menggantikan abah itu karena memang diminta abah sendiri. Tapi para adik asal saja memusuhi. Menganggap merebutnya. Padahal kepemimpinan itu tak pernah dia minta.

"Itulah repotnya di dunia XXXX. Sang abah menghormati orang karena ilmunya, sementara anak-anaknya sendiri malah mengagul-agulkan nasab. Padahal meraka harusnya menghormati abahnya dan meniru semangat abahnya dalam memuliakan ilmu," tutur kawan lama saya yang mendapat curhat dari sahabatnya. [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini