Kamis, 23 November 2017

Mimpi Ishlah Felix Siauw dengan GP Ansor


Oleh Ayik Heriansyah

DutaIslam.Com - Mimpi ishlah antara Felix Siauw (FS) dengan GP Ansor dalam waktu dekat mungkin masih terlalu jauh untuk jadi kenyataan. Dapat dimengerti jika sebagian orang memimpikan hal tersebut atas nama ukhuwah Islamiyah. Walaupun tidak sepenuhnya benar, alasan ukhuwah Islamiyah sebenarnya bukan masalah pokok konflik FS dengan GP. Ansor. Bagi GP Ansor jangankan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan basyariyah-pun mereka pegang erat. Jadi apa sesungguhnya inti permasalahan FS sehingga kehadirannya selalu ditolak GP. Ansor dan masyarakat. Lalu atas aspirasi GP. Ansor dan masyarakat, Polisi membubarkan beberapa acara dakwah FS. Adapun opini yang mengatakan Banser membubarkan pengajian, tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Ini bentuk penyesatan opini yang tidak sehat bagi upaya merekatkan ukhuwah Islamiyah.

Proses FS menjadi kader HTI militan beriringan dengan proses keislamannya. Beliau sebelumnya beragama Katolik. Sekolah dari dari SD sampai SMA di sekolah Katolik di Palembang. Ketika kuliah di IPB, Beliau mendapat hidayah masuk Islam setelah diskusi panjang dengan mahasiswa IPB anggota HTI yang bernama M. Fatih Karim. Boleh dikatakan M. Fatih Karim ini musyrif (pembimbing) FS yang pertama. Kalau masuk Islam itu diibaratkan kelahiran kembali seorang anak manusia, maka FS sejak lahir sudah HTI, mirip kebanyakan anggota GP. Ansor yang sejak lahir sudah NU.

Di HTI sendiri, FS bukan termasuk di jajaran pengurus elit. Kebetulan Beliau  syabab HTI yang jadi figur publik. Kelebihan Beliau bisa memberi training motivasi kepada pelajar dan mahasiswa. Waktu masih belum setenar sekarang, saya sebagai ketua HTI Babel (2004-2010), beberapa kali mengajak FS mengisi training di Babel. Namanya melejit setelah menulis buku tentang Sultan Muhammad al-Fatih penakluk kota Konstantinopel. Persis seperti yang di-nubuwwah-kan oleh Nabi Muhammad Saw.

Maksud FS melalui buku itu, ingin menunjukkan keshahihan sistem Khilafah yang sedang Beliau perjuangkan bersama teman-teman HTI-nya. Padahal Muhammad al-Fatih sendiri seorang Sultan bukan Khalifah. Saat Konstantinopel ditaklukkan tahun 1453, status pemerintahan Utsmaniyah masih kesultanan, baru pada masa kepemimpinan Salim I (1512-1519) Utsmaniyah berubah menjadi Khilafah setelah Sultan Salim I berhasil menaklukkan pemerintahan Safawi di Iran bagian Utara dan Barat kemudian menundukkan Kesultanan Mamluk di Mesir pada tahun 1517. Kekhalifahan Utsmaniyah jadi sempurna dengan bergabungnya penguasa Hijjaz ke dalam pemerintahan Salim I.  Perubahan status pemerintahan Utsmaniyah dari kesultanan menjadi kekhalifahan terjadi 64 tahun setelah penaklukan Konstantinopel.

Terlepas dari ketidakakuratan persepsi sejarah yang ingin dibentuk, FS makin popular. Beliau jadi idola baru para remaja shalih dan shalihah. Kepopulerannya ditunjang oleh pembawaannya yang santai, supel dan gak jaim. Beberapa kali beliau diundang stasiun televisi. Tampil bareng ulama, ustadz dan tokoh kondang nasional. FS sendiri kemudian menjadi tokoh muda nasional. Bersama teman-teman kuliahnya di IPB dulu, dia membentuk komunitas YukNgaji. Komunitas kaum pelajar dan mahasiswa yang ingin belajar agama Islam. Tentu saja, sebagai kader HTI, FS mengarahkan komunitas YukNgaji menjadi sarana rekrutmen simpatisan HTI yang nantinya bermuara kepada rekrutmen calon anggota lalu menjadi anggota HTI.  Pada tataran teknis, aktivitas dakwah FS bersifat individu, namun secara strategis tetap dalam lingkup grand design HTI.

Fenomena dakwah FS umpama gunung es. Yang terlihat dipermukaan figur FS, di dalamnya ada organisasi HTI. Bagi kalangan pergerakan Islam, fenomena gunung es bukan barang baru. Mendeteksi apa, siapa dan bagaimana keadaan di bawah permukaan gunung es, bisa diprediksi. GP Ansor organisasi pemuda yang sudah lumayan sepuh eksis di negeri ini sejak Indonesia belum merdeka. Pengalaman GP Ansor di dunia pergerakan tidak perlu diragukan lagi. Sebab itu membaca pola dakwah FS dan gerakan HTI yang membelakanginya perkara yang mudah. FS dan Jubir HTI mau bersilat lidah bagaimanapun, pasti ketahuan benang merahnya. Jadi antara GP Ansor dan FS sebenarnya sudah tahu sama tahu.

Bagi GP Ansor, boleh beda pendapat, beda partai, beda ormas, beda ijtihad tapi kalau soal NKRI itu sudah final. NKRI tidak boleh dipermasalahkan lagi keabsahannya. Berdasarkan dalil-dalil syar’i yang digali ulama NU, NKRI termasuk negara Islam (Darul Islam) meskipun tidak seideal negara Khilafah yang dipimpin Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. NKRI sudah Khilafah tidak perlu di-khilafah-kan lagi. Artinya, selain masalah NKRI, GP Ansor sangat menghormati pendapat, partai, ormas, ijtihad bahkan agama lain. Sikap toleransi GP. Ansor tidak perlu diragukan. Fakta menunjukkan tidak ada pengajian yang dibubarkan oleh GP. Ansor dan Banser.

Di sisi lain, FS sebagai anggota HTI wajib mengadopsi (tabanni) pendapat, pemikiran dan konstitusi negara Khilafah yang disusun oleh Amir Hizbut Tahrir walaupun bertentangan dengan pendapat pribadinya. Ini sumpah yang FS ucapkan ketika menjadi anggota Hizbut Tahrir. Seorang anggota Hizbut Tahrir dilarang mengucapkan perkataan dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan pendapat, pemikiran dan konstitusi Hizbut Tahrir. Jika melanggar, dianggap telah keluar dari Hizbut Tahrir secara alami dan maknawiyah walaupun secara administrasi  masih tercatat sebagai anggota.

Karena itu berat bagi FS untuk memenuhi permintaan GP. Ansor menandatangani pernyataan untuk mengakui Pancasila sebagai ideologi negara. HTI mengadopsi pendapat bahwa ideologi negara adalah Islam, Islam menurut pemahaman madzhab mereka. Meminta FS menyatakan tidak akan mendakwahkan Khilafah dan mengaku telah keluar dari HTI tentu saja bertolak belakang dengan keberadaannya di HTI. Menandatangi surat pernyataan demikian bagi FS samalah artinya dengan keluar dari Hizbut Tahrir dan bunuh diri politik. Karir dakwah FS tamat seketika jika menandatangani pernyataan yang diajukan oleh GP. Ansor.

Penolakan FS menantangani surat pernyataan yang diajukan GP. Ansor secara tersirat  membuktikan bahwa FS sampai sekarang masih sebagai anggota HTI yang tidak mengakui Pancasila sebagai ideologi negara yang sah dan tetap akan berjuang mendirikan Khilafah. Metode pembuktian yang  jitu yang dilakukan oleh GP. Ansor.

Ibarat mempertemukan dua ujung benang, FS dan GP. Ansor hampir tidak mungkin ishlah. Bagi FS, Khilafah persoalan hidup mati sedangkan bagi GP. Ansor NKRI harga mati. Perbedaan antara FS dan GP. Ansor berada pada level eksistensial. Kompromi dan toleransi tidak bisa diterapkan pada kondisi seperti ini. Hanya penegasian yang bisa menyudahi konflik eksistensial. Merasa di pihak yang lemah, FS berharap GP. Ansor bersikap toleran maksudnya membiar dakwahnya. Tapi bagi GP. Ansor tidak mungkin membiarkan orang melakukan kegiatan untuk menghancurkan NKRI yang kemudian di atasnya di bangun negara Khilafah.

Akhirnya pertanyaan harus dibalik; Bersediakah FS membiarkan NKRI tetap tegak? Bersediakan FS membiarkan Pancasila sebagai ideologi negara? Bersediakah FS membiarkan UUD 1945 jadi konstitusi Indonesia? Bersediakah FS membiarkan demokrasi Pancasila sebagai sistem politik? Bersediakan FS membiarkan wilayah NKRI tetap dari Sabang sampai Merauke? Jika bersedia, mari bersama-sama membangun NKRI menjadi negara yang kuat, adil, makmur dan sejahtera. Mungkin dengan begini masalahnya akan selesai. [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini