Selasa, 03 Oktober 2017

[Parah] Ini Kelakuan Minhum di Grup-grup WA


Oleh Mohammad Ichwan

DutaIslam.Com - Saya tergabung dalam banyak grup WhatApps. Dulu 48 grup saya ikuti, sekarang tinggal 36 grup.

Diantara grup-grup tersebut adalah kaum Saracen penyembah nafsu angkara murka. Lucu-lucu tingkah mereka, setiap postingan di grup yang menyerang, memfitnah, menjelek-jelekkan, menghina, menghujat, mencaci-maki, buanyak sekali yang njempoli.

Semakin galak mengumbar sumpah serapah, semakin ditepuk tangani. Pakai pekik Takbir segala. Semakin garang atau seram, pakai ancaman  menghalalkan darah alias membunuh, semakin disoraki sebagai semangat jihad.

Yang dianggap hebat adalah yang pandai memelintir ayat tentang permusuhan. Si orang yang pandai menghina dan mencaci maka akan dijuluki Singa. Tak tanggung-tanggung, predikatnya adalah Singa Allooh..

Yang dianggap pembela Islam adalah yang paling keji membuat ujaran kebencian atas "musuh-musuh Allah".

Jangan coba-coba berkomentar netral, apalagi menyanggah. Niscaya akan  langsung dihabisi. Tak hanya dibully di dalam grup, bisa pula didatangi rumahnya, diintimidasi dan lalu dipersekusi alias diancam atau dianiaya.

Dikeluarkan dari grup, itu sangat ringan. Dijothak tak disapa lagi, padahal teman lama di dunia nyata, itu masih ringan. Anda akan mendadak auto-kafir apabila berani menyanggah ujaran bengis mereka.

"Kafir Kamu!".
"Bangs4t Kamu!, Kecebong Pendukung Kafir!"
"Liberal Kamu!, pendukung Penista Agama!. Batal Aqidahmu!', begitu konsekuensi cacian yang Anda terima jika berani membantah atau mencoba membuat argumen sanggahan.

Beberapa teman saya yang tidak tahan, menangis dan madul ke saya karena diperlakukan begitu. Ada yang sampai terkena tekanan batin sehingga minta perlindungan ke Banser. Terutama wanita, sedih sekali mereka jika sudah dihabisi macam itu di dalam grup berisi manusia Saracen.

Tak peduli sebuah tulisan atau gambar atau video itu hoax, rekayasa penuh dusta atau fitnah belaka, asalkan isinya menjelek-jelekkan Jokowi,  memusuhi Ahok, menghina Kyai Said, mencaci Gus Dur, membully Buya Syafii, pasti dibenarkan dan didukung. Lantas disebarkan ke semua akun media sosial.

Selain tokoh-tokoh tersebut, daftar musuh yang boleh dibenci dengan tuduhan apa saja adalah Prof. Sayyid Quraish Shihab, KH Ahmad Mustofa Bisri, bahkan Habib Luthfi. Orang-orang ini boleh disebut apa saja sesuka udel mereka. Sedangkan musuh secara kelembagaan adalah polisi. POLRI.

Dalam satu hari bisa lebih dari 5000 siaran kebencian kepada tokoh-tokoh yang dinilai sebagai Kafir, Syiah, Liberal, Antek Yahudi, Komunis, Keturunan PKI. Mereka bahkan mengendalikan ratusan ribu akun untuk menyebarkan konten kebencian itu, sehingga bisa viral. Ditambah adanya mesin penyebar dan uang untuk membayar iklan di fesbuk agar cepat viral.

Dulu pahlawan mereka adalah Rizieq Syihab dan Bahtiar Nasir. Rizieq dijuluki Singa Alloh atau Imam Besar Umat Islam. Akun-akun pribadi mereka pakai foto sang pahlawan yang katanya keturunan Rasulullah dan ma'sum dari segala dosa itu. Bangga sekali mereka memasang foto si Rizieq, karena sang idola dianggap sebagai manusia suci dari segala noda.

Selain Rizieq, pahlawan mereka adalah Amien Rais. Lalu Buni Yani, bahkan Buni Yani ditahbiskan sebagai "Pahlawan Media Sosial Islam". Egi Sujana termasuk yang disebut punggawa setengah pahlawan.

Namun semenjak Rizieq kabur karena ketakutan chat mesumnya dibongkar polisi dan dia jadi tersangka kasus pornografi, para anggota grup Saracen tidak lagi memasang foto sang pujaan. Singa telah kembali ke padang pasir berkumpul dengan onta nun jauh di mancanegara, maka dicarikan sosok baru untuk dijadikan sosok yang patut disebut sebagai "Pahlawan Islam'.

Di masa minggu terakhir September kemarin, ketika Gatot Nurmantyo diberitakan mengucapkan kalimat yang disebut  "mengancam akan menyerbu lembaga negara lain", berpolemik  dengan Menhan dan MenkoPolhukam, dan memerintahkan Pemutaran Film G30S, persis di saat fitnah sedang mendera presiden, yakni Jokowi didakwa komunis atau keturunan PKI, maka kaum Saracen di grup-grup WA tersebut langsung menjadikan Panglima TNI sebagai foto profil mereka.

Begitu bangga orang-orang bernama keArab-araban itu memasang foto sang jendral.
Pokoknya siapapun sosok yang mereka anggap memusuhi Jokowi, maka akan dijadikan kawan, lalu diangkat jadi Pahlawan.

Padahal Gatot Nurmantyo tetaplah bagian dari pemerintah dan perintahnya untuk menonton film tersebut didukung oleh Jokowi, bahkan presiden hadir duluan menonton bersama warga di markas tentara. Dan presiden tegas menyatakan akan menggebuk PKI jika berani muncul, serta konsisten mempertahkan larangan terhadap PKI sesuai TAP MPR 25.

Anda pasti heran bahkan bisa edan kalau memperhatikan;  mereka tahun lalu mencaci-maki Panglima TNI karena menggelorakan semangat Kebhinekaan dan Menjaga Persatuan, melalui Parade Kebangsaan, Kebhinekaan, dll, kini orang yang sama dijadikan Pahlawan versi mereka.

Anda akan  semakin edan jika mengetahui, orang-orang yang jadi tokoh dan mestinya jadi panutan, ikut-ikutan terhasut fitnah macam itu dan dengan entengnya ikut menyebarkan kebencian buatan Saracen.

Si tokoh-tokoh panutan yang mestinya menjaga kewarasan, ikut-ikutan tidak waras menyebarkan hoax begitu semangatnya. Mereka menganggap bahwa apa saja yang masuk di grup WA yang mereka ikuti, adalah suatu kebenaran. Dan ikut menyebarkannya adalah sebuah kebaikan. Bernilai pahala alias ganjaran. [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post

1 komentar:

Yuk ah di hadapi dgn sersan, serius tapi (keliatan) santai. Jangan sama2 gunakan bhs angkara murka, jangan juga diremehkan dgn banyak bercanda. Berkaca dr pengalaman sahabat Ibnu Abbas, menghadapi ekstrimis itu jangan kata sambil bcanda, sambil serius jg blm tentu mau terima.

POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini