Sabtu, 21 Oktober 2017

Austria Harus Belajar Islam Nusantara


DutaIslam.Com - Di sela-sela kegiatannya belajar mengikuti Program Sandwich di Austria,  Nurul Friskadewi dosen mata kuliah Antropologi  Budaya Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAINU Temanggung, Jawa Tengah berkesempatan mempromosikan budaya dan keunikan Indonesia di negeri tersebut, khususnya Islam Nusantara yang ramah, toleran dan jauh dari faham mengafirkan, membid'ahkan dan menyalahkan kelompok lain.

Mahasiswi doktoral UGM Yogyakarta yang juga lolos Program 5000 Doktor Kemenag itu berkesempatan mengikuti Program Sandwich di Austria yang direncanakan akan berlangsung selaam empat bulan.

As we know, Austria merupakan tempat nomor 1 di dunia yang paling nyaman, oleh karenanya banyak pendatang sebagai student, refugees, atau memang menikah dengan orang Austria sendiri,” ujar dia saat dihubungi melalui telepon seluler, Jumat (20/10/2017).

Meskipun banyak perbedaan, kata dia, tetapi tetap tertib, teratur, orang-orang ramah, dan tidak saling menghujat misalnya orang yang berkulit putih seperti dari orang Austria sendiri, Jerman dibandingkan dengan orang Nigeria, dan lainnya.

“Orang yang berjilbab seperti saya menjadi minoritas dan tetap dihargai. Di sisi lain, saya membawa nama Indonesia yang pasti orang-orang banyak yang ingin tahu mengenai Indonesia," kata Nurul.

Ia juga mengampanyekan Islam Nusantara yang ramah dan toleran yang selama ini dicoreng oleh teroris asal Indonesia. Padahal menurut dia, hal itu hanya beberapa oknum yang mengatasnamakan Islam.

"Dalam beberapa hal yang saya alami, saya sebagai orang Indonesia hampir tidak diketahui. Orang mengenal saya sebagai orang Filipina, atau Pakistan. Dalam beberapa pertanyaan, mereka lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Dengan dua posisi saya tersebut, setidaknya saya merefleksikan diri saya sendiri, bahwa pada saat ini berhubungan dengan dunia luar sudah tidak terelakkan lagi,” jelasnya.

Ia juga membeberkan, meski tempat tersebut bukan bangsanya sendiri namun ia menganggap sudah seperti negerinya sendiri. “Saya mencoba melihat bangsa lain dan saat itu juga saya melihat bangsa sendiri. Latar sejarah, kultur, sosial yang membuat berbeda. Tetapi ada yang lebih penting bagi saya yaitu pendidikan,” ujar Nurul

Di luar program kerjasama, lanjut dia, saya mengikuti kegiatan WAPENA (Warga Pengajian Indonesia di Austria). “Saat ini saya sedang mempersiapkan acara Muslime aus Fernost yang bertemakan Einheit in der Vielfalt pada tanggal 21 Oktober 2017 di Kudlichgasse 3/5, 1100 Wien. Tema dari acara ini adalah berbeda-beda tapi satu, di mana mengenalkan Islam di Indonesia dengan melihat penyebaran agama Islam melalui budaya yang akan ditampilkan dengan pencak silat, gamelan, wayang, qasidah, pameran photography, makanan khas Indonesia dan lainnya,” bebernya.

Dalam berbagai sekolah kinder dan perbincangan bersama orangtua anak, kata dia, saya melihat pola pendidikan di sini setidaknya memberikan pesan moral bagi saya bahwa pendidikan senantiasa memberikan efek positif karena dari kecil ditanamkan pendidikan mengenai bagaimana memuji orang lain, bagaimana menghargai orang lain, bagaimana mengantri, bagaimana memberikan kesempatan bagi orang lain untuk duduk ketika berada di tram, bagaimana peduli dengan orang lain, bagaimana mendahulukan orang tua dalam berbagai pelayanan, bagaimana secara bersama-sama menjadikan bangsa yang maju, bukan maju untuk mengalahkan yang lain.

“Perbedaan menjadi colourfull of life bukan menjadi sumber konflik,” tandasnya.

Sesuai rencana, program yang sudah berjalan sejak 1 Oktober 2017 itu nanti akan berakhir sampai 31 Januari 2018 mendatang. Ia juga membeberkan, bahwa melalui program itu, jika hanya dari aspek pengalaman akademis saja tidak cukup. Sebab, melalui pertukaran di satu sisi, kata dia, saya melihat banyak hal baru, di mana memberikan pengertian kepada saya  mengenai perbedaan. [dutaislam.com/ibda/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post

1 komentar:

Saya mengingatkan, jangan terlalu terpesona dengan kehidupan org-org non-muslim, kehidupan dunia yg gemilang sudah dimudahkan bagi mereka. Asalkan mereka mau kasab dgn benar dan tidak zalim secara berlebihan, maka kesuksesan hidup di dunia sudah dijanjikan. Sementara bagi muslim, kasab dan tidak zhalim saja tidak cukup, ada syarat-syarat tambahan agar kehidupan dunianya baik. Jadi di dunia ini ada permainan yg berbeda antara muslim dan non-muslim.

POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini