Jumat, 10 November 2017

Kenapa Sejarah Fatwa dan Resolusi Jihad Belum Lama Terungkap? Karena Sekolah Didikan Belanda!

Foto: NU Online
DutaIslam.Com - "Para penulis sejarah pertempuran 10 November, sebelumnya, tidak ada yang mengakui bahwa fatwa dan resolusi jihad KH Hasyim Asy'ari pernah ada." Demikian dikatakan Kiai Agus Sunyoto saat bedah buku Fatwa dan Resolusi Jihad, di Ponpes Lirboyo, Jum'at (03/11/2017).

Dikatakan Kiai Agus, buku Fatwa dan Resolusi Jihad karyanya merupakan buku pertama yang membahas tentang fatwa dan resolusi jihad KH Hasyim Asy'ari. Dirinya menyontohkan, seperti tulisanya Prof Ruslan Abdul Ghani, yang ikut terlibat tidak ada menyebutkan fatwa dan resolusi jihad pernah ada. Selain itu, laporan tulisan Mayor Jendral Sungkono juga tidak menyebutnya.

"Jadi semua buku yang bercerita tentang pristiwa brsejarah hari pahlawan tidak menyinggung pernah ada fatwa & resolusi jihad NU," ungkap Kiai Agus.

Bahkan sampai tahun 2014 kemarin, lanjutnya, di Perguruan Tinggi Negeri besar di Jakarta, diadakan seminar nasional tentang perjuangan menegakkan Negara Republik Indonesia. Para doctor, professor dan ahli sejarah yang ada di situ sepakat mengatakan, 'di antara elemen bangsa Indonesia, yang tidak memiliki peran dan andil dlm usaha kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia itu hanya golongan pesantren hususnya NU'. "Kesimpulanya begitu," tegas Kiai Agus.

Menurutnya, dari banyak aspek, sejarahnya tokoh-tokoh ulama’ dari pesantren dihilangkan. Data-data tentang itu ditutupi semua supaya tidak ada yang tahu bahwa pesantren pernah berjasa.

Oleh sebab itu, dirinya sejak November 2015 mulai menyusun buku Fatwa dan Resolusi Jihad. "Saya susun, saya kumpulkan data. Waktu saya jadi wartawan jawa pos tahun 85 itu dapat tugas macem-macem, mewancarai tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa 10 November, dalam peristiwa pemberontakan di madiun. Dari situ saya mendapat informasi bahwa fatwa jihad memang ada tapi tidak perlu diakui. Ya, ada usaha seperti itu. Menutupi sejarah Indonesia yang sebenarnya," jelasnya.

"Kenapa ini terjadi?," tanya Kiai Agus. Dijawabnya olehnya sendiri, "karena orang-orang sekolah didikan belanda itu, menjadi penguasa Negara republik Indonesia sejak dibentuk tahun 45. Yang ngisi itu semua mayoritas orang-orang didikan sekolah belanda dan mereka yang menyusun sejarah. Mereka yang menyusun tata aturan bagi masyarakat Indonesia."

Kelompok sarjana ini, didikan belanda ini, lanjutnya, menggambarkan bangsa Indonesia setelah merdeka terdiri dari 3 lapisan golongan. Golongan atas, golongan menengah dan golongan bawah.

"Dalam pandangan mereka, orang-orang sekolah didikan belanda, Indonesia lapisan atas, kalangan elit, politik tinggi, adalah golongan orang-orang cerdas, orang-orang pinter yang punya latar belakang pendidikan tinggi. Yang mereka maksud latar belakang pendidikan itu adalah sekolah. Jadi.. wong pinter.. seng sekolah tinggi… ini menduduki lapisan atas. Elit politik, elit ekonomi, yang nguasai Negara harus wong pintar-pintar ini," jelas Kiai Agus.

Dikatakannya, setelah itu golongan menengah. Yang disebut golongan menengah itu adalah golongan orang biasa tidak pinter, tidak cerdas, juga tidak bodoh. Tapi berpendidikan. Ini golongan menengah. Setelah itu golongan bawah. Yaitu golongan masyarakat bodoh. Yang tidak berpendidikan, tidak sekolah. Itu seluruh Indonesia, menurut pandangan orang-orang sekolah didikan belanda.

Lebih lanjut, Kiai Agus menjelaskan, menurut pandangan orang-orang didikan sekolah belanda, tiga lapisan ini dibagi dua. Artinya ada 6 kelompok disitu.

"Yang atas, orang cerdas yang berpendidikan tinggi. Kalo agamanya kuat pasti masyumi. Kalo agamanya lemah itu PSI, orang sosialis. Kalangan menengah, itu orang biasa tapi punya latar belakang pendidikan. Dibagi dua. Yang agamanya kuat pasti muhamadiyah. Yang lemah PNI, sekarang menjadi PDI-P. Setelah itu lapisan paling bawah. Orang-orang bodoh yg tidak berpendidikan. Nek agomone kuat NU. Nek agomone lemah PKI," beber Kiai Agus.

Itu sebabnya, Simpul Kiai Agus, kalangan atas ini merekayasa sejarah. Bagaimana kalangan bawah ini tidak memiliki peran apapun di Negara ini. Sekalipun faktanya tidak seperti itu. Mereka memanipulasi sejarah memutar balik sejarah.

"Dimana data ini ada di negeri Inggris, Belanda, dst. Dengan keyakinan, tidak mungkin orang pesantren mampu menembus ke dokumen ini, di negeri belanda, inggris, perancis atau dimana pun. Itulah mereka memutar balik fakta seperti itu," jelasnya.

Cerita ini mulanya didapatkan Kiai Agus dari Gus Dur pada tahun 1991, kemudian dikonfirmasikan dengan teman-temannya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Ternyata benar. Pandangan mereka seperti itu. Saya konfirmasikan dengan tokoh-tokoh senior, iya," tandas Kiai Agus. [dutaislam.com/gg]

InsyaAllah bersambung...

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini