Sabtu, 28 Oktober 2017

Kisah Lucu Santri Kiai Kholil Pakai Doa Aqiqah untuk Berkelahi

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com – Doa yang benar saja belum tentu diterima, bagaimana jadinya jika jika doa dibaca salah? Kisah ini pernah terjadi pada salah seorang santri Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura, yang salah mengamalkan doa. Anehnya, doa tersebut malah manjur meskipun salah.

Alkisah, Kiai Kholil yang dikenal wali dan punya banyak karomah punya khodam dari salah satu santrinya. Si Khodam bertanggung jawab mengurus kitab-kitab beliau. Dia membawanya ketika sang kiai mengajar. Setelah itu membersihkannya dan meletakkan kembali ke tempat semula.

Suatu hari ketika si santri membersihkan kitab tidak sengaja melihat tulisan "DO'A AQEQET" (doa berkelahi) dalam tulisan Arab di salah satu halaman kitab.

"Wah! ini doa kesukaan saya," gumamnya dalam hati.

Si khodam segera menghafalkan doa yang hanya beberapa kalimat itu. Merasa sudah hafal, dia kembalikan kitab itu ke tempat semula.

Sampai pada suatu hari si khodam terlibat perselisihan dengan santri lain yang menjadi ketua pengurus pondok pesantren. Khodam yang tubuhnya kerempeng itu biasanya selalu mengalah. Tetapi kali ini dia ngeyel tidak mau mengalah. Dia menantang ketua pengurus pondok yang tubuhnya lebih besar dan kekar.

Kemudian khodam komat kamit membaca "doa aqeqet" yang sudah dihapalnya sambil menyingsingkan lengan bajunya.

"Maju kamu!" tantang ketua pengurus sambil mengenakan kopiahnya.

"Oh, jelas," kata khodam dengan posisi siap tempur.

Perkelahianpun dimulai. Santri-santri berdatangan menyaksikan tontonan gratis itu.

Sementara khodam terus mendesak mundur ketua pengurus. Sorak sorai bergemuruh. Ketua pengurus kaget dan terheran-heran dengan kekuatan serangan khodam yang sejak dulu dia remehkan.

Akhirnya, ketua pengurus pondok menyerah kalah. Padahal dia dikenal memiliki banyak ragam ilmu beladiri.

Kejadian itu lantas membuat si khodam terkenal. Pada hari-hari berikutnya, banyak santri yang menjajal kekuatan khodam. Setiap berkelahi khodam selalu menang.

Ketenaran si khodam akhirnya terdengar oleh Syaikhona Kholil. Khodam dipanggil oleh kiai.

"Khodam, kesini kamu!" panggil kiai.

"Baik kyai," jawab khodam dengan ta'dzim dan bergegas menghampiri.

"Saya dengar kamu selalu menang berkelahi," selidik Kiai Kholil penasaran.

"Barokahnya kitab Kyai," jawab khodam merendah.

"Mengapa begitu?" tanya kyai Kholil.

"Saya mendapatkan do'a berkelahi (akeket) dari kitab kyai," terang khodam.

"Coba saya mau lihat," kata kyai Kholil semakin ingin tau.

"Ini kyai," jawab khodam sambil menunjukkan halaman kitab.

Ternyata, halaman yang ditunjuk khodam bertuliskan: عقيقة .

Kitab di pondok pesantren memang kebanyakan bertulisan Arab tanpa haroqat atau tanda baca. Istilahnya Arab Gundul. Dan selain dalam bahasa Arab, biasanya huruf Arab tersebut diberi keterangan berupa tulisan Arab juga yang disebut Huruf Pegon.

Bedanya, meskipun sama-sama huruf Arab, huruf Pegon ini bukanlah bahasa Arab tapi merupakan bahasa daerah. Biasanya bahasa Jawa atau Madura.

Kata عقيقة yang seharusnya dibaca Aqiqah dalam bahasa Arab malah dibaca “Aqeqet” atau “Akeket” oleh si khodam yang berarti "Berkelahi" dalam bahasa Madura.

"Oh, ini do'a AQIQAH nak. Bukan AKEKET," kata Kyai Kholil.

Mendengar keterangan Kiai Kholil, khodam terkaget lalu tertunduk malu. Doa yang dia pakai untuk berkelahi ternyata doa untuk Aqiqah. Khodam salah baca. Tapi kok manjur? Itulah kekuatan doa yang diiringi keyakinan kuat di hati.

Syaikhona K.H. Mohammad Kholil memang seorang ulama besar di Nusantara. Beliau adalah guru dari dua Kyai pendiri Ormas Islam terbesar di tanah air yaitu K.H. Hasyim Asy'ari (Nahdlatul Ulama) dan K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah). Beliau mempunyai pondok pesantren di Bangkalan, Madura. [dutaislam.com/ed/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini