Sabtu, 04 November 2017

Meluruskan Propaganda Sesat "Banser Anti Islam" dan “Tukang Bubarkan Pengajian”

Foto: Istimewa
Oleh Miftahul Arifin

DutaIslam.Com – Tuduhan Banser membubarkan pengajian Felix Siau di Bangil Pasuruan Jawa Timur menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat bawah. Sebagian menilai tindakan banser tepat mengingat Felix Siauw termasuk dedengkot Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) almarhum.

Sebagian yang lain justru nyinyir terhadap banser. Banser dituduh anti Islam dan lebih memihak kepada gereja dan setia menjaga ketika hari natal. Tak tanggung-tanggung, banser juta dituduh lebih suka menjaga “orkes dangdut” dibanding pengajian. Tentu hal tersebut merupakan perbandingan tak masuk akal dan tanpa kontek.

Penolakan Felix Siauw di Bangil Pasuruan tidak bisa dipandang sebelah mata atau hanya dalam satu sudut pandang. Banser terlihat bersalah jika persoalan ini hanya dilihat dari satu adegan: “banser membubarkan pengajian” karena pengajian sangat bernilai. Sementara banser yang seharusnya ikut ngaji atau mengamankan pengajian justru membubarkan.

Lain lagi misalnya jika peristiwa tersebut dipandang dari sisi Felix Siauw yang selama ini dikenal anti Pancasila dan mendukung ide khilafah di Indonesia. Pikiran waras akan menilai tindakan banser sangat tepat mengingat kehadiran Felix Siauw berpotensi menyebarkan paham yang bertentangan dengan idiologi negara. Tindakan banser yang hanya satu adegan namun terkesan keras itu tentu bagian dari kemashlahatan yang lebih besar. Yakni, mencegah meluasnya paham khilafah di negara Pancasila seperti Indonesia.

Masalah di Bangil harus dilihat secara komplek dan komprehensip. Permaslahan harus dicerna dengan baik dari berbagai sudut pandang. Perbandingan sudut pandangan di atas tentu belum komprehensip karena persoalan hanya dilihat berdasarkan sudut pandang hitam dan putih, A dan B, atau "tindakan banser" dan "kedatangan Felix Siauw"

Pandangan semacam ini tidak akan menyelesaiakan persoalan apalagi meluruskan pemahaman di kalangan masyarakat. Akibatnya, yang akan  terjadi hanya klaim kebenaran masing-masing kelompok. Karena saya pendukung kelompok A, pendukung Felix Siauw, maka Felix Siauw yang benar. Sedangkan banser salah. Sebaliknya, karena saya pendukung Banser, maka banser yang benar sedangkan Felix Sauw salah.

Yang perlu pahami di sini, kita sama-sama bangsa Indonesia, mengakui negara dan mengakui pemerintahan yang sah. Upaya untuk menyatukan tekat demi Indonesia yang berpegang pada Idiologi Pancasila dan UUD 45, kesepahaman bersama perlu terus dipupuk demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam kontek ini, pemburan pengajian Felix Siauw di Bangil harus dilihat secara kronologis dan utuh. Dalam ungkapan sederhana, tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Maka tidak cukup dilihat salah satunya, api atau asap. Antara api dan asap harus diposisikan sejajar baru kemudian ditelusuri mengampa sampai ada api dan asap yang kemudian menyebabkan amarah di kalangan masyarakat.

Hal ini juga yang diungkapkan Putri Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Alisa Wahid di akun twiternya dalam menyikapi peristiwa di Bangil. Alissa menilai tindakan banser tidak mungkin secara tiba-tiba ‘ngeruduk’ pengajian. Dia memastikan bahwa banser sudah melakukan tabayyun dan musyawarah terlebih dahulu. Tindakan banser yang demikian dinilai Alissa dipastikan karena adanya sebuah penghinatan.

Penilaian Alissa cukup beralasan meski tidak bisa dipungkiri mengadung bias mengingat Alisa adalah warga NU. Sedangkan banser merupakan bagian dari NU. Yang perlu dicermati dari pernyataan Alissa bahwa melihat persoalan harus secara utuh dan tidak terkotak-kotak. Harus dilihat sebab baru kemudian menilai akibat. Setelah semua sisi dilihat, giliran akal sehat memberikan penilaian.

Memahami Kronologi Persoalan 
Dari informasi yang dihimpun penulis, baik yang dikemukakan langsung oleh sumber maupun berita yang beredar, pengusiran Felix Siauw berangkat dari tidak dindahkannya kesepakatan antara dua belah pihak.

Kronologi kejadian bermula ketika ada informasi bahwa Felix Siuw akan mengisi pengajian di Bangil, tepatnya di masjid Masjid Manarul Islam Bangil. Mendapat informasi tersebut, GP Ansor Cabang Bangil menolak dengan alasan Felix Siauw merupakan ustad HTI. Sehingga dikawatirkan memicu ketegangan dan menyebarkan ide khilafah kepada masyarakat Bangil.

Penolakan GP Ansor ditempuh sesuai aturan yakni dengan melapor kepada Polres Pasuruan. Pihak kepolisian menyambut baik dan berterima kasih karena telah diingatkan demi menghindari gejolak di Bangil. Dalam pernyataan Polres Pasuruan sebagaimana dilansir Radar Bromo, pihak kepolisian akan berkordinasi dengan pihak-pihak terkait demi menjaga ketertiban masyarakat Bangil.

GP Ansor sejatinya tidak menolak "tanpa maaf" akan kedatangan Felix Siauw. Jika terpaksa pengajian harus dilaksanakan, GP Ansor meminta agar Felix Siauw bersedia menandatangi surat peryantaan yang isinya: 1) Mengakui Pancasila sebagai ideologi Negara. 2) Tidak menyebarkan paham khilafah dan 3) Menyatakan keluar dari HTI (ormas islam yang sejatinya sudah dilarang di Indoensia).

Selain melapor, GP Ansor mengambil langkah dengan mengundang pihak Felix Siauw untuk mediasi. Namun, upaya media tidak berhasil karena dari pihak Felix Siauw tidak datang dalam undangan GP Ansor dan PCNU Bangil.

Kesepakatan baru bisa diperoleh malam hari sebelum acara berlangsung, Sabtu (04/11/2017). GP Ansor Bangil dan PCNU Pasuruan akan menemui Felix Siaw di bandara menyodorkan tanda tangan kesepakatan. Namun, yang bersangkutan tidak ada bandara, tapi sudah di Bangil. Dari sana timbul kecurigaan bahwa Felik Siuaw sengaja disembunyikan.

Atas dasar itu, pengajian Felis Siauw terpaksa harus dihentikan karena dinilai melanggar kesepakatan sebelumnya.  Penghentian Felix Siaw dilakukan oleh pihak kepolisian karena Felix Siauw tidak mau bertanda tangan yang berisi pengakuan terhadap Pancasila dan berhenti menyebarkan ide khilafah.

Dari kronologi tersebut, yang perlu diluruskan mengenai tuduhan terhadap banser telah membubarkan pengajian karena yang menghentikan Felix adalah petugas. Sebaliknya banser mendukung dan berjanji ikut mengkawal pengajian Felix jika yang bersangkutan bersedia tanda tangan. Nyatanya Felix menolak.

Maka yang mestinya menjadi pertanyaan mendasar, mengapa begitu sulitnya seorang ustad yang hidup di Indonesia mengakui Pancasila hanya dengan membubuhkan tandatangan? Ada apa?

Memahami Persoalan Sebelum Menilai
Di tengah bermacam polemik yang terjadi belakangan ini, semestinya kita tidak mudah memberikan komentar yang justru akan memperkeruh suasana. Apalagi berkomentar asal-asalan yang hanya berdasar pada kebencian. Sebaliknya, bukan berdasar pemahaman utuh terhadap masalah.

Begitu juga dengan insiden di Bangil. Jika dicermati, kita tidak bisa serta merta menyudutkan banser dengan menganggap sebagai kelompok “tukang membubarkan pengajian”. Apalagi dikait-kaitkan dengan peran banser yang selama ini ikut serta mengamankan gereja ketika hari natal kemudian menilai banser anti Islam karena membubarkan pengajian. Bagi penulis ini termasuk perbandingan yang sesat dan cacat secara logika.

Tidak kaitan antara pengajian Felik Siauw dengan peran banser menjaga gereja. Banser menjaga gereja saat hari natal sebagai wujud toleransi antar umat beragama sebagai mana dinjunjung oleh undang-undang. Sedangkan pembubaran pengajian di Bangil karena sebuah penghianatan. [dutaislam.com/pin]

Miftahul Arifin, pemerhati sosial dan politik dari Moncek Timur, Lenteng, Sumenep Madura

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini