Selasa, 03 Oktober 2017

Sambut Hari Santri, Raedu Basha, Penyair Santri Akan Luncurkan Buku Puisi Ulama Nusantra “Hadrah Kiai”


DutaIslam.Com - Raedu Basha, seorang penyair santri asal Sumenep Madura yang saat ini bergiat di Kota Jogja akan meluncurkan sebuah buku berjudul “Hadrah Kiai”, buku ini merupakan kumpulan puisi-puisi tematik yang mengangkat ulama-ulama Nusantara. Buku yang diberi kata sambutan oleh Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, ini tergolong buku yang langka, sebab di tengah maraknya buku sastra di Indonesia utamanya puisi, masih belum ada yang pernah melakukan pencapaian ke arah kajian Islam Nusantara, yang mengedepankan ke-Indonesia-an sebagai rumah keberislaman.

“MEMBACA syair-syair karya Raedu Basha dalam buku ini, serasa ziarah kepada sosok-sosok ulama di hening sunyi. Merenungi karya-karya puitik ini, pembaca serasa diajak berpe-tualang menuju labirin pesantren, menyibak khazanah Islam Nusantara sekaligus menikmati tradisi ala santri. Dari petualangan puisi, pembaca serasa menyusuri manakib para wali, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Hasyim Asy’ari dan deretan kiai-kiai lain," tulis Kiai Said.

KH A Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus tak segan-segan memberikan kesan pada buku ini: “Satu kata untuk buku ini; dahsyat!” Membaca buku ini, lanjut Gus Mus dapat menangkap pesan simbolik bagaimana khazanah pesantren baik tradisi maupun pengetahuannya. Tradisi pesantren lekat dengan sastra, yang menjadi media pengetahuan. Santri-santri terbiasa dengan metode sastra, menghafal nadzam-nadzam untuk menghayati pengetahuan. Secara rutin, santri-santri juga merapal shalawat dan Barzanji karya Al-Bushiri. Juga, menghayati sastra dengan menapaki lapis-lapis pengetahuan dalam bidang balaghah. Karya ananda Raedu Basha ini meneguhkan betapa santri lekat dengan sastra. Semoga bermanfaat dan menjadi bagian dari jalan pengetahuan dan pengabdian.

Dr. KH. Agus Sunyoto, Penulis Buku Atlas Walisongo, memberikan komentar pada buku ini dan menilai karya Raedu Basha sebagai kebangkitan sastra lama Nusantara,  “Buku yang menuliskan riwayat para kiai dan aulia Nusantara ini diungkapkan dalam bentuk sastra. Ini dapat dianggap sebagai revivalisme sastra lama nusantara yang selama ini tenggelam di tengah arus sastra Barat modern. Karya Raedu Basha ini membawa nuansa baru dalam sastra Indonesia modern.”

Prof. Dr. KH. Abd A’la, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya juga mengomentari: “KARYA ini perlu benar-benar diapresiasi karena memiliki kekuatan luar biasa dalam mengenalkan wajah Muslim Nusantara dan sekaligus menjadikan nilai-nilai Islam Indonesia itu mengalami proses internalisasi pada diri kita. Melalui ungkapan dan narasi puitis, Raedu Basha menyapa nurani kita untuk berdialog dengan Islam yang kontekstual ini; suatu pendekatan yang jarang dilakukan oleh penulis yang lain. Pendekatan ini menjadikan nurani kita tersentuh dan tergugah untuk bukan sekadar mengenal, tapi masuk terlibat di dalamnya. Saya sangat menikmati sekali membacanya.”

D. Zawawi Imron, Penyair senior juga berkomentar: “RAEDU ingin mengenang kiprah orang-orang mulia pada zaman dahulu tidak sekadar sebagai kenangan. Di balik itu, ia ingin menuai nilai-nilai yang berharga dari spirit para wali itu sebagai cermin membangun masa depan. Dengan kemasan puisi, Raedu mencoba menghidupkan masa lalu dengan debar kepenyairan masa kini. Orang-orang mulia akan tetap hidup dalam semangat yang tak kunjung mati.”

DR. Al-Zastrouw Ngatawi, pengajar Sosiologi Nusantara UNU Jakarta, juga berkomentar: “MEMBACA buku ini kita seperti diajak mengembara dalam lautan hikmah para aulia dan orang-orang suci. Gaya penulisannya, mengingatkan kita pada kitab-kitab sastra klasik pesantren seperti kitab Al-Barzanji karya Syekh Jakfar Al-Madani atau kitab Diba’ karya Syekh Aburrahman ad-Diba’i yang memadukan prosa dan syair. Selain berisi kata hikmah yang sarat makna, juga menyajikan data sejarah yang cukup penting bagi generasi masa kini. Buku ini merupakan model baru dalam penulisan sejarah, setelah sebelumnya marak dengan model novel sejarah. Melalui untaian kata yang indah dan penuh hikmah, Raedu Basha tidak saja mampu membuka fakta sejarah para ulama yang dilipat tetapi tetapi juga berhasil menghadirkan sejarah dalam relung jiwa.”

Penyair kenamaan Joko Pinurbo, berkomentar: “Dua hal terangkum sekaligus. Pertama, bahwa ulama Nusantara berusaha memadukan inti ajaran agama dengan akar budaya setempat. Kedua, bahwa melalui jalan puisi, penghayatan iman dapat tersalurkan dengan lebih rileks dan sublim.”

Dalam ulasan panjang, sastrawan Acep Zamzam Noor yang juga putra KH Ilyas Ruhiyat Cipasung, menyebut bahwa buku Hadrah Kiai penting untuk dibaca masyarakat luas, “saya memandang kehadiran antologi puisi Hadrah Kiai karya Raedu Basha ini layak untuk dicatat.”

Sedang Penulis Hadrah Kiai, Raedu Basha, mengatakan: “Saya tidak menganggap diri saya sebagai penyair kendati puisi adalah media yang digunakan para penyair. Sebagai penulis manakib? saya juga tak punya kapasitas karena manakib biasanya ditulis oleh orang saleh dan punya maqam wilayat. Saya tak lebih dari seorang pelajar sosial-humaniora yang sedang menghayati ke-Indonesia-an, menjadikan kiai-kiai Nusantara sebagai tineliti dengan paradigma-paradigma yang saya ketahui. Benar adanya bahwa saya seorang santri yang sedang berikhtiar mengekspresikan ketakziman sebagai bentuk tahadduts bin-ni’mah kepada para kiai. Benar adanya bila saya pembelajar etnografi yang mencoba mendeskripsikan refleksi-refleksinya tentang suatu bangsa dan kajian mengenai manusia dan kulturnya. Tidak benar kalau dengan Hadrah Kiai saya kemudian dipanggil penyair, ustaz, kiai dan sebagainya.

Beberapa maksud telah saya ceritakan secara singkat di sosial media dan diskusi-diskusi kecil, antara lain, bukankah ancaman radikalisme agama salah satunya diakibatkan oleh generasi bangsa yang ahistoris terhadap para penyiar keberagamaan di negeri sendiri? Demikian pula kegelisahan saya senada dengan penulis Atlas Walisongo tentang adanya kelompok masyarakat yang menganggap Walisongo hanya cerita mitos, maka usaha kecil ini diharapkan sebagai respon puisi dengan “menghadrahkan” kiai-kiai. Saya terkesan komentar seorang sahabat, bahwa sesungguhnya problematika ke-Indonesia-an jawabannya ada dalam ke-Indonesia-an juga, tak perlu mencari sosok panutan ke seberang lautan.

Hadrah Kiai adalah permulaan kecil yang perjalanannya akan dilanjutkan, sebab masih banyak kiai-kiai yang belum sempat dibahas atau yang ada saya rasakan belum begitu dalam; banyak ulama yang dilipat sejarah terutama di wilayah pedalaman; demikian para nyai yakni ulama-ulama perempuan yang peranannya tak kalah penting dalam menjaga peradaban bangsa dan keunikan pribadinya. Topik ini akan menjadi fokus perhatian saya pada masa mendatang. Insya-Allah.”

Demikian pula hadiah dan penghargaan yang pernah diterima beberapa karya ini, serial Bunga Ibriz Kiai Bisri sebagai pemenang kategori puisi Anugerah Seni dan Sastra Universitas Gadjah Mada 2014, Tahlil Fadilah bagi Kiai Hasyim Asy’ari sebagai pemenang pilihan Jurnal Sajak 2015, Tasrifan Kiai Maksum Jombang sebagai juara utama lomba cipta puisi yang diselenggarakan TV9 Surabaya & Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama Jombang 2015, Narasi Gandul Makna Miring menjadi pemenang lomba cipta puisi se-ASEAN di IAIN Purwokerto 2017, dan lain-lain. [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini