Minggu, 26 November 2017

Gus Yahya Menjawab Soal "Ndoro" yang Kemarin Ramai Diperbincangkan Itu

Foto: Istimewa
Oleh A. Amani

DutaIslam.Com - Kiai Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menjawab apa yang harus difungsikan Mbah Dhoro sebagai pemimpin umat. Bukan keliling ke luar negeri membesarkan namanya sebagai ahlu ilmi, namun membuat berbagai ikhtiar untuk menyelamatkan jutaan nyawa di negerinya jauh lebih penting. Dan NU dengan sekuat tenaga memfungsikan diri untuk membangun perdamian itu.

Seharusnya inilah yang harus dilakukan Mbah Ndoro di negerinya masing-masing di Afghanistan, Syuriah, Irak, ataupun Yaman dan lainnya. Mari kita pahami tulisan Gus Yahya berikut dalam akun facebook beliau baru-baru ini.

Membayar Hutang Kepada Syaikh Rabbani (Bagian Pertama)
Jakarta, tahun 2011. Kyai As'ad Said Ali, Wakil Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama waktu itu, membuat inisiatif yang belum pernah dilakukan siapa pun di seluruh dunia fana ini. Atas nama Nahdlatul Ulama, beliau mendekati para pemimpin dan pemuka kabilah-kabilah, suku-suku dan faksi-faksi yang saling bertempur di Afghanistan. Beliau meyakinkan mereka untuk datang ke Jakarta, dituanrumahi Nahdlatul Ulama, bicara tentang perdamaian. Tak kurang dari 30 kelompok mengirim pemuka-pemuka mereka, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Rabbani, mantan Presiden Afghanistan yang lengsernya karena dikudeta oleh Taliban.

Kyai As'ad merancang pertemuan itu bukan semata forum diskusi, tapi sungguh-sungguh media perundingan. Jelas bukan pembicaraan yang gampang. Maka beliau siapkan orang-orang yang bisa berperan sebagai katalisator. Antara lain adalah pendekar silat-lidah yang sekarang menjadi Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Saudi Arabia, Yang Mulia Agus Maftuh, pakar resolusi konflik, Kyai Dian Nafi', Kyai As'ad sendiri dan Kyai Ahmad Mustofa Bisri, Wakil Rais 'Aam waktu itu.

Tiga hari perdebatan alot. Kadang-kala macet karena ada yang walk-out yang lantas harus dibujuk ramai-ramai supaya mau balik ke meja perundingan. Tapi susah-payah dan kerja keras itu, berkat ketulusan semua orang dan pertolongan Tuhannya semua orang, berbuah hasil nyata. Mereka yang tadinya di Afghanistan sana saling tembak, akhirnya menyepakati komitmen bersama berupa kalusul-klausul yang nyata-nyata bisa menjadi titik-tolak perdamaian. Orang-orang yang saat pertama menginjakkan kaki di Jakarta tak sudi saling sapa, akhirnya saling berpelukan dengan senyum yang sudut-sudutnya dihiasi cucuran air mata. Syukur dan haru.

Bagi tokoh-tokoh Afghanistan itu, memperjuangkan perdamaian bukanlah tamasya petualangan yang menyenangkan. Mereka tahu, nyawa mereka taruhannya. Selain rakyat banyak yang akan bahagia dengan perdamaian, ada juragan-juragan perang yang akan rugi kalau perang berhenti, yang tak pernah dan tak akan perduli harus menyembelih siapa memakan siapa menghancurkan siapa demi menambal kerugian mereka. Para pejuang perdamaian itu adalah pemberani-pemberani yang punya cinta sejati untuk kaumnya.

Benar saja. Syaikh Burhanuddin Rabbani yang menjadi tokoh utama perjuangan perdamaian itu, harus membayar taruhan paling dulu. Taliban mengirim orang untuk datang kepadanya dengan bom tersembunyi didalam ikatan sorban. Orang itu memeluk Syaikh Rabbani seolah sahabat yang penuh cinta, hanya untuk meledakkannya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala memetik seorang syahid. Seorang Syaikh Rabbani yang telah begitu murah hati menghutangkan keberaniannya kepada Afghanistan. Dan kepada Nahdlatul Ulama.

Membayar Hutang Kepada Syaikh Rabbani (Bagian Kedua)
Syahidnya Syaikh Rabbani adalah tanggungan (dzimmah) atas Nahdlatul Ulama. Beliau terbunuh karena keterlibatan beliau dalam inisiatif yang dibuat oleh Nahdlatul Ulama. Dan beliau terlibat karena diminta oleh Nahdlatul Ulama.

Nahdlatul Ulama berhutang nyawa kepada Syaikh Rabbani!
Tapi NU tahu, tidak ada yang lebih diimpikan oleh Syaikh Rabbani selain perdamaian dan keselamatan rakyat Afghanistan yang teramat beliau cintai, demi siapa beliau rela mempertaruhkan nyawa. Maka Kyai As'ad Said Ali pun tidak berhenti menempuh ikhtiar menuju terwujudnya impian Syaikh Rabbani itu. Kyai As'ad melanjutkan hubungan intensif dengan para pemimpin Afghanistan, terutama ulama-ulama mereka.

Kyai As'ad juga mengatur suatu kegiatan berkala yang rutin berupa pertukaran kunjungan antara ulama Afghanistan dan ulama NU, sekurang-kurangnya setahun sekali. Hingga kini, walaupun beliau tidak lagi menduduki jabatan apa pun di PBNU, beliau tidak berhenti mengatur dan memfasilitasi kunjungan wakil PBNU ke Afghanistan. Yang terakhir, beberapa bulan yang lalu, Kyai Abdul Ghofur Maimoen yang dikirim kesana. Semua atas biaya dari Kyai As'ad. Dirogoh dari kantong pribadi beliau sendiri!

Keperdulian Kyai As'ad kepada Afghanistan tidak bertepuk sebelah tangan. Para ulama Afghanistan melihat secercah cahaya diujung lorong gelap yang panjang. Dan mereka menyambutnya dengan gairah harapan yang menyala-nyala dan dengan keyakinan yang mengkristal akan rahmat yang dibawa oleh Nahdlatul Ulama! Pada 25 Juni 2014, mereka menyatukan tekad diantara mereka dan mendeklarasikan organisasi baru wadah persatuan mereka, yang diberi nama: NAHDLATUL ULAMA AFGHANISTAN!

Dengan organisasi itu, mereka melanjutkan perjuangan untuk perdamaian. Demi masa depan umat mereka, rakyat Afghanistan yang mereka cintai hingga ke sumsum tulang. Amanat keulamaan mereka. Dan mereka terus berbesar hati bahwa Nahdlatul Ulama yang ada di Indonesia tidak akan pernah berhenti mendukung mereka dan menyediakan apa pun yang mampu disediakan untuk membantu mereka. Tidak akan berhenti selamanya. Tidak, selama masih ada Kyai As'ad Said Ali, dan orang-orang yang berbagi kasih-sayang dengannya. Orang-orang yang memahami hutang Nahdlatul Ulama kepada Syaikh Rabbani!

Lebih dari itu, Syaikh Burhanuddin Rabbani dibunuh dengan tanpa haqq. Membunuh satu nyawa dengan tanpa haqq sama halnya membunuh manusia seluruhnya. Maka nyawa Syaikh Rabbani senilai nyawa seluruh umat manusia. Nahdlatul Ulama berhutang kepada Syaikh Rabbani bukan hanya nyawa beliau sendiri saja, tapi keselamatan seluruh ummat manusia!

Maka, dengan bertawakkal kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Nahdlatul Ulama bertekad untuk melunasi hutang itu sebaik-baiknya. Nahdlatul Ulama mengerti bahwa Afghanistan hanyalah cuwilan kecil dari bencana raksasa yang menimpa seluruh peradaban umat manusia hari ini. Yaitu konflik dan antagonisme yang mengatasnamakan segala yang agung bagi manusia, termasuk agama, justru untuk membunuh belas-kasih dan tepa-selira kepada sesama.
Nahdlatul Ulama tidak berhenti hanya dengan Afghanistan saja.

****
Dengan keterangan Gus Yahya ini kita menjadi paham apa yang dikehendaki Gus Yahya soal status beliau tentang "Ndoro" yang kemarin-kemarin itu sempat membuat "gaduh" dunia maya. Gus Yahya barangkali masih melanjutkan penjelasannya sebab pada bagian kedua di atas, pada status beliau masih bertuliskan "bersambung". Kami tunggu Gus.. Semoga kita tidak menjadi Muslim yang gampang su'u dzon tanpa melihat persoalan lebih jeli lagi. [dutaislam.com/gg]

Opini A. Amani, PC GP Ansor Karanganyar, dalam memperhatikan status Gus Yahya, dan diedit seperlunya oleh Admin Dutaislam.com

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini