Selasa, 14 November 2017

Ketika Peci Soekarno Diludahi untuk Dilelang

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Pada waktu itu menjelang Lebaran, Soekarno menemui mantan Menteri Luar Negeri Roeslan Abdoelgani untuk utang uang. “Cak, tilpuno Anang Tayib. Kondo-o nek aku gak duwe duwik (Cak, teleponkan Anang Tayib. Kasih tau bahwa aku tak punya uang),” kata Soekarno.  Anang adalah keponakan Roeslan, tinggal di Gresik, pengusaha peci merk Kuda Mas yang sering dikenakan Soekarno.

“Beri aku satu peci bekasmu. Saya akan lelang,” kata Roeslan Abdoelgani. 
“Bisa laku berapa, Cak?” tanya Soekarno.
“Wis tah, serahno ae soal iku nang aku. Sing penting rak beres tah (Sudahlah, serahkan saja soal itu pada saya. Yang penting ‘kan beres)” jawab Roeslan.

Roeslan lalu menyerahkan kepada Anang satu peci yang bekas dipakai Soekarno.  Roeslan kaget karena jumlah peserta lelang begitu banyak, semuanya pengusaha asal Gresik dan Surabaya. Tapi yang membuatnya sangat terkejut ternyata Anang melelang tiga peci.

“Saudara-saudara,” kata Anang. “Sebenarnya  hanya satu peci yang pernah dipakai Bung Karno. Tetapi saya tidak tau lagi mana yang asli. Yang penting ikhlas atau tidak?”
“Ikhlas!!!” seru para peserta lelang.
“Alhamdulillah,” sahut Anang.

Dalam waktu singkat terkumpul uang sepuluh juta rupiah. Semua uang itu segera diserahkan Anang kepada Roeslan.

“Asline rak siji se (Yang asli ‘kan satu)” kata Roeslan.
“Ya. Sebenarnya dua peci lainnya akan saya berikan untuk Bung Karno,” kata Anang.

“Tapi kedua peci itu jelek.”
“Memang sengaja saya buat jelek. Saya ludahi, saya basahi, saya kasih minyak, supaya kelihatan bekas dipakai.”

“Kurang ajar kamu, Nang. Kamu menipu banyak orang.”
“Kalau ndak begitu mana mungkin bisa dapat banyak uang.”
Roeslan kemudian menyerahkan semua uang hasil lelang kepada Soekarno.

“Cak, kok banyak banget uangnya,” kata Soekarno kaget.
“Itu semua akal-akalan Anang, “ kata Roeslan. Ia menceritakan bagaimana cara Anang menggandakan peci.

“Kurang ajar Anang. Kalau begitu yang berdosa saya atau Anang?” tanya Soekarno.
“Anang.” jawab Roeslan.”Uang begitu banyak akan dipakai untuk apa?”
“Untuk zakat fitrahku. Bawalah semua uang ini ke makam Sunan Giri. Bagikan untuk orang melarat di sana,” jawab Soekarno.

“Kenapa tidak diserahkan ke pengurus mesjid saja?” tanya Roeslan.
Soekarno menjawab: “Jangan. Banyak pengurus mesjid yang korupsi.” [dutaislam.com/gg]

Dikutip dari buku ‘Suka Duka Fatmawati Sukarno Seperti Diceritakan kepada Kadjat Adrai’
Source: benangmerahdasi.com

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini