Kamis, 30 November 2017

Detik-Detik Menegangkan Ketika Ukasyah Ingin Mencambuk Rasulullah

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Sebelum Rasulullah wafat, beliau sempat meminta sahabt Bilal memanggil para sahabat yang lain untuk berkumpul di masjid. Tidak lama kemudian penuhlah masjid itu. Semua sahabt berkumpul karena merasa rindu kepada Rasulullah. Saat itu Rasulullah dalam keadaan sakit dan lemah. Para sahabat memang sudah agak lama tidak mendapat taushiyah dara Rasulullah.

Rasulullah duduk di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

"Wahai sahabat-sahabatku. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu bahwa sesungguhnya Allah itu adalah satu-satunyanya Tuhan yang layak di sembah?"

Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, "Benar wahai Rasulullah. Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

"Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka."

Rasulullah bersabda lagi dan setiap apa yang Rasulullah sampaikan selalu dibenarkan para sahabat. Sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia."

Semua sahabat diam. Dalam hati masing mungkin berkata, "Mana ada Rasullullah berhutang dengan kita? justru kamilah yang banyak berhutang kepada Rasulullah".
Rasulullah mengulangi pertanyaan itu 3 kali.

Tiba-tiba bangun seorang lelaki bernama Ukasyah, seorang sahabat mantan preman sebelum masuk Islam dan berkata:

"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa."
"Sampaikanlah wahai Ukasyah," jawab Rasulullah

Ukasyah kemudian bercerita:

"Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu. Satu ketika engkau menunggang kuda lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersesbut tidak mengenai belakang kuda. Justru cambuk itu mengenai dadaku karena ketika itu aku berdiri di
belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah."

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata:

"Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama."

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."

Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian. Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pada Ukasyah.

"Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. bukankah Baginda sedang sakit?" demikian kata sahabat yang lain.

Ukasyah tidak menghiraukan. Rasulullah kemudian meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya, Fatimah.

Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah kemudian kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"

"Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untukk memukul Rasulullah," jawab Bilal.
Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:

"Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku, anaknya".

Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua."

Bilal kemudian membawa cambuk tersebut ke Masjid dan diberikanlah kepada Ukasyah. Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah dengan cambuk yang sudah dipeangnya.

Tiba-tiba Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah seraya berkata:

"Ukasyah.! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yg pertama beriman dengan apa yang Rasulullah sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku."

"Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah," sela Rasulullah.

Ukasyah terus menuju ke hadapan Rasulullah. Umar berdiri menghalangi Ukasyah:

"Ukasyah..! kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar Nama Muhammad. Bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya. Itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku!" kata Umar.

Lalu dijawab oleh Rasulullah:

"Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dg Ukasyah".

Setelah itu berdiri Ali bin Abu Talib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW. Dia juga menghalangi Ukasyah sambil berkata:

"Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah".
Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:

"Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dg Ukasyah" .

Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah. Tiba-tiba bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah,

Hasan dan Husen. Mereka memegangi tangan Ukasyah sambil memohon.

"Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah, dengan memukul kami sesungguhnya itu sama dg menyakIiti kakek kami, wahai Paman."

Lalu Rasulullah SAW berkata:

"Wahai cucu-cucu kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan Kakek dengan Paman Ukasyah".
Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata:

"Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini."

Rasulullah SAW menuruti Ukasyah. Beliau meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi.

Dengan suara tegas Ukasyah berkata:

"Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah"

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah. Tanpa berlama-lama, keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya.

Rasulullah kemudian berkata:

"Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Allah akan murka padamu."
Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah. Cambuk di tangannya dibuang jauh-jauh. Dia peluk tubuh Rasulullah seerat-eratnya sambil menangis sejadi-jadinya.
Dia berkata:

"Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Seumur hidupku aku bercita-cita dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah"

Sembari tersenyum Rasulullah berkata:

"Wahai sahabat-sahabat semua. Kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah!"

Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah SAW. [dutaislam.com/ed/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini