Senin, 23 Oktober 2017

Tafsir Jenggot ala Kiai Said yang Ditarik Secara Goblok Pembenci NU

Jenggot tebal jangan ditarik-tarik, sakit!
DutaIslam.Com - Kaum sumbu pendek selalu mencari masalah dengan ulama, kiai dan NU. Kesepian isu, berita tahun-tahun lalu dihangatkan lagi untuk mencipatakan daya rusak tanpa mau memperbaiki, apalagi tabayun.

Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj selalu jadi sasaran empuk karena beliau tidak mau mengklarifikasi persoalan yang dibuat kisruh oleh kalangan jenggot panjang kathok pendek itu. Soal jenggot, hal yang bisa digunakan untuk menyindir halus pun, bisa dibuat kasar oleh mereka.

Anehnya, banyak kalangan doktor, profesor, habaib, pejabat dan tokoh nasional pun ikut-ikutan mempercayai isu murahan yang dibuat para buzzer pencilakan bin kurangajar itu. Padahal, jika pikirannya tidak ditarik kebencian sedikit saja, tentu mereka akan mencari tahu (tabayun) walau leway sumber internet, Youtube misalnya.

Soal jenggot, Kiai Said jadi sasaran tembak pula. Menurut mereka, ketika Kiai Said menyebut makin panjang jenggot makin goblok, itu adalah fatwa. Padahal hanya sindiran keras. Yang berjenggot tapi tidak marah atas sindiran "makin panjang jenggot" nya Kiai Said, berarti dia sudah layak berjenggot karena menurut Kiai Said, orang berjenggot itu makamnya sudah tinggi secara spiritual.

"Orang berjenggot adalah orang yang arif, orang yang bijak, orang yang punya maqom. Orang berjenggot harus hatinya mulia, akhlaqnya mulia, spiritualnya kuat," kata Kiai Said dalam video pelantikan pengurus NU di daerah.

Mbah Hasyim Asy'ari misalnya, beliau berjenggot karena sudah sangat tinggi kedudukan spirtualnya. "Kiai Agus Sunyoto ini berjenggot panjang, juga menunjukkan safar rihlah ruhaniyahnya (perjalanan spirtualitasnya) sudah panjang dan jauh," terang Kiai Said dalam video berdurasi lengkap 06:08 menit. 

Dalam video tersebut, Kiai Said sama sekali tidak menyebut langsung bahwa orang berjenggot itu bodoh, goblok, tak berakal, sebagaimana tuduhan mereka yang selalu cari-cari benalu di negeri ini. Baca: Perbedaan Walisongo dan Wali Jenggot Bathuk Ireng.

"Ada lagi ajengan Mimih (berjenggot), itu juga menunjukkan memiliki daya kekuatan bashiroh yang luar biasa, termasuk Ketua Lembaga Falakiyah, berjenggot,  juga karena sudah malang-melintang dalam pengalaman spiritualitasnya,"imbuhnya memberi contoh.

Kiai Said lebih lanjut akhirnya membahas orang berjenggot tapi tidak punya makam spiritual tinggi, "kalau hanya jenggotnya saja tapi hatinya kotor, hatinya tidak ramah atau kaffar takabbur, maka itu jauh dari simbol jenggotnya itu," jelasnya di panggung.

Memang, orang yang panjang jenggotnya, kata lanjut Kiai Said, kurang kecerdasannya. "Karena syarat untuk mendukung otak, tertarik oleh jenggot," tandasnya mengkritik keras pendampa penampilan jenggot tanpa akal, "panjangnya jenggot itu memindahkan kecerdasan otak kepada bashiroh, mata hati," imbuhnya. Silakan simak video lengkapnya:


"Kalau belum memiliki makam spiritual, jangan coba-coba berjenggot," tutupnya di akhir acara. Itulah tafsir jenggot ala Kiai Said yang ditarik (kesimpulan) secara goblok oleh haters NU. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini