Selasa, 24 Oktober 2017

Siapa yang Lebih Pantas Dari Rasulullah?

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Rasulullah bersama Zaid bin Haritsah berangkat menuju Kota Thaif. Negeri nan subur dan sejuk yang terletak sekitar 106 KM di Tenggara Kota Mekah.

Ketika dakwahnya di Kota Mekah dihalang-halangi, maka kepada Thaif Nabi Muhammad memiliki harapan untuk mendapatkan ruang. Dan, negeri itu dapat dijadikan tempat hijrah ummat beliau dari Mekah.

Setelah menempuh perjalanan panjang, melewati padang dan gunung tandus sampailah Rasulullah di negeri subur itu. Namun sungguh yang terjadi di luar dugaan Nabi. Kedatangan beliau ternyata justru disambut dengan cacian dan lemparan batu. Rupanya para tokoh Mekah telah terlebih dahulu mendatangi kepala suku di sana dan menghasut mereka tentang Muhammad dan pengikutnya.

Demikianlah, 10 hari Nabi dan Zaid mencoba bertahan, namun gangguan yang diterima justru semakin buruk hingga mereka berdua dipaksa meninggalkan Thaif dengan tubuh berdarah karena lemparan batu yang bertubi-tubi yang dilakukan bukan saja oleh orang-orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

Rasulullah dan Zaid berjalan tertatih meninggalkan Thaif, berteduh di bawah pohon Kurma sesaat, lalu berjalan kembali. Maha suci Allah dan betapa suci hati Rasullah, menghadapi cemoohan dan kekerasan atas dirinya itu Rasulullah tak menunjukkan kemarahan, namun justru menyalahkan diri sendiri. Beliau bermunajat kepada Allah mengakui kelemahan dirinya dalam memgemban amanat dan berlindung dari kemurkaan Allah.

Tak selang beberapa lama setelah beliau bermunajat, Malaikat Jibril bersama para malaikat lainnya turun mendatangi beliau. Lalu Jibril berkata,"Wahai Nabiyallah perintahkanlah kepada kami untuk membalik negeri ini, niscaya dengan ijin Allah dalam sekejap kami akan meluluh lantakkan Thaif dan seluruh penduduknya.

Kekuasaan penuh untuk membuat keputusan ada di tangan Muhammad SAW. Ia layak untuk marah, pantas untuk memberikan pelajaran kepada negeri yang tak mengenal tata krama itu. Ia tinggal menyetujui saja tawaran Malaikat Jibril itu, maka dalam hitungan detik Thaif akan hilang dari peta bumi.

Tetapi jawaban Rasulullah membuat Jibril dan Para malaikat lainnya menjadi tak berdaya. Rasulullah menolak tawaran para malaikat itu seraya berkata,

"Allaahumma ihdi qaumii innahum laa ya'lamuun"

"Yaa Allah berikan lah hidayah kepada kaumku karena mereka (berbuat demikian karena) tidak memahami."

Lalu beliau berkata kepada sekumpulan malaikat itu,"Aku bermohon kepada Allah, kalau tidak mereka yang mengikuti jalan hidayah ini, maka kelak anak cucu mereka yang akan menjadi pengikutku.."

Sebuah pelajar cinta diberikan kepada Jibril dan para malaikat yang menyertainya, juga kepada ummatnya.

Siapa lebih pantas dipanggil Habibullah melebihi Rasul Muhammad SAW? [dutaislam.com/ed/pin]


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini