Minggu, 26 November 2017

Ngawurnya Wahabi Soal Sejarah Maulid, 3 Bantahan Ini Bikin Keok

Beberapa orang santri mengusung kue walima saat perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Foto: Republika
DutaIslam.Com – Penolakan wahabi akan perayaan maulid Nabi Muhammad karena tuduhan bid’ah bin sesat kerap kali membuat mereka ngawur dalam berargumen. Satu diantaranya soal kelompok umat Islam pertama yang merayakan maulid.

Menurut kelompok Wahabi, orang yang pertama kali merayakan Maulid adalah kelompok Bathiniyah dari Daulah Fathimiyah di Mesir. Pendapat mereka ini bersumber dari cerita al-Muqrizi yang wafat tahun 845 H.

Pendapat ini tidak benar. Berikut tiga bantahan terhadap persoalan ini.

1. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani rohimahullah berkata :

*إن أول المحتفلين بالمولد هو صاحب المولد وهو النبي صلى الله عليه وسلم كما جاء فى الحديث الصحيح الذي رواه مسلم لما سئل عن صيام يوم الإثنين ، قال صلى الله عليه وسلم :  «ذاك يوم ولدت فيه»*

*فهذا أصح وأصرح نص فى مشروعية الإحتفال بالمولد النبوي الشريف*

*ولا يلتفت لقول من قال : إن أول من إحتفل به الفاطميون لأن هذا إما جهل او تعام عن الحق*

Sesungguhnya orang yang pertama kali merayakan Maulid adalah pemilik Maulid, yaitu Rasulullah. Dalam Shahih Muslim dijelaskan, ketika beliau ditanya tentang alasan beliau berpuasa pada hari Senin, nabi menjawab: “pada hari itu aku dilahirkan"

Pernyataan ini merupakan nash yang paling shahih dan paling jelas (sebagai hujjah) di dalam atas disyariatkannya perayaan maulid Nabi.

Jangan pedulikan pendapat siapapun yang berkata bahwa yang pertama kali merayakan Maulid adalah orang-orang dari Dinasti Fathimiyah. Karena alasannya cuma satu di antara dua hal, bisa karena tidak tahu atau sengaja menutup mata dari kebenaran yang nyata. [Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Al-I'lam Bi Fatawa Aimmatil Islam Haula Maulidihi Alaihi As-Shalatu Wassalam, hal. 11].

2. Menurut al-Imam Abu Syamah al-Dimasyqi, wafat tahun 665 Hijriah, orang yang pertamakali merayakan Maulid adalah Syaikh Umar bin Muhammad al-Mulla. Beliau seorang ulama yang sholeh dan populer di Mousul Iraq. Kemudian hal tersebut diteladani oleh Raja Irbil di Iraq pada masa tersebut.

3. Informasi dari Abu Syamah lebih kuat daripada informasi dari al-Muqrizi karena empat hal:

Pertama, Abu Syamah hidup pada masa lebih awal dari pada al-Muqrizi dan mengikuti awal mula pelaksanaan maulid. Sedangkan al-Muqrizi hidup di masa yang jauh setelah runtuhnya Dinasti Fathimiyah yakni ratusan tahun berikutnya.

Ketiga, Abu Syamah menyampaikan informasi berdasarkan pengalamannya sendiri. Sedangkan al-Muqrizi tidak menjelaskan sanadnya. Padahal telah berlalu lebih dua ratus tahun apa yang beliau ceritakan.

Keempat, al-Muqrizi masih termasuk keluarga Dinasti Fathimiyah di Mesir dan senang membesar-besarkan mereka karena faktor keluarga. Beliau juga senang menshahihkan nasab Dinasti Fathimiyah  kepada Imam Ja'far al-Shadiq. Padahal menurut para ulama sejarawan terkemuka dan ahli nasab, nasab mereka tidak bersambung kepada Ahlul-Bait. Melainkan kepada imigran Yahudi dari Maroko.

Demikian, demi meruntuhkan tradisi maulid, Wahabi ngarang cerita untuk menyesatkan pandangan umat Islam yang merayakan Maulid Nabi Muhammad. [dutaislam.com/pin]

Keterangan:
Ditulis oleh Dafid Fuadi, diolah dan diedit ulang tanpa menghilangkan substasi isi oleh Redaksi DutaIslam.com

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini