Jumat, 13 Oktober 2017

Kisah Ta’dzim Kiai Utsman, Seharian Menunggu Kiai Romly

Foto: Istimewa
Oleh M Afifudin Dimyathi

DutaIslam.Com- KH. Utsman Al-Ishaqy merupakan seorang ulama kharismatik dan mursyid thoriqoh qodiriyyah wan naqsyabandiyyah. Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena KH. Utsman Al-Ishaqy masih keturunan Sunan Giri.

Beliau merupakan kesayangan KH. Romli Tamimy (ayah KH. Musta’in) Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Beliau dibaiat sebagai mursyid bersama Kiai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri asal Mojokerto. Sepeninggal Kiai Musta’in (sekitar tahun 1977), beliau mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya jalan jatipurwo gang 7 kecamatan semampir Surabaya.

Sejak menjadi santri sudah terkenal sikap ta’dhimnya kepada gurunya Kiai Romly. Saking tawadhu’ dan ta’dhimnya, setiap Kai Usman sowan ke Kiai Romly di jombang, Kiai Usman jalan kaki dari rumahnya yang ada di Surabaya menuju Jombang.

Cerita lain, pernah di suatu pagi, ketika Kiai Usman tiba di rumah Kiai Romly, Kiai Usman menunggu di teras luar pintu. Sedangkan Kiai Romly tidak tahu kalau Kiai Usman telah menunggu di luar. Ketika Kiai Romly keluar untuk pergi ke Tebuireng menghadiri sebuah acara. Kiai Romly akhirnya bertemu dengan Kiai Usman, sayangnya Kiai Romli langsung berpesan kepada Kiai Usman, “sek yo man, aku tak nang tebuireng diluk, awakmu entenono nang kene” (tunngu dulu ya Man, saya mau pergi ke Tebuireng sebentar, kamu tunggu di sini saja). “inggih Kiai” (iya Kiai). Jawab Kiai Usman.

Ternyata waktu di Tebuireng, Kiai Romly lupa kalau dirumah ada Kiai Usman yang sedang menunggu. Sampai akhirnya Kiai Romly pulang menjelang magrib. Sesampai dirumah, Kiai Romly kaget. Ternyata Kiai Usman masih di tempatnya dengan posisi yang tidak berubah. Kiai Usman menunggu dengan sabar kedatangan Kiai Romly.

“Ya Allah, awakmu ket mau ngenteni nang kene?” (Ya Allah, kamu dari tadi menunggu di sini?). “Inggih Yai” (iya kiai), jawab Yai Usman.

“Ya Allah tak dungakno mulyo uripmu Usman, mulyo uripmu.” (Ya Allah saya doakan hidupmu mulia Man).

Pada akhirnya kesabaran dan keikhlasan Kiai Usman sebagai murid dibalas dengan keridhoan Kiai Romly sebagai guru, keridhoan yang paling diharapkan seorang murid untuk keberkahan ilmunya. [dutaislam.com/pin]

M Afifudin Dimyathi, Pengasuh pesantren tahfidzul Quran PP Hidayatul Quran Darul Ulum Rejoso, Jombang. Kisah ini diceritakan oleh H. Mustain Dzul Azmi dari Ayahanda (H. Dimyathi Romly).


Sumber: islami.co

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini