Kamis, 16 November 2017

Islam Nusantara Berkembang Pesat di Timteng, Tapi Ada yang Kian Terjepit?


Oleh Hysebastian

DutaIslam.Com - Emas semakin dibakar, semakin murni. Tradisi Islam Nusantara, semakin diejek, semakin bersinar. Itulah yang bisa saya katakan mengenai keadaan Islam Nusantara saat ini. Sampai sebelum Islam Nusantara diejek sebagai pendukung kaum kafir, jujur saja, saya tidak mengenal dengan jelas apa itu Islam Nusantara. Sempat terpikir di dalam benak saya, semua yang namanya Islam itu ya sangat teoritis, ajarannya ada beberapa macam.

Islam itu agama yang paling banyak dianut oleh orang Indonesia. Indonesia adalah negara yang paling banyak penduduk beragama Islam, bahkan lebih banyak dari orang-orang yang ada di Timur Tengah. Sepengetahuan saya, Islam adalah agama yang muncul pada abad ke-4. Alquran adalah kitab suci mereka.

Beberapa hadits yang ada pun dijadikan acuan bagi pengetahuan Islam. Penganut agama Islam disebut dengan muslimin dan muslimah. Saya tinggal di lingkungan NU, dengan Islam taat. Beberapa kali dalam sebulan, sering diadakan pengajian yang mengambil sebagian jalan di depan rumah, bukan karena arogan, namun memang karena banyak sekali orang-orang yang berminat untuk mengikuti acara ini. Sebagai manusia yang memiliki rasa dan hati, saya pun dengan senang hati menerima keberadaan mereka.

Harus diakui, citra Islam Nusantara yang dibawakan oleh NU, berbeda jauh dengan citra Islam yang selama ini dipertontonkan di televisi. Jauh sebelum kasus Ahok, saya pun tidak tahu bahwa ada sebutan Islam Nusantara. Ada beberapa rukun Islam yang harus dikerjakan, salah satunya adalah naik haji. Menurut pandangan dari beberapa rekan saya, ibadah naik haji itu tidak mutlak dilakukan, tergantung dari seberapa mampu. Terima kasih Pak De, dengan program pemerintah, orang-orang yang tidak mampu, dimungkinkan untuk naik haji.

Citra Islam Nusantara yang sarat dengan toleransi menjadi sebuah modal besar untuk membawakan pandangan bahwa “Islam bukanlah agama teroris, Islam adalah agama yang bisa relevan dengan sistem negara, tidak perlu dibentur-benturkan,” dan seterusnya. Maka izinkan saya, orang non-Muslim memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Islam Nusantara, yang berjuang bersama-sama dengan umat beragama di indonesia, untuk menjadikan negara ini layak dihidupi.

Bukan hanya negara ini, pesona Islam Nusantara pun merambah ke berbagai tempat. Di tengah-tengah gencarnya pemberitaan mengenai terorisme yang mengaitkan dengan Islam, Islam Indonesia malah menunjukkan hal sebaliknya. Garda terdepan yang mencolok, salah satunya adalah Banser NU, justru menunjukkan hal yang tidak terlalu favorit, yakni melindungi orang-orang yang dianggap minoritas.

Tahukah Anda bahwa ada kisah seorang Banser yang memeluk bom yang siap meledak di gereja? Tahukah Anda bawa ketika Natal, garda Banser melindungi umat Kristiani agar bisa tenang beribadah? Tahukah Anda ketika dua anak dipersekusi, Banser NU lah yang menjadi penengah dan melakukan mediasi? Inilah yang saya anggap tidak favorit diberitakan.

Maka demi nama keadilan, izinkan saya untuk menyanjung tinggi Islam Nusantara, dengan tegaknya Islam yang Rahmatan lil Alamin. Pesona Islam Nusantara ternyata merambah ke Timur Tengah dengan harian al-Arab yang rela menurunkan tulisan berjudul Islam Nusantara Madkhal Indonesia li Mujtama' Mutasamih. Artinya: Islam Nusantara adalah gerbang Indonesia menuju masyarakat toleran. Sepertinya semakin lama, Islam Nusantara akan merambah ke seluruh dunia, termasuk Arab, sehingga sepertinya ada yang akan kian terjepit. Siapakah mereka? Anieskah? Rizieq kah? Ah sudah lah.

Media yang berbahasa Arab tidak ketinggalan untuk mengetengahkan gerakan Islam Nusantara yang dianggap telah berhasil menghadapi paham dan kelompok-kelompok ekstremis yang kerap menggunakan jubah agama - Zuhairi Misrawi.

Islam Nusantara yang dianggap sebagai wajah baru untuk Islam dunia, menjadi sebuah primadona yang menawarkan semangat toleransi. Kyai Said Aqil Siradj, ketua umum PBNU menjelaskan dengan rinci apa saja karakter yang dimiliki oleh Islam Nusantara. Pertama, semangat keagamaan (al-ruh al-diniyyah). Kedua, semangat kebangsaan (al-ruh al-wathaniyyah). Ketiga, semangat kebinekaan (al-ruh al-ta’addudiyyah). Dan terakhir keempat, semangat kemanusiaan (al-ruh al-insaniyyah).

Said Aqil mengatakan dengan jelas bahwa keempat semangat ini menjadi pembeda antara Islam Nusantara yang lebih bersifat kultural dengan Islam Timur Tengah yang katanya cenderung bersifat politis.

Akhir kata, izinkan saya untuk memberikan apresiasi penuh kepada para kyai, pemuka agama, santri-santri, dan umat Islam yang berjuang untuk memberikan nuansa Islam Nusantara yang rahmatan lil alamin. Semoga kita tetap jaga terus kebinekaan, tidak hanya sebatas Indonesia, melainkan sampai menjadi pesona bagi dunia! [dutaislam.com/gg]

Source: Seword

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini