Jumat, 10 November 2017

Bahaya Istidraj, Pemberian yang Tidak Diridhai Allah



Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Sebuah maqolah dapat kita jadikan renungan ketika mendapat sesuatu berupa kemewahan atau tercapainya hajat yang selama begitu sangat kita inginkan.

خـَفْ مِنْ وُجُودِ اِحْساَنِهِ اِلَيْكَ وَدَوامِ اِساَءَتِكَ مَعَهُ اَنْ يكونَ ذٰلِكَ اِسْتِدْراَجاًلكَ، سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْسُ لاَيَعْلموُنَ

"Takutlah saat dirimu memperoleh limpahan karunia Allah, namun sikapmu masih terjerambab di kubangan  maksiat kepada Allah. Ingat hal itu  jangan-jangan  sebagai istidraj oleh Allah. Sebagaimana firman Allah: "Kami akan beri istidroj mereka dari sisi yang tidak diketahui oleh mereka."

Maqolah di atas menjelaskan bahwa bermacam-macam sikap orang memperoleh karunia Allah. Ada yang syukur, ada pula yang kufur, bahkan ada juga yang diberikan istidraj oleh Allah. Istidraj ialah memperoleh limpahan karunia tapi tidak diridhai Allah. Contohnya, anak kecil minta dibelikan pisau, orang tuanya tidak mau membelikan karena tahu pisau bagi anaknya tidak memberi manfaat. Sebaliknya justru bisa membahayakan anaknya.

Karena anaknya ngeyel dan nangis akhirnya org tua terpaksa membelikan pisau. Setelah dibelikan pisau ternyata tidak membawa manfaat tapi justru melukai tangannya. Itulah ilustrasi sederhana tentang istidraj.

Bisa jadi sikap kita  seperti anak-anak kecil di atas. Suka berdoa dan meminta bermacam-macam kepada Allah yang kita tidak tahu manfaat dan madharatnya tapi terus minta dengan ngeyel.
Permintaan yang disertai ngotot dan ngeyel jika dikabulkan oleh Allah justru akan membawa keburukan pada dirinya. Seperti berdoa meminta harta yang melimpah dan pangkat yang tinggi padahal Allah sudah tahu ukuran paling pas rizki dan pangkat untuk tiap hambanya.

Karena mintanya ngotot dan ngeyel akhirnya dikabulkan oleh Allah. Ternyata harta yang melimpah bukan mendekatkan kepada Allah, tapi justru menjauhkan dari Allah. Bahkan hartanya menjadi sarana melakukan maksiat kepada Allah.

Begitu juga ketika diberikan pangkat yang tinggi tapi tidak membawa manfaat sama sekali untuk dirinya bahkan bisa menjerumuskan pada pusaran korupsi yang akhirnya menyebabkan dirinya masuk penjara. Ini merupakan contoh-contoh istidraj.

Padahal kalau kita yakin kepada Allah dan pasrah kepada Allah pasti diberikan yang terbaik menurut Allah. Namun seringkai nafsu kita memicu sikap ngeyel dan ngotot kepada Allah. Berdoa meminta kaya dan pangkat sangat diperbolehkan namun jangan lupa mintalah keberkahan di dalam kekayaan dan pangkat. Kekayaan dan pangkat yang berkah akan mendatangkan kebaikan untuk dunia dan akherat. Sebaliknya jika istidraj bisa menghancurkan diri dalam kubangan kehinaan baik di dunia maupun di akhirat. Na'udzubillah min dzalik.

Semoga Allah senantiasa membwrikan keberkahan hidup kita dan  menjauhkan kita dari segala bentuk istidraj.[dutaislam.com/pin]

Keterangan:
Diambil dari Kajian al-Hikam 71 Ali Abdillah al-Rabbani, 10 November 2017


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini