Jumat, 17 November 2017

Soal Konflik Timteng, yang Diharapkan dari Ulama Bukan Hanya Seruan Moral

Ilustrasi/Istimewa
Oleh KH Yahya Cholil Staquf

DutaIslam.Com - 1. Konflik di Timur Tengah berkembang menjadi sangat brutal, tidak ada satu pihak pun perduli dengan korban nyawa dan penderitaan manusia;

2. Apabila tidak segera muncul inisiatif perdamaian yang konstruktif dan signifikan, hanya soal waktu saja seluruh Timur Tengah akan menjelma serupa Afghanistan, diikuti dengan keruntuhan peradaban;

3. Gejolak konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan pada gilirannya niscaya menimbulkan akibat-akibat berantai yang amat berbahaya bagi keseluruhan tertib internasional dan mengancam keselamatan peradaban dunia;

4. Pelaku-pelaku inti dalam konflik adalah Saudi Arabia, Iran, Turki dan Israel, dengan masing-masing memiliki sekutu didalam kawasan; seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, beberapa kelompok pemberontak Syria, serta faksi Presiden Abdurabbih Mansur Hadi dan AQAP (Al Qaeda in Arabian Peninsula) di Yaman yang bergabung dalam persekutuan bersama Arab Saudi; Qatar bersama Turki; Hizbullah, Pemerintah Basyar Asad di Syria dan faksi Al Hutsi di Yaman bersama Iran; dan kelompok Kurdi yang bersekutu dengan berbagai pihak untuk kepentingan-kepentingan yang lebih pragmatis. Para penyokong adalah negara-negara adidaya diluar kawasan yang memiliki kepentingan-kepentingan proxy di Timur Tengah, yaitu Amerika Serikat, Eropa Barat, Rusia dan China;

5. Kepentingan-kepentingan yang memotivasi konflik bukan lagi berupa kepentingan-kepentingan ekonomi-politik yang kongkret, tapi cenderung menyerupai motivasi “perang dingin” di masa lalu antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, yaitu persaingan dan kecurigaan (berdasarkan agama dan etnik) serta persepsi tentang ancaman potensial dari pihak yang dianggap lawan, yang mendorong perebutan kontrol teritorial dan pengaruh geopolitik;

6. Mengingat korban kemanusiaan luar biasa yang telah terjadi, menghentikan kekerasan harus ditetapkan sebagai tujuan mutlak dari upaya perdamaian;

7. Untuk mencapai hasil yang nyata, upaya perdamaian harus mewujud kedalam langkah-langkah yang kongkret dan realistis, dengan secara inklusif melibatkan semua pihak yang memiliki kapasitas untuk mempengaruhi dinamika konflik, tanpa kecuali;

8. Intensitas konflik yang berkepanjangan telah menutup peluang-peluang bagi inisiatif perdamaian sehingga satu-satunya pintu masuk untuk itu tinggallah seruan kemanusiaan dan spiritualitas agama. Maka inisiatif perdamaian mustahil diharapkan muncul dari kalangan pemimpin politik, karena ketiadaan kredibilitas dan kepercayaan (trust) satu sama lain. Satu-satunya pihak yang masih bisa diharapkan dalam hal ini adalah kalangan ulama pemimpin agama, dengan otoritas dan kredibilitas keagamaan yang mereka miliki;

9. Perlu digalang gerakan untuk perdamaian diantara para ulama dari berbagai madzhab dan orientasi politik yang berbeda-beda, yakni mempersatukan mereka dalam satu artikulasi bersama menuntut dihentikannya konflik dan kekerasan;

10. Yang diharapkan dari para ulama bukan hanya seruan moral, tapi juga tindakan-tindakan nyata berupa diplomasi internasional, kampanye perdamaian dan pengembangan gerakan sosial untuk perdamaian. [dutaislam.com/gg]

Tulisan ini adalah status fb KH Yahya Cholil Staquf 
dengan judul "Memohon Belas Kasih Ulama".

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini