Kamis, 12 Oktober 2017

Orientasi Tradisi Menulis Santri


Oleh Muhammad Al-Fayyadl

DutaIslam.Com - Sebagai kaum santri, kita mengetahui bahwa dunia terus berubah, dan kita menyadari bahwa kaum santri tidak lagi menulis untuk tujuan-tujuan yang sepenuhnya sama dengan tujuan generasi para pendahulu, salafuna ash shalihin, setidaknya sebelum 1854, tahun diperkenalkannya edisi cetakan pertama Al-Quran, yang mengawali percetakan kitab kuning dalam skala yang luas.

Peralihan medium, dari tradisi manuskrip ke tradisi percetakan, turut menandai peralihan kesadaran kaum santri, yang semakin meluas dan kosmopolit, menyentuh satu ujung dunia ke ujung dunia yang lain, sekaligus memasukkan kita ke dalam ritme rampak “modernitas” yang cepat dan haus kebaruan.

Hal itu bersamaan dengan diperkenalkannya suratkabar dan jurnal ke dunia literer kaum santri; kita mencatat tahun 1929, di bawah asuhan Kiai Muhammad Iljas, kepala madrasah Salafiyyah Syafi’iyyah dan lulusan sekolah Belanda HIS di Surabaya, Pesantren Tebuireng mulai memperkenalkan para santri kepada produk-produk cetakan modern: koran, majalah, dan buku-buku cetakan berbahasa Latin.

Sejak saat itu, bisa dibilang, dunia baca-tulis kalangan pesantren mengalami perluasan dan turut melibatkan kaum santri dalam keriuhan “zaman bergerak” yang memasukkan santri ke dalam arus gelombang nasionalisme dan isu-isu sosial-politik internasional.

Kita mengetahui bahwa hanya lima puluh tahun sejak 1800, umat Muslim di dunia telah diubah secara mendasar oleh diperkenalkannya teknologi percetakan, yang menghapus secara bertahap tradisi manuskrip dari budaya literasi umat Muslim—dan perubahan ini juga menyentuh pelosok-pelosok Nusantara, yang berabad-abad sebelumnya telah hidup dengan peradaban manuskrip yang kuat.

Di satu sisi, Revolusi Gutenberg menciptakan ledakan naskah cetak yang bisa diakses oleh siapa saja, dan di bumi Nusantara mendorong terciptanya ledakan jumlah kaum santri yang melek aksara, dengan akses keilmuan yang semakin luas dan mudah terhadap kepustakaan Islam klasik dari negeri-negeri Arab (turats).

Di sisi lain, terjadi penyederhanaan budaya pembelajaran berupa pembelajaran yang cenderung bersifat praktis dan langsung antara guru (kiai) dan murid (santri), tanpa keperluan untuk terlibat dalam produksi naskah sebagaimana dalam budaya manuskrip. Pengajaran kitab kuning, dalam bentuk kitab-kitab cetakan yang telah “jadi” dan praktis, berlangsung dalam suasana ini. Para santri tidak lagi selamanya menjadi produsen bagi turats, tetapi cukup menjadi mustami’ dan pencatat pengetahuan yang diajarkan secara lisan oleh guru. Ruang untuk berekspresi itu dibuka, sebaliknya, oleh diperkenalkannya jurnalisme ke dunia kaum santri, setidaknya sejak 1911 ketika para santri Melayu-Jawi mendirikan majalah Al Munir, majalah pertama umat Islam di Nusantara yang mendorong lahirnya sejumlah intelektual santri pertama yang menulis aktif untuk kolom-kolom opini di media cetak di kalangan bumiputra.

Sejumlah kenyataan sejarah di atas memperlihatkan bahwa keterlibatan kita kaum santri dalam dunia tulis-menulis tidak statis, tetapi dipengaruhi oleh perubahan medium teknologi, perubahan budaya baca dan tulis, dan otomatis, perubahan publik pembaca dari dunia tulis-menulis tersebut.

Pertama, perubahan medium telah mengubah budaya manuskrip ke budaya cetak, yang menghilangkan sebagian besar aktivitas santri sebagai penyalin (nasikh) bagi manuskrip-manuskrip warisan ulama terdahulu. Sisi positifnya, peradaban cetak membuka kaum santri kepada jaringan percetakan naskah di tingkat global (Singapura, Cairo, Beirut, New Delhi…) yang memungkinkan mereka mengakses literatur itu ketika merantau belajar di luar negeri.

Sisi kurang positifnya, kaum santri tidak terlatih untuk menulis dengan bagus (karena ketersediaan kitab-kitab cetakan yang mudah) dan cenderung lebih pasif dalam proses transfer pengetahuan (meskipun tingkat kepasifan ini berbeda dari masa ke masa, sejak abad ke-18 sampai kini).

Kedua, perubahan itu juga membentuk perubahan budaya baca dan tulis di kalangan kaum santri. Tradisi membaca secara aktif (ngaji) di hadapan guru tetap bertahan, namun tidak selamanya memerlukan kemampuan menulis yang baik, yang disyaratkan sebelumnya oleh budaya manuskrip. Namun, akses bacaan kaum santri menjadi semakin luas dan beragam, seiring makin massifnya kitab-kitab kuning dicetak dari satu pelosok dunia ke pelosok yang lain dan membuka kalangan pesantren kepada dunia kepustakaan yang semakin luas, dengan referensi-referensi kitab yang variatif dan ensiklopedis. Bacaan yang berbeda melahirkan budaya baca yang berbeda, yang lebih kaya. Namun, kemampuan kaum santri untuk menuliskan sesuatu yang orisinal mungkin menurun; tradisi tashnif dari para pengarang di abad-abad sebelumnya semakin langka dijumpai.

Faktor ketatnya syarat-syarat keilmuan yang harus dipenuhi oleh seorang mushannif mungkin menjadi faktor langkanya para mushannif dalam citra klasik, dengan wibawanya yang otoritatif, pengetahuan keilmuannya yang mendalam, serta kualitas kebahasaannya yang tinggi. Sebagai gantinya, budaya cetak dalam bentuk jurnalisme modern menawarkan kesempatan bagi kaum santri untuk menjadi “mushannif” dalam citra yang lain, penulis modern (writer), dengan kualifikasi-kualifikasinya yang lebih mudah. Hal ini ditopang oleh tumbuhnya jurnalisme dan dunia kepenulisan di pesantren.

Kedua perubahan itu digenapi oleh yang ketiga, perubahan publik pembaca dari tradisi menulis kaum santri. Di dalam peradaban manuskrip, kaum santri menulis untuk dirinya dan komunitasnya, serta untuk terlibat dalam arus pengetahuan yang dibentuk oleh para ulama terdahulu, melalui tradisi sanad -nya yang ketat, dengan genealogi (silsilah) pengetahuan yang terkait dengan sejarah masing-masing teks dari mana ia mendapatkan salinannya.

Budaya cetak mengubah hal itu dan memungkinkan kaum santri mendapatkan audiens yang lebih luas dan massif, melalui karya-karya yang mereka tulis. Penerbitan kitab-kitab memperluas lingkup komunitas pembaca (qari’) karya yang lahir dari tangan kaum santri—dari pembaca yang hanya mendapatkan kesempatan ketika terjadi hubungan guru dan murid ke pembaca umum yang secara “virtual” membentuk suatu “komunitas terbayang” pembaca-pembaca, yang menghubungkan santri di Indonesia dengan santri-santri dari belahan lain di dunia.

Seiring dengan diperkenalkannya suratkabar dan jurnalisme cetak, publik yang dihadapi oleh kaum santri juga semakin beragam, tidak terbatas lagi pada pembaca literatur keagamaan. Kaum santri dituntut untuk tidak selalu tampil dalam identitas tradisionalnya, tetapi meleburkan diri dalam pergaulan literasi yang mungkin cenderung menghilangkan latar belakang keagamaannya.

Kiprah kaum santri dalam jurnalisme cetak mempertemukan santri kepada publik yang sangat cair dan sulit ditebak. Di sisi lain, tuntutan pendidikan tinggi modern terhadap pesantren turut mendorong kaum santri untuk melayani audiens baru: publik akademik internasional. Para santri dituntut untuk menghadirkan kembali karakter kecendekiawanan, tidak dalam tampilan sebagai ulama atau pemuka agama, tetapi sebagai pengkaji agama yang kritis.

Ketiga perubahan itu belum kita kaji tuntas, atau petakan dampak-dampaknya. Maka, setiap kali kita dihadapkan pada persoalan “sampai di mana tingkat kemajuan tradisi menulis di pesantren”, kita kaum santri masih dihinggapi kebingungan mengenai kiprah kita sesungguhnya dalam dunia tulis-menulis. Apakah kita telah menjadi produsen dari gagasan dan tradisi pengetahuan kita sendiri? Ataukah kita masih menjadi konsumen dari gagasan dan tradisi pengetahuan orang lain? Sejauh mana kesantrian itu tercermin dari karya-karya yang telah kita ciptakan?.

Pertanyaan-pertanyaan itu sulit dijawab tanpa menjawab sederet pertanyaan yang juga sama pentingnya: Mengapa santri menulis? Untuk siapa santri menulis? Dan, menulis tentang apa?.

Kita kaum santri menulis pertama-tama untuk tujuan konservasi, menyelamatkan warisan pemikiran ulama terdahulu melalui karya-karya yang mu’tabarah, yang telah menjadi teks-teks inti (nucleus of texts) dari kosmologi pengetahuan di pesantren dan jaringan keilmuan pesantren.

Peran konservasi ini dapat berupa penyuntingan (tahqiq), penerbitan ulang, penerjemahan, dan anotasi atas kitab-kitab mu’tabarah atau kitab-kitab induk yang menjadi referensi kitab-kitab mu’tabarah tersebut. Hal ini mensyaratkan kemampuan filologi yang mumpuni, serta wawasan sejarah yang memadai.

Berbagai penemuan manuskrip ulama Nusantara memberi lapangan luas bagi misi ini, yang memungkinkan kita kembali berdialog dengan wawasan sejarah di abad-abad yang lampau dan konstelasi peradaban yang berkembang pada masa itu.

Segmen pembaca dari karya-karya yang lahir dari misi ini relatif jelas, yaitu komunitas santri (minimal di pesantren dan lingkungan pesantren terdekat) dan pembaca literatur keagamaan secara umum.

Misi konservasi ini secara teknis bisa jadi sulit dan menguras cukup banyak energi, tetapi secara ideologis relatif mudah, karena kejelasan misi dan sasaran pembacanya. Tetapi, lebih sulit lagi melakukan transmisi, yaitu menjadikan kepenulisan suatu transfer nilai, pengetahuan, dan gagasan dari hasil pembacaan atas karya-karya para ulama terdahulu menjadi suatu karya yang mengemas nilai, pengetahuan, dan gagasan itu secara utuh bagi pembaca masa kini.

Sebagian besar karya-karya santri terkini yang lahir, tidak secara utuh dan hanya sepotong-potong memerankan diri dalam proses transfer itu. Iklim penerbitan yang pragmatis dan berorientasi pasar menuntut karya-karya yang lahir untuk seefektif mungkin menyampaikan pesannya, tanpa berbelit-belit dan rumit. Kekayaan nuansa dari tiap aksara kitab-kitab itu tidak mampu tersampaikan secara maksimal.

Hal ini dilatarbelakangi oleh perubahan modus literer dari transmisi itu. Pada peradaban manuskrip, transmisi itu bersifat material (melibatkan keterampilan tangan membuat, mengolah, dan menjaga naskah), ideasional (keterampilan mengolah dan menyampaikan gagasan dan pesan-pesan naskah), sekaligus spiritual (aktivitas itu sendiri bernilai spiritual).

Saat ini, pada budaya cetak dan pasca-cetak, transmisi terjadi secara ideasional saja, yaitu menulis untuk menyampaikan pesan-pesan substansial kepada pembaca (pesan-pesan Aswaja).

Banyaknya karya santri yang mengangkat kembali pesan-pesan agama, menulis ulang riwayat para ulama (hagiografi), dan lain sebagainya, merupakan bagian dari kerja-kerja transmisi dalam tulisan kaum santri. Sasaran pembaca dari karya-karya ini juga relatif jelas: para peminat literatur keagamaan dan pembaca populer, khususnya mereka yang ingin mengakses kitab-kitab mu’tabarah melalui literatur sekunder.

Menulis untuk memproduksi suatu gagasan baru, suatu gaya penulisan baru, bahkan suatu paradigma keilmuan baru; itulah aspek yang paling sulit dari tradisi menulis kaum santri. Pada peradaban manuskrip, hal itu terjadi. Puncak-puncak keilmuan Islam tegak dari keberanian dan ketekunan para ulama terdahulu menulis karya-karya yang menjadi referensi penting di bidangnya, baik dalam keluasan pembahasan, orisinalitas pendekatannya, maupun gaya menulisnya.

Salah satu hal yang menjadikan Sullamut Taufiq dan Safinatun Najah sebagai dua teks penting dalam pembelajaran Islam di Nusantara, adalah kehebatan keduanya dalam menyintesiskan fiqh dan ushuluddin dalam suatu gaya tulisan yang padat dan kokoh. Hal ini yang sulit ditiru. Kemampuan produksi tampak hanya dimiliki oleh teks-teks cemerlang dari era manuskrip.

Agar tradisi penulisan kita sampai pada tahap ini, diperlukan suatu kajian menyeluruh terhadap fase-fase epistemologis yang telah dilewati oleh karya-karya terdahulu, sehingga memungkinkan kita untuk melampauinya dengan suatu karya yang menjadi tonggak baru.

Dalam literatur ilmiah-keagamaan terkini, hal ini menjadi pencapaian beberapa ulama kontemporer, dengan penguasaan mendalam atas turats, seperti almarhum Dr Wahbah Zuhaili dengan al Fiqh al Islami wa Adillatuhu, suatu kompendium fiqh empat mazhab.

Pencapaian ini mensyaratkan pengetahuan atas pencapaian akademis yang telah dicapai oleh para sarjana di dunia Islam hari ini. Bila ini dicapai, karya kaum santri Indonesia akan kembali menjadi kiblat bacaan dunia.

Apakah kita kaum santri akan menjadi pemain utama atau pemain cadangan dalam produksi pengetahuan di dalam kebudayaan pasca-cetak ini, itu tergantung pada kemampuan kita memerankan diri secara tepat di dalam peran-peran konservasi, atau transmisi, atau produksi di atas.

Dengan sumber-sumber pengetahuan yang datang dari arus-arus global, mau tak mau kita kaum santri harus memiliki sikap keterbukaan yang kreatif untuk menemukan posisi kita di tengah arus-arus itu dan mengartikulasikan apa yang kita miliki, dalam ketegangan dialektis antara warisan keilmuan Islam hasil ijtihad para ulama terdahulu dan tuntutan pembaca hari ini, tanpa mengorbankan satu sama lain. [dutaislam.com/gg]

Tulisan ini dipresentasikan Penulis saat menjadi narasumber Seminar “Tradisi Menulis di Pesantren, dari Masa ke Masa” yang diselenggarakan oleh Santri Media, di Kantor PWNU Jawa Timur, Ahad, 24 Januari 2016. Dimuat NU Online pada 28 Januari 2016.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini