Selasa, 14 November 2017

Generasi Baru Ibnu Muljam, Ketika Qur’an Jadi Dasar “Menghunus Pedang”

Propaganda Isis memenggal korban. Foto: Istimewa
DutaIslam.Com – Sejarah telah mencatat sekelompok orang yang menggunakan ayat-ayat Al Qur’an untuk tindak kekerasan bahkan pmembunuh saudaranya sesama Muslim. Mereka adalah kelompok khawarij yang menentang keras Sayyidina Ali bin Abi Thalib sejak peristiwa tahkim dengan Muawiyah bin Abi Sofyan.

Peritiwa tahkim menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan umat Islam saat itu yang akhirnya menimbulkan perpecahan. Tak lama setelah itu, Sayyidina Ali pun dibunuh karena dinilai tidak menegakkan hukum Allah.

Itulah kebodohan dan kesesatan orang Khowarij yang saat ini masih ngetrend ditiru oleh sebagian umat Muslim di beberapa belahan dunia tak terkecuali Indonesia. Mereka menggunakan ayat Al Qur’an untuk melegalkan tindakannya. Bahkan dengan angkuh mengancam perang, tak khawatir terjadinya pertumpahan darah saudaranya.

Sungguh, orang yang demikian ini tidak jauh berbeda dengan Ibnu Muljam, pencabut nyawa Sayyidina Ali sang kholifah. Saat melakukan aksinya, Ibnu Muljam tidak berhenti membaca Surat Al Baqarah ayat 207:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridloan Alloh; dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Sebagai hukuman atas kejahatannya, Ibnu Muljam kemudian dieksekusi mati dengan cara qishos. Proses hukuman mati untuk Ibnu Muljam berlangsung dengan penuh dramatis. Begitu tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya, Ibnu Muljam masih sempat berpesan kepada algojo:

“Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Alloh.”

Ibnu Muljam meyakini sepenuh hati bahwa aksinya membunuh suami Sayyidah Fathimah, sepupu Rosululloh, dan ayah dari Sayyid Al-Hasan dan Al-Husein, adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah. Seorang ahli surga Kholifah Ali  meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya di jalan kebenaran.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam era sekarang. Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam giat memprovokasikan berjihad di jalan Allah dengan cara perang bahkan membunuh nyawa sesama kaum muslimin.

Siapa Ibnu Muljam? Dia adalah lelaki sholih, zahid, dan bertakwa kepada Allah. Dia mendapat julukan Al-Muqri’. Dia seorang hafidz sekaligus orang yang mendorong sesama muslim untuk menghafalkan kitab suci Al Qur’an.

Khalifah Umar bin Khattab pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash mengajarkan hafalan Al Quran. Khalifah Umar bahkan menyatakan:

“Abdurrohman bin Muljam salah seorang ahli Al Quran yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Quran kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar.

Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah, semua tidak bermanfaat baginya. Dia mati dalam kondisi su’ul khotimah, tak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya. Afiliasinya kepada sekte Khawarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit.

Ibnu mengklaim surga Allah dengan sangat tergesa-gesa dan dangkal. Diapun dengan sembrono melakukan aksi bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Betapa menyedihkan, karena aksi itu diklaim karena membela agama Allah dan Rasulullah.
Sadarkah Kita

Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam. Mereka bergerak secara massif dan terstruktur. Mereka adalah kalangan shaleh yang menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Allah dengan mengkafirkan sesama muslim.

Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda. Mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, dengan enteng menyesatkan kiai dan ulama. Raut wajah mereka memancarkan kesalehan yang bahkan tampak pada bekas sujud di dahi.
Mereka senantiasa membaca Alquran di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi. Sebab, Rasulullah dalam salah satu hadisnya telah meramal kelahiran generasi Ibnu Muljam ini:

"Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al Quran dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka,  mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya" (Shohih Muslim, hadits No.1068)

Kebodohan mengakibatkan orang seperti mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam. Sementara hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin. [dutaislam.com/ed/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini