Sabtu, 21 Oktober 2017

Santri Paling Ditakuti Penjajah dan Fakta-Fakta yang Tak Diungkap dalam Sejarah Nasional

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Santri pondok pesantren itu ampuh. Di tanah Jawa ini, santri dan tarekat yang paling ditakuti (penjajah) Belanda.

Ada seorang santri penganut thariqah bernama Abdul Hamid. Dia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama 5 tahun (1825-1830 M).

Abdul Hamid mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH. Hasan Besari. Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kiai Taftazani Kertosuro. Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH. Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

Abdul Hamid adalah putra Sultan Hamengkubuwono III dari istri Pacitan, Jawa Timur. Dia wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari. Patungnya memakai jubah kini dipasang di Alun-alun Kota Magelang dan menjadi nama Kodam dan Universitas di Jawa Tengah. Dialah Pangeran Diponegoro.

Belanda sangat resah menghadapi perang Diponegoro. Dalam kurun 5 tahun, uang kas Hindia Belanda habis. Bahkan punya banyak hutang luar negeri.

Nama lengkap Abdul Hamid atau Pangeran Diponegoro adalah Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.

Jika Anda pergi ke Magelang dan melihat kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu (sekarang di Bakorwil) ada 3 peningalan Diponegoro: Al-Quran, Tasbih dan Taqrib (kitab Fath al-Qarib).
Kenapa al-Quran? Karena Pangeran Diponegoro adalah seorang Muslim. Kenapa tasbih? Pangeran Diponegoro seorang ahli dzikir. Beliau penganut thariqah. Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan pernah mengatakan bahwa Diponegoro seorang mursyid Thariqah Qadiriyyah.

Peninggalan ketiga Taqrib matan Abu Syuja’ ialah kitab kuning yang kini dipakai di pesantren bermadzhab Syafi'i. Jadi Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Karena bermadhab Syafi’i, Diponegoro shalat Tarawih 20 rakaat, shalat Shubuh memakai doa Qunut, Jum’atan adzan dua kali, termasuk shalat Ied-nya di Masjid. Bukan di Tegalan (lapangan).

Saya sangat menghormati dan menghargai orang yang berbeda madzhab dan pendapat. Akan tetapi, yang perlu diingat, sejarah sampaikan apa adanya. Jangan ditutup-tutupi. Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Tiga peninggalan Pangeran Diponegoro ini tercermin dalam pondok-pondok pesantren.

Dulu ada tokoh pendidikan nasional bernama Douwes Dekker. Siapa itu Douwes Dekker? Dia adalah Danudirja Setiabudi. Yang belajar sejarah akan kenal. Leluhur Douwes Dekker adalah seorang Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk merusak bangsa kita.

Namun ketika Douwes Dekker berhubungan dengan para kiai dan santri, mindset-nya berubah. Yang semula ingin merusak kita justeru bergabung dengan pergerakan bangsa Indonesia. Bahkan semangat kebangsaan Douwes Dekker kadang-kadang melebihi bangsa Indonesia kita sendiri. Dalam bukunya dia pernah berkata: “Kalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.”

Seumpanya yang berbicara saya, pasti ada yang berkomentar: "Hanya biar pondok pesantren laku." Tapi berbeda kalau yang berbicara orang “luar”. Ini temuan apa adanya dan tidak dibuat-buat. Maka, kembalilah ke pesantren.

Selain Pangeran Diponegoro ada Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat). Beliau juga seorang santri. Jadi tak hanya Diponegoro saja anak bangsa yang dididik ulama dan menjadi tokoh bangsa. Di Jogjakarta ada seorang kiai bernama Romo Kyai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan. Santrinya banyak. Salah satunya Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara.

Karena jasanya di bidang ilmu, Ki Hajar diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional oleh pemerintah. Jadi, Ki Hajar Dewantara adalah santri, ngaji, dan murid seorang kiai.

Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji Al Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah. Yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Itu sudah baik, namun belum komplit dan belum utuh.

Santri yang juga jasanya besar bagi Indonesia adalah Sayyid Husein al-Mutahhar. Beliau yang mengajak bangsa Indonesia untuk bersyukur setelah kemerdekaan. Beliau yang menyusun lagu Syukur sebagaimana dijelaksan dalam pelajaran Sekolah Dasar (SD). Habib Husein al-Mutahar adalah paman Habib Umar Muthahar SH Semarang.

Jadi, yang menciptakan lagu Syukur yang kita semua hafal adalah seorang sayyid. Cucu Baginda Nabi Saw. Karena lagu itu, akhirnya oleh pemerintah waktu itu beliau diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga. Beliau juga dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik. Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi. Sebaliknya justeru membangun masjid.

Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk. Kemudian mendengar adzan Dzuhur. Sampai pada kalimat hayya 'alasshalâh, terngiang suara adzan. Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang. Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan. Ada “S”nya, “A”nya, “H”nya. Lagu itu adalah 17 Agustus tahun 45:

17 Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka
Nusa dan Bangsa Hari lahirnya Bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tertap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia, tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap setia
Membela Negara kita.


Tidak dipungkiri lagi peran para kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa. Jadi, jangan ragu jika hendak mengirim anak-anaknya ke pondok pesantren. Bahkan Bung Karno ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta minta didampingi putra kiai. Tampillah putra seorang kiai kampung Batuampar, Mayakumbung, Sumatera Barat. Dia adalah H. Mohammad Hatta. Bung Hatta adalah putra Ustadz Kiai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah Kholidiyyah.

Sayangnya sejarah Bung Hatta sebagai putra kyai dan putra penganut thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah. Yang diterangkan hanya Bapak Koperasi.

Mulai sekarang mari kita terangkan sejarah dengan utuh. Jangan sekali-kali dipotong. Jika sejarah dipotong suatu saat sejarah maka pemotong sejarah akan dipotong juga oleh Allah.

Pesan penting bagi yang pernah menjadi santri, jangan berkecil hati mengirim anaknya ke pesantren. Jangan berpikir mau jadi apa karena yang menjadikan semuanya adalah Allah. Tugas manusia hanya melaksanakan kewajiban dari Allah. Allah telah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu kitapun harus menuntut ilmu. Jika kewajiban dari Allah sudah dilaksanakan, maka Allah yang akan menata.

Anak yang didik di pesantren akan cepat dewasa dalam berpikir. KH. Mahrus Aly Lirboyo pernah berkata: “Nek ngaji kok nempel wongtuo, ora temu-temuo.” (Jika mengaji masih bersama dengan orangtua, tidak akan cepat dewasa). Maka masukkanlah ke pesantren. Biar cepat dewasa pikirannya. [dutaislam.com/ed/pin]

Tulisan ini adalah ulasan bebas dari Ceramah KH Achmad Chalwani Nawawi 


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini