Kamis, 05 Oktober 2017

Hari Santri Teguhkan NKRI


Oleh M. Rikza Chamami

DutaIslam.Com - Sebentar lagi, 22 Oktober 2017 akan menjadi momentum spesial bagi bangsa Indonesia. Saat itulah peringatan hari satri untuk yang ketiga kali diperingati setelah Presiden Jokowi menetapkan Kepres Nomor 22 tahun 2015 tentang Hari Santri. Dan selalu saja ada yang menarik dari pernak-pernik peringatan hari santri itu.

Yang pasti, hari santri ini ditetapkan atas dasar jasa para ulama bersama para santrinya berjuang membela negara dari ancaman penjajah. Ulama nusantara sangat jelas perannya dalam merencanakan dan memperjuangkan kemerdekaan. Namun lebih dari tujuh puluh tahun kemerdekaan bangsa ini, ulama seakan tidak dianggap sebagai pejuang kemerdekaan. Maka ketika Jokowi memberikan hadiah “hari santri” ini, semakin nyata bahwa jasa ulama sangat besar bagi Indonesia.

Lalu milik siapa hari santri? Pertanyaan ini muncul belakangan setelah gebyar hari santri tahun 2015 melahirkan banyak terobosan nyata. Seantero nusantara dan bahkan belahan dunia digegerkan dengan trending topic hari santri nasional. Kegiatan kirab santri dan event lainnya juga secara kompak digelar di hampir tempat seperti kantor pemerintah, rumah ibadah, lembaga pendidikan dan lainnya. Jadi, hari santri ini milik semua bangsa Indonesia.

Kurang tepat menyebut hari santri ini hanya milik organisasi masyarakat tertentu saja. Perlu ditegaskan kembali, bahwa hari santri adalah milik semua bangsa Indonesia. Lalu kenapa masih ada yang menolak hari santri? Semestinya tidak menolak, akan tetapi ingin mencari garis sanding pemaknaan hari santri yang tepat. Bahwa hari santri itu tidak hanya milik kaum sarungan dan kerudung, tapi untuk yang bercelana dan berhijab modern.

Sangat sederhana sekali semestinya kalau kita mau memaknai hakikat hari santri. Yaitu, hari dimana para rakyat Indonesia memekikkan kata “Merdeka dan Ganyang Musuh Indonesia”. Dan saat itu, perjuangan untuk meraih kemerdekaan dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia tidak pandang bulu. Semua bersatu padu merebut kemerdekaan, termasuk para santri. Itu yang perlu dicacat secara baik.

Pilihan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri inilah yang kemungkinan masih menjadi pertanyaan. Memang di tanggal 22 Oktober 1945 terjadi fatwa resolusi jihad dari KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Dimana para pemuda-santri diminta untuk wajib melawan penjajah. Maka terjadilah peristiwa heroik 10 November 1945 yang kemudian disahkan sebagai hari pahlawan. Perlawanan sengit dengan penjajah 10 November tidak akan sukses jika tidak didahului fatwa resolusi jihad.

Disinilah makna hakikat hari santri, dimana perjuangan meraih kemerdekaan itu tidak mudah. Setelah proklamasi berjalan, masih ada musuh-musuh bangsa yang ingin memecahbelah Indonesia. Dan disini, pemuda-santri tampil melakukan perlawanan secara nyata untuk menghadang dan memukul penjajah hingga kemerdekaan itu berada di tangan bangsa Indonesia.

Semangat santri untuk membawa Indonesia merdeka bukan isapan jempol bekala. Namun ada proses spiritual yang harus dijalani. Para santri sebelum melawan penjajah dilatih dengan ilmu tirakat dan riyadlah melalui puasa dan dzikir. Selain itu, santri dilatih secara fisik agar kuat menghadapi meriam dan peluru musuh. Itu semua dilakukan dengan proses spiritualisasi agama demi bangsa Indonesia.

Maka, momentum hari santri 2016 menjadi tepat jika semua bangsa Indonesia bangkit menjaga nasionalisme sejati. Bangsa kita sudah merdeka dan harus dijaga kemerdekaan itu dengan semangat persatuan dan kesatuan. Akhir-akhir ini banyak sekali ancaman desintegrasi bangsa, maka seluruh bangsa Indonesia perlu bangkit untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Santri, menjadi salah satu komponen bangsa Indonesia berkomitmen melanjutan fatwa resolusi jihad Mbah Hasyim. Maka siapapun yang melawan kedaulatan Indonesia akan berhadapan dengan aparat keamanan. Dan santri akan turut serta di dalamnya. Pancasila sudah menjadi simbol kejayaan bagi negeri ini. Dan NKRI menjadi harga mati yang tidak boleh ditawar-tawar kembali.

Maraknya gerakan mendirikan negara Islam dengan sistem khilafah di Indonesia, adalah bukti kegagalan rakyat dalam memahami konsep kenegaraan. Indonesia adalah negara hukum yang taat melaksanakan konsep kehidupan Islami. Dimana Islam yang hadir di tengah masyarakat adalah Islam rahmatan lil ‘alamin; Islam yang memberikan kedamaian dan kemanusiaan.

Pesan menjaga kedaulatan NKRI saat hari santri harus benar-benar diwujudkan. Jangan sampai bangsa kita rela dijajah oleh siapapun. Negara kita harus berani mandiri dan berdaulat. Rakyat Indonesia juga perlu dikuatkan ilmu pengetahuannya seraya dengan mengasah potensi ekonomi. Agama juga perlu dijadikan perekat kehidupan bangsa. Selamat hari santri bagi seluruh bangsa Indonesia. [dutaislam.com/gg]

M. Rikza Chamami
Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Dosen UIN Walisongo.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini