Senin, 02 Oktober 2017

Lokalisasi Dibuat Shalawatan, Preman Pungkruk Tidak Terima dan Tantang Habib Abu Bakar Assegaf

Foto; Habib Abu Bakar Assegaf, Jepara
DutaIslam.Com - Pertengahan tahun 2014, Habib Abu Bakar Assegaf (Jepara) sengaja mengajak seorang jamaah Majelis Cinta Allah dan Nabi (MACAN) untuk mengunjungi daerah wisata kuliner di Jepara yang lebih dikenal sebagai tempat lokalisasi, Pungkruk namanya. Kawasan Pantai Mororejo, sebelah Timur Pantai Bandengan Jepara.

Bersama jamaah tersebut, Bang Abu, -panggilan akrab Habib Abu Bakar Assegaf,- berangkat menggunakan mobil. Laki-laki yang diajak Bang Abu ke Pungkruk sempat heran, buat apa dan mau apa mau ke tempat yang justru dihindari orang-orang di Jepara tersebut.

Di Pungkruk, Bang Abu minta diajak keliling seluruh lokasi yang diduga banyak digunakan tempat zina tersebut. Di sana, Habib Abu Bakar melihat sendiri ada banyak anak-anak usia remaja yang nongkrong, udud dan berbusana seksi. Bahkan gadis berseragam sekolah ada yang tumpak-tumpakan (duduk) mesra di atas bahu seorang laki-laki.

Tidak bisa berbuat apa-apa, Habib Abu hanya membatin, "aku tidak rela bumi Allah di Pungkruk ini dijadikan tempat maksiat tanpa batas hingga anak-anak juga terlibat," ucapnya dalam hati.

Di depan sebuah rumah kuliner, Habib Abu Bakar waktu itu sempat meminta berhenti. Dikira sopir akan membeli makanan, ternyata tidak. Pintu dibuka pelan, minta ijin supaya sopir tetap di dalam mobil.

"Ya Allah, aku tidak rela bumi ini dijadikan hambamu sebagai tempat maksiat," demikian ucap Habib Abu Bakar Assegaf, sambil kakinya dihujamkan ke tanah. Dug dug!

Kembali Habib Abu Bakar masuk ke mobil. Jamaah MACAN yang di dalam mobil bertanya, "tadi pas jenengan injak kaki kok ada gempa, Bib. Apa yang jenengan lakukan tadi?" Mereka heran. Tapi Habib Abu hanya tersenyum. Hening.

***

Beberapa waktu setelah kunjungan ke Pungruk itu, Habib Abu Bakar mengutarakan maksud ingin membersihkan maksiat di Pungkruk kepada Ketua PC Ansor Jepara, Muhammad Kholil. Muncullah ide awal untuk mengajak para penghuni Pungkruk bersholawat. Hal yang sangat berisiko jika tidak ada dukungan kuat dari pelbagai pihak. 

Ansor Jepara kemudian mengajak Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU dan juga majelis-majelis lain untuk bergabung menyemarakkan rencana kontroversial tersebut: "Pungkruk Bersholawat". Semua elemen ulama, NU, habaib, dan pemuda di Jepara siap mengirimkan ribuan massa ke Pungkruk. Bahkan grup-grup rebana siap mengirim 1000 personil untuk mengiringi shalawatan. 

Mendengar rencana tersebut, ketua pengaman lokasi Pungkruk (preman) marah, dan tentu tidak terima. Alasan mereka, apa tidak ada tempat lain yang bisa digunakan untuk shalawatan? Mengapa harus Pungkruk yang dipilih oleh Habib Abu Bakar Assegaf? Tidakkah jumlah masjid dan lapangan jumlahnya ada ribuan di Jepara? 

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab sendiri oleh ketua preman. Ia butuh bertemu habib, tapi lewat siapa dia bingung. Tiba giliran Habib Abu Bakar Assegaf yang datang langsung ke lokasi, dikawal puluhan Ansor dan Banser. Maksud kedatangan untuk meminta ijin langsung kepada ketua pengamanan dan pengelola Pungkruk. Saat itulah sang premen punya kesempatan bertatap muka. 

Oleh Banser, Habib Abu Bakar diminta tidak muncul demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Waktu itu, puluhan preman sudah berjaga di pintu masuk. Banyak yang berkalung, bertato, gondrong rambut, tindikan serta kekar-kekar tubuhnya. 

Tanpa takut, puluhan Banser berada di barisan terdepan. Habib Abu Bakar di dalam mobil. Tidak boleh keluar oleh satuan Banser. Demi keamanan. Namun sang preman ternyata tidak segera mau mengijinkan digelarnya acara kecuali bertemu langsung dengan inisiator pertama, Habib Abu. 

"Mana yang namanya Habib Abu Bakar?" Tanyanya kepada Banser dan Ansor. 

"Jenengan cari Abu Bakar? Saya Abu Bakar?" Tiba-tiba saja Habib Abu Bakar Assegaf bisa menerobos barisan Banser dan menjawab pertanyaan sang preman.

Beberapa detik setelah dijawab habib, sang preman tiba-tiba tersungkur ke tanah, lemes, lunglai tak berdaya. Sabahat Ansor tidak tega melihat kejadian aneh yang membuat kegagahan sang preman hilang seketika itu juga. Tubuhnya ingin dibantu tegak oleh Banser, tapi dengan cepat Habib Abu melarangnya. 

"Jangan, jangan diangkat tubuhnya! Biarkan saja dia berdiri sendiri agar tidak lumpuh," ucap habib kepada sahabat Banser yang akan menolong. Semua terdiam. Keberanian preman yang lain mendadak hilang.    

Tantang-menantang tidak jadi adu fisik meski sempat saling pelototatan mata. Situasi sempat menegang karena ketua pengaman Pungkruk tak kunjung memberi ijin acara "Pungkruk Bershalawat".

Acara shalawat dalam kerangka amar ma'ruf di Pungruk tersebut akhirnya berhasil digelar pada Ahad pagi, 21 September 2014. Para habaib, kiai, tokoh Jepara hingga Wakil Bupati Jepara saat itu (Subroto) hadir di panggung utama bersama 1000 rebana. 

Ada 5000 lebih jamaah "Pungkruk Bershalawat" yang memadati lapangan lokalisasi. Untuk sehari, wanita-wanita yang menghuni Pungkruk ikut ngaji dan bershalawat. Aurat mereka tak ada dibuka meski masih ada yang "ngamar" dengan nyamar. Jilbab makin laris dipakai. Para preman di sana banyak yang ikut menyukseskan acara menjadi panitia. Peci dan sarung menghiasi busana mereka. 

Kini, Pungkruk sudah berubah jadi lokasi wisata megah setelah dua kali pintu masuknya dikencingi Habib Abu Bakar Assegaf pasca "Pungkruk Bershalawat". Lokasi tersebut dibangun oleh investor dengan proyek baru yang diberi nama "Jepara Ocean Park". Disebut-sebut sebagai Waterpark terbesar, terlengkap dan termegah di Jawa Tengah.

Baca: Edisi Bumi Pungkruk Jepara Bersholawat

Habib Abu Bakar tidak peduli jika "Pungkruk Bershalawat" yang dulu digelar akhirnya dimanfaatkan oleh para investor sebagai pintu masuk untuk mengembangkan bisnisnya. Bagi Habib yang juga penasehat Dutaislam.com tersebut, membebaskan bumi Allah dari kumpulan maksiat yang disengaja adalah salah satu tugasnya sebagai pendakwah.

Kini, sang preman yang pernah mencari Habib Abu Bakar di atas, kabarnya masih sakit dan menderita stroke meski tidak lumpuh. Cara dakwah dengan shalawatan dan ilmu hikmah inilah yang dulu ditakuti penjajah Belanda, dan kini ditakuti wahabi takfiri. Tak perlu sweeping. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini