Selasa, 24 Oktober 2017

Perbedaan Nabi dengan Kelompok Radikal dalam Berdakwah



DutaIslam.Com – Lemah lembut adalah sifat Allah sekaligus dicintai oleh Allah. Dengan sifat lemah lembut segala kebaikan dan keutamaan akan bisa diraih. Bahkan sifat lemah lembut akan mendatangkan sikap hikmah yang juga merupakan sikap yang dicintai oleh Allah di dalam berkata dan bertindak.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan ‘Aisyah RA Rasulullah saw pernah bersabda:

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, dan mencintai sikap lemah lembut. Allah memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.” [HR. Muslim]

Hadis lain diriwayatkan bahwa Rasulullah saw sedang duduk-duduk bersama para shahabat di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam masjid dan kencing di dalamnya. Spontan, bangkitlah para shahabat menghampiri untuk menghardiknya. Namun Rasulullah saw melarang dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai selesai hajatnya.  Setelah itu, beliau saw memanggil si badui tadi lalu menasehatinya dengan lemah lembut:

إن هذه المساجد لا تصلح لشيء من هذا البول ولا القذر إنما هي لذكر الله والصلاة وقراءة القرآن

“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang kencing atau kotoran karena masjid itu diperuntukkan sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an.”  Setelah itu, Nabi meminta setimba air untuk dituangkan pada tempat air kencing tersebut. [HR. Muslim]

Diriwayatkan dari abu hurairah bahwa ketika Rasulullah saw shalat berasama para sahabat. Datanglah orang dusun (yang kencing di masjid tadi) dan berdoa dalam sholatnya:

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا

“Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Setelah salam, Rasulullah saw berkata kepadanya: “Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” [HR Bukhari].

Ibnu Hajar al-Atsqalani mengatakan bahwa orang badui di atas bernama Dzul Huwaysirah al-Yamani, Versi lain dia adalah Aqra’ bin Habis. Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa doa orang badui tadi terjadi sebelum ia kencing di dalam Masjid. Boleh jadi ketika si badui melihat sikap lemah lembut dari Rasul saw dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati si badui tersebut sehingga ia berdoa demikian.

Semestinya seperti itulah kita berprilaku dalam segala urusan tak terkecuali urusan dakwah. Syeikh Muhammad Mutawalli as-Sya'rawi (1911-1998) ahli tafsir kontemporer dari mesir pernah berdialog dengan salah satu pemuda dari kelompok garis keras. As-Sya'rawi bertanya, apakah meledakkan tempat tempat hiburan di salah satu negara yang mayoritas penduduknya kaum muslimin hukumnya halal ataukah haram? Pemuda menjawab, hukumnya halal membantai atau membunuh mereka diperbolehkan.

As-Sya'rawi kemudian berkata: jika kamu bunuh mereka yang bermaksiat,kemana tempat mereka kembali di akhirat? ke syurga atau neraka? Pemuda menjawab, pastinya ke neraka. As-Sya'rawi berkata lagi: Kemana setan menginginkan mereka yang kamu bunuh dengan ledakanmu? Pemuda menjawa: pastinya setan berkeinginan mereka masuk bersamanya ke neraka. As-Sya'rawi berkata lagi: jika demikian maka engkau telah berserikat dengan setan dengan satu tujuan untuk memasukkan mereka kedalam neraka!.

As-Sya'rawi lalu menyebutkan satu hadist, ketika itu lewat dihadapan Nabi saw jenazah seorang Yahudi, Nabi saw bersedih dan menangis, para sahabat bertanya, “kenapa menangis dan sedih wahai Nabi?” Nabi saw menjawab:

نفس أفلتت منّي إلى النار

“Satu jiwa telah terlepas dariku dan jiwa itu masuk ke dalam neraka”

Coba kita perhatikan perbedaan antara pemuda tadi dengan Nabi Muhammad saw. Anak muda menginginkan mereka masuk neraka sedangkan Nabi saw menginginkan untuk menyelamatkan mereka dari neraka. Pemuda itu berada dalam satu lembah dan Nabi saw berada pada lembah yang lain.

Dalam hadis diriwayatkan dari Anas RA, bahwa satu saat seorang pemuda Yahudi yang biasa membantu Nabi itu sakit lalu Nabi menjenguknya. Duduklah beliau disamping kepalanya lalu beliau bersabda : masuklah Islam. Anak itu kemudian menoleh ke arah bapaknya dan bapaknya berkata: ikutilah abal qasim (Nabi). Lalu iapun bersyahadat masuk Islam. Nabipun keluar dari rumahnya seraya mengucap :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنْ النَّارِ.

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka. [HR Bukhari]

Cara-cara dakwah nabi dengan kelembutan ini tentu sangat berbeda dengan cara-cara dakwah kelompok radikal di era sekarang. Cara kekerasan yang kadang digunakan justru semakin menjadikan Islam mirip agama teror. Bagimana mau bersimpati kepada Islam jika Islam sudah dikesankan sebagai agama yang menakutkan?

Semoga Allah membuka pintu hati kita semua agar bisa berlemah lembut dalam semua urusan kita. [dutaislam.com/ed/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini