Jumat, 03 November 2017

Kisah Tamu Sederhana Dekat dan Cinta Kepada Allah

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com – Sebuah kisah tamu sederhana. Dia Kang Sobar yang menemui salah satu pengurus masjid di salah satu kampung.

”Assalamu 'alaikum,” sapa Kang Sobar ketika sampai di depan pintu rumah pengurus masjid‎.‎

Salamnya dijawab pengurus masjid yang sebenarnya tidak mengenalnya sama sekali.

"Anda siapa?" tanya pengurus masjid. ‎

"Saya Sobari," katanya dengan wajah diliput senyum. ‎

"Bapak pengurus Masjid?" ‎

“Ya, betul Pak. Ada apa ? Apa yang dapat saya bantu,“ kata pengurus masjid‎.

“Saya tadi melewati masjid yang sedang dibangun. Orang disekitar masjid meminta saya untuk menemui bapak,”

”Ada apa?"‎

“Saya ingin memberikan sedekah untuk penyelesaian pembangunan masjid,“ ucap Kang Sobar


Pengurus masjid memperhatikan penampilan Kang Sobar. Dalam pikirannya, tidak nampak dia memiliki kemampuan untuk bersedekah. Pengurus masjid melirik keluar, tidak nampak kendaraan diparkir. “Pasti orang ini datang dengan angkutan umum atau beca. Mungkin orang ini "sakit". Atau hanya ingin mempermainkan emosi saya,” gumamnya.

Sudah hampir empat tahun masjid di kampung itu memang tidak pernah selesai pembangunannya. Sebagai ketua, pengurus majsid sudah bosan mengajak masyarakat untuk berinfaq atau bersedekah. Tapi hasilnya hanya uang kecil yang terkumpul di dalam kotak amal.

Sementara kotak amal yang diletakkan disetiap sudut pasar atau rumah makan hanya menghasilkan uang tidak seberapa. Padahal masyarakat yang ada disekitar masjid ini terdiri dari para pedagang yang rata rata mempunyai omzet Rp 3 juta perhari.


“Bagaimana Pak? Kenapa bapak diam?" Kang Sobar membuyarkan lamunan pengurus masjid. ‎

“Eh, iya pak, ehm..berapa bapak mau sumbang?" tanyanya kemudian.


“Bolehkah saya tau berapa dana yang diperlukan untuk menyelesaikan masjidnya?” tanyanya dengan tenang.

Pertanyaan itu lagi lagi membuat pengurus masjid hilang hasrat bicara banyak dengan Kang Sobar.

“Dia pasti orang "sakit jiwa"” gumamnya lagi. Tapi apa boleh buat, semua harus dijawab meski Kang Sobar tanpak tidak meyakinkan. ‎


“Ya.. kita butuh dana sebesar Rp 500 juta “ jawab pengurus masjid. Pengurus masjid sebenarnya sangat berharap Kang Sobar cepat berlalu.


”Baik, pak. Besok kalau bapak ada waktu, saya tunggu di Pengadilan Agama. Saya akan memberikan sedekah dihadapan hakim Agama,” ucap Kang Sobat tenang. ”Jam berapa Bapak ada waktu ?” lanjutnya.


“Ya liat besok aja ya, pak” jawab pengurus masjid. Pengurus majsid berhapar Kang Sobar cepat berlalu karena dia harus memimpin sholat isya di masjid.

”Baiklah, Ini nomor telp rumah saya. Kalau bapak siap, hubungi saya,” katanya.

“Permisi saya pamit dulu. Rumah saya jauh," lanjutnya sambil berdiri dan berlalu.

Kang Sobar pergi. Pengurus masjid baru sadar kalau tamunya belum ia tawari minum.
Setelah shalat Isa, secara tidak sengaja pengurus masjid melontarkan cerita Kang Sobar kepada pengurus masjid lain. Tanggapan mereka sama. Kang Sobar dianggapnya stress dan tidak perlu dilayani. Ditambah, besok harinya semua pengurus punya banyak kesibukan dan yang tidak mungkin meluangkan waktu untuk datang ke Pengadilan Agama.

Esok hari tiba. Salah satu pengurus meminta pengurus masjid yang tadinya bertemu Kang Sobar menemaninya ke show room mobil. Dia hendak menebus indent kendaraan yang dipesannya sejak empat bulan lalu.

Lokasi showroom kebetulan tidak begitu jauh dari Kantor Pengadilan Agama. Dia pun menawarkannya untuk mampir ke Pengadilan. Pada saat yang sama, Kang Sobar dihubungi melalui nomer yang telah dimiliknya.

Dari balik telpon Kang Sobar langsung menyanggupi untuk datang. Berjanji jam 11 siang sudah sampai di Kantor Pengadilan Agama.


“Baiklah. Tapi saya tidak mau tunggu terlalu lama di kantor pengadilan itu. Lewat setengah jam anda tidak datang, saya akan pulang” ujar pengurus masjid tegas. Pengurus masjid masih dalam keraguan.


“Insya Allah,” jawab Kang Sobar. ‎

Tepat jam 11 pengurus majisd sudah datang ke pengadilan Agama. Kang Sobar belum juga datang. Lewat beberapa menit dia baru tiba dengan menumpang becak. Bersama becaknya, Kang sobar masuk langsung kedalam halaman Pengadilan Agama. Bajunya sangat sederhana.

Teman pengurus masjid yang melihat pemandangan itu  langsung tersenyum kecut. Bagaimana mungkin dia bisa menutup kekurangan pembangunan masjid

“Mungkin kita yang gila. Mau-maunya nungguin dia.Tapi ya sudahlah, kita liat aja," gerutunya.


“Ya , Bagaimana Pak. Apakah bapak sudah bawa uangnya?“ tanya teman pengurus masjid langsung ke pokok persoalan.‎


“Ini, uangnya” kata Kang Sobar. Sambil memperlihatkan kantong semen di tangannya.

"Mari kita menemui petugas untuk membuat akta penyerahan sumbangan ini. Maaf, bukan saya tidak percaya tapi ini perlu sebagaimama ajaran Al-Quran menyebutkan bahwa segala sesuatunya harus tertulis,“ katanya.

Sambil melangkah kedalam mereka menemui petugas pengadilan. Tanpa banyak kata, orang ini langsung menyerahkan tumpukan uang di hadapan petugas pengadilan. Petugas menghitungnya. Jumlahnya Rp 500 juta..!‎

Petugas kemudian menyerahkan formulir untuk mereka. Setelah tandatangani uang pun pindah ke tangan pengurus masjid.

"Pak, Cukuplah Bapak-Bapak sebagai panitia dan Pak Hakim yang mengetahuinya. Saya menyumbang karena Allah...” uapa Kang Sobar.

Melihat situasi yang di luar dugaan pengurus masjid dan temannya timbul rasa malu dan rendah di hadapan Kang Sobar. Ternyata kang Sobar yang dinilainya gila menunjukan kemuliaannya.

”Maaf,  Mengapa bapak ikhlas menyumbang uang sebanyak ini. Sementara saya lihat bapak, maaf, terlihat sangat sederhana. Mobil pun bapak tidak punya,” kata teman pengurus masjid.


"Saya merasa sangat kaya. Karena Allah memberikan saya qalbu yang dapat memahami ayat-ayat Alquran. Cobalah anda bayangkan. Bila uang itu saya belikan kendaraan mewah, maka manfaatnya hanya seusia kendaraan itu. Bila saya membangun rumah megah maka nikmatnya hanya untuk dipandang,”

”Tapi bila saya gunakan harta untuk saya sedekahkan di jalan Allah demi kepentingan Ummat, maka manfaatnya tidak akan pernah habis,” ucap Kang Sobar.


“Apa pekerjaan Bapak?” tanya teman pengurus masjid.

“Saya petani Kopi. Alhamdulillah dari hasil kebun Kopi , lima anak saya semua sudah menjadi sarjana dan sekarang mereka sukses dan hidup sejahtera. Lima limanya sudah berkeluarga. Alhamdulillah, semua Anak dan mantu saya sudah menunaikan haji,” katanya.


“Bapak memang sangat beruntung. Apa resepnya hingga bapak dapat mendidik anak yang sholeh?”


”Resepnya, dekatlah kepada Allah. Cintailah Allah. Cintailah semua yang diamanahkannya kepada kita. Dan berkorbanlah untuk itu. Bukankah anak, istri, lingkungan dan syiar agama adalah amanah Allah kepada kita semua. Bila kita sudah mencintai Allah dengan hati, dan dibuktikan dengan perbuatan maka selanjutnya hidup kita akan dijamin oleh Allah. Apakah ada yang paling bernilai didunia ini dibanding kecintaan Allah kepada kita,“ katanya

Dia pamit dan berlalu dengan menumpang becak. Sementara pengurus masjid dan temannya tercekat dan tak mampu berkata-kata. Dia kemudian pergi tapi tak berani mendahului becak yang ditumpangi Kang Sobar.

Pengurus masjid merasa malu dengan kerendahan diri saya di hadapan Kang Sobar. Kang Sobar dinilainya tawadu namun ikhlas berjuang karena Allah. Dia juga merasa bahwa penghasilannya lebih besar dirinya dibanding Kang Sobar, tapi belum bisa seikhlas Kang Sobar.

Hikmah Cerita

1. Kita harus selalu sadar bahwa kita manusia yang tidak punya kekuatan apa-apa dibanding kekuatan Allah. Hendaknya apa yang kita miliki dipergunakan sebagaimana mestinya sesuai kehendak Allah

2. Jangan terlalu memandang rendah orang lain karena boleh jadi dia lebih tinggi derajatnya dari pada kita

3. Sebisa mungkin kalau bersedekah tidak pamer yang menimbulkan sifat riya'

4. Kunci sukses tak memulu karena kerja keras. Tapi karena kesuksesan yang sedikit namun terus disyukuri dan dipergunakan sebaik-baiknya. Kesuksesan itupun terus bertambah.

5. Selalu berdekat-dekatlah dengan Allah. Baik melalui ibadah yang sudah diajarkan atau menggunakan pemberian Allah untuk hal yang positif.

Demikian cerita Kang Sobar dan Pengurus Masjid. Semoga kita bisa mengambil manfaat. Amin. [dutaislam.com/IrwantoRusli/pin]


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini