Selasa, 21 November 2017

Di Suatu Ketika, Rasulullah pun Ikut Menangis

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Suatu ketika Rasulullah saw pulang dalam keadaan sangat letih dari medan dakwah. Ketika hendak masuk rumah, Khadijah biasanya menyambut beliau berdiri di depan pintu.
Ketika Khadijah hendak berdiri menyambut Suami tercintanya, berkata Rasulullah, “Wahai Khadijah, tetaplah di tempatmu.” Khadijah saat itu sedang menyusui Fatimah, putrinya yang masih bayi.

Rasulullah faham dengan kesetiaan Khadijah, Rasulullah takjub dengan pengorbanan Khadijah. Meskipun dalam keadaan lelah menjaga rumah tangganya, mekipun dalam keadaan letih dalam memelihara anaknya, Khadijah masih sempat menunjukkan kesetiannya walau dengan hal yang sederhana. Bahkan seluruh harta bendanya diberikan kepada Nabi demi perjuangan Islam dan bahkan lebih dari itu, jiwa dan raganya diperuntukkan untuk Islam.

Melihat Khadijah letih menyusui anaknya, Rasulullah mengambil Fatimah dan diletakkan di tempat tidurnya. Gantilah Rasulullah berbaring dipangkuan sang Istri. Karena Rasulullah begitu lelah dan letih dari mendakwahkan islam kepada umatnya yang menolak seruannya, Rasulullah tertidur di pangkuan sang istri. Katika itulah khadijah dengan belaian kasih sayang membelai rambut Beliau.

Tak terasa air mata Khadijah menetes dan mengenai pipi Rasulullah. Nabi pun terjaga.
“Wahai Khadijah kenapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku? Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan, tetapi hari ini engkau telah dihina orang, semua orang telah menjauh darimu, seluruh harta bendamu habis. Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?

Khadijah berkata: “Wahai suamiku, wahai Nabi Allah, bukan itu yang aku tangiskan. Dulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki kebangsawanan, kebangsawanan itupun aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, seluruh harta kekayaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Wahai Rasulullah, sekarang ini aku tidak memiliki apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini.”

“Wahai Rasulullah, sandainya aku telah mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, kemudian engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, engkau hendak menyebrangi sebuah sungai dan engkau tidak menemukan satu perahu pun ataupun jambatan, maka engkau gali lubang kuburku, engkau gali kuburku, kemudian ambillah tulang belulangku, engkau jadikan jembatan sebagai jalan menyeberangi sungai itu untuk menemui umatmu.

Rasulullah pun ikut menangis mendengar ucapan Khadijah. [dutaislam.com/ed/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini