Senin, 06 November 2017

Kelakuan Kaum Sawah: Kursus Bahasa Arab Diharamkan Karena Alasan Lemah Iman


DutaIslam.Com - Siap-siap saja Fakultas Bahasa Arab atau sastra Arab yang ada di Unnes, UGM, atau mungkin kampus lain, gulung tikar. Pasalnya, menurut fatwa umat sengketa, belajar bahasa Arab tidak boleh di sembarang tempat, -laiknya buang air besar-.

Jika ahlussunnah sangat terbuka terhadap bentuk pembelajaran liyan, bagi salafy wahabi (sawah) yang mengaku ahlussunnah (tapi wal jama'ah tidak mau), keterbukaan adalah sebentuk sistem yang membuat iman tidak bisa terselamatkan.

Hal itu tergambar dalam chatingan grup "Salafy Indonesia" yang dikirim anggota cyber Dutaislam.com kepada redaksi beberapa waktu lalu. Dalam chatingan tersebut, terlempar pertanyaan, "bolehkah belajar bahasa Arab di luar Salafiyyin, seperti tempat kursus bahasa Arab atau sejenisnya?"

Bagi mujawib ngawurnya, pertanyaan di atas diberikan jawaban "Haram". Mari tarji', innalillahi wa inna ilahi rooji'uuun. Betapa rigitnya mereka dalam memberikan jawaban dan buta sejarah. Bagaimana mereka akan menyangga peradaban dunia Islam jika belajar bahasa Arab saja harus dibatasi hanya kepada lembaga kursus milik mereka sendiri?

Alasan yang diutarakan sangat innalillah. Hukum haram kursus bahasa Arab di luar salafiyyun adalah karena para salaf sangat hati-hati terhadap bid'ah dan ahlinya. "Belajar bahasa Arab kepada selain salafy ahlussunnah akan merusak jiwa dan akal," begitu alasannya.

Lebih jauh, mereka memberikan penjelasan lanjut begini:

"Kendati Anda belajar bahasa Arab dan bukan ilmu din, tetapi ketahuilah bahwa syubhat itu menyambar-nyambar sedangkan hati ini lemah. Belajarlah bahasa Arab di tempat-tempat kursus Salafiyyin yang akan lebih menyelamatkan agama Anda. Allahu a'lam." Ini screenshoot yang dikirim kepada Dutaislam.com:

Kalau kursus Bahasa Arab dikapling Salafy Indonesia
Urusan bahasa Arab bisa-bisanya langsung merembet dan merembes soal lemahnya iman tanpa angin tanpa hujan. Apa mereka memang lemah iman hingga tidak berani bersosialisasi di luar golongan mereka seperti para teroris jahannam itu?

Atau, apakah selama ini kursus bahasa Arab mereka memang punya kebiasaan rasial politis, menggunakan kursusan untuk dijadikan kedok menyebarkan ideologi makar dan radikalisme? Kaum salafy ini paling pintar membuat lembaga kursus, ruqyah, atau seminar sebagai pintu masuk menyebarkan ideologi ekstrim.

Padahal, kita banyak tahu, mereka banyak kuliah di perguruan tinggi negeri yang tidak berideologi salafy ala mereka? Adakah kaum sawah yang murtad gara-gara belajar di kampus-kampus negeri? Lemah iman tapi suka mengafirkan, begitulah kelakuan mereka di dunia maya dan nyata hingga alam barzakhWallahu a'lam. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini