Selasa, 28 November 2017

Ketakdziman K. Abdul Karim dan Alasan Tak Suka Sebut Rujukan Dhamir Secara Gamblang

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Banyak kiai terdadulu menjadi alim bukan semata-mata karena belajarnya yang sangat luar biasa. Lebih dari itu karena penghormatan kepada duru yang amat tinggi. Kiai Abdul Karim Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo adalah contohnya ketika nyantri kepada KH. Kholil Bangkalan.

Semasa mengaji kepada Syaikhina Kholil, Kiai Abdul Karim dikenal sebagai murid yang sangat ta’dhim dan khidmah kepada gurunya.

Dikisahkan, suatu hari mbah Abdul Karim muda bekerja memanen padi di sawah milik warga kampung sekitar pesantren. Dari sana beliau mendapatkan upah berupa beberapa ikat padi yang bakal digunakan untuk biaya hidup di Pesantren. Namun, sesampainya di kediaman sang guru (Mbah Kholil), mbah Kholil justru meminta padi itu untuk diberikan kepada ayam-ayamnya.

Karena dawuh sang guru, KH. Abdul Karim langsung menyerahkan padinya. Ia didawuhi mbah Kholil, selama mondok cukup memakan daun pace (mengkudu).

Sampai waktunya, beliau diijinkan sang guru untuk pulang karena semua ilmu Mbah Kholil telah diwariskan kepadanya. Sesampai di kampung halaman, mbah Abdul Karim mulai merintis Majlis Ta’lim hingga akhirnya berdirilah Pondok Pesantren Lirboyo. Mbah Abdul Karim mengajarkan ilmu dari kedalaman samudera ilmu Mbah Kholil.
Pasrah Bongkokan Pada Ajaranya Guru

Satu hal yang unik setiap membacakan (mengajar) kitab di depan para santri, mbah Abdul Karim tidak pernah menyebutkan ruju’nya secara gamblang. Beliau menyebutkan dengan ‘iku mau’ atau ‘mengkono mau’ (yang tadi atau “sebagaimana tadi”). Tentu ini membingungkan bagi para santri baru. Hingga pernah suatu ketika pada saat pengajian bulan Ramadhan atau dikenal dengan istilah ‘posonan’, seorang santri dari luar daerah mengikuti pengajian Mbah Abdul Karim.

Karena setiap mengajar kitab, Mbah Abdul Karim jarang menjelaskan ruju’annya, santri baru ini ‘nggerundel’; “Ini bagaimana, katanya seorang kyai ‘alim, kok setiap ada ruju’an tidak pernah dijelaskan?”, gumamnya dalam hati.

Dengan izin Allah, mbah Abdul Karim mengetahui perihal keluhan sang santri. Di tengah suasana mengaji, mbah Abdul Karim dhawuh; “Laa ya’rifu al dhomir illa al dhomir, fa man lam ya’rif al dhomir fa laisa lahu al dhomir” (tidak akan pernah mengetahui makna dhomir kecuali hati (dhomir). Maka apabila seseorang tidak mengetahui dhomir itu artinya dia tidak punya hati).

Lalu beliau menjelaskan kepada para santri, bahwa demikianlah (dengan tidak menjelaskan ruju’nya dhomir) pengajian yang diajarkan oleh gurunya, Mbah Kholil. Sehingga ketika mengajar kepada santrinya, Mbah Abdul Karim tidak berani mengubah apa yang diajarkan sang guru kepadanya. [dutaislam.com/ed/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini