Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Santri Lelana: Perjalanan Pencarian Ilmu Kiai Sholeh Darat (Bagian 1)

    Admin: Dutaislam
    Dimuat: Kamis, 14 September 2017
    A- A+
    Foto yang selama ini diyakini sebagai gambar wajah KH Sholeh Darat as-Samarani (NU Online).
    Oleh Nur Ahmad

    DutaIslam.Com - Nama yang sering kali muncul di sampul kitab-kitab karyanya adalah Muḥammad Ṣāliḥ bin ‘Umar as-Samārānī. Namun masyarakat mengenalnya sebagai Kiai Sholeh Darat. Beliau dilahirkan pada kisaran tahun 1820 dalam keluarga kiai di Kedung Cumpleng, Jepara, Jawa Tengah. Kisah yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa ayahnya, Kiai ‘Umar, adalah pendukung Pangeran Diponegoro (1785-1855) pada Perang Jawa 1825-1830.

    Oleh karena itu, yaitu fakta bahwa beliau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mana pandangan anti-Belanda sangat kuat dan selalu dalam lingkungan yang demikian selama masa pendidikannya, maka tidak heran bahwa Kiai Sholeh pada masa selanjutnya terus mengembangkan dan mengajarkan pandangan anti-kolonialisme selama hidupnya. Lebih dari yang lainnya, Kiai Sholeh dikenal sebagai penulis pegon utama di masa keemasan percetakan muslim di Singapura dan Bombai yang melalui mana karya-karyanya mendominasi kitab Pegon sepanjang abad ke-19 dan tersebar hingga seluruh dunia Islam di Asia Tenggara.

    Awal kehidupannya adalah persiapan yang menyeluruh untuk memenuhi peran yang telah disiapkan untuknya sebagai kiai, yaitu menjadi pendidik komunitas muslim (ummah). Bagian utama dari persiapan ini adalah pengembaraan intelektual sebagaimana dipahami dalam tradisi Islam. Al-Qur’an mengajarkan, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah akan meninggikan (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha-teliti apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Mujadalah/58: 11).

    Semenjak kecil kaum muslim telah diajarkan bahwa pengembaraan untuk mencari ilmu adalah suatu kewajiban bagi mereka, wanita dan laki-laki. Di seluruh dunia Islam, sebuah hadis telah mampu memberi inspirasi untuk menanggung beban berat pengembaraan jauh untuk mencari ilmu pengetahuan. Dengan demikian, maka bisa dipahami mengapa banyak santri yang bertalenta mengembara mengelilingi nusantara. Bahkan melewati batas-batas gugusan kepulauan yang sekarang disebut Indonesia hingga ke Mekkah. Dari satu pesantren ke pesantren lainnya dengan tujuan memeroleh pengetahuan dan pendidikan supaya mereka dapat memulai pesantren mereka sendiri.

    Kiai Sholeh menyatakan bahwa kaum muslim harus rela menanggung beban berat perjalanan mencari ilmu, meskipun untuk itu mereka harus “melewati lautan api” (Sholeh as-Samarani, Sabīl al-‘Abīd, 64). Selain itu, Kiai Sholeh juga memperingatkan para santri bahwa tujuan dari pengembaraan berat ini adalah agar seorang santri mampu hidup sesuai dengan tuntunan Tuhan. Sangat dilarang bagi seorang santri yang mencari ilmu hanya untuk mencari harta atau kekuasaan (Sholeh as-Samarani, Sabīl al-‘Abīd, 64).

    Kiai Sholeh mengawali perjalanan akademis panjang ini dari rumahnya. Adalah suatu kebiasaan baik yang ada di masyarakat Jawa kala itu, bahkan hingga sekarang, bahwa seorang kiai akan mendidik anaknya sendiri di masa awal pendidikan mereka (Umam, Localizing Islamic Orthodoxy, 119).

    Cukup aman untuk menyatakan bahwa Kiai Sholeh memeroleh pendidikan membaca al-Qur’an dan menulis Bahasa Arab dari ayahnya. Terlebih lagi jika kita mempertimbangkan bahwa kedua kompetensi ini adalah dasar yang harus dikuasai Kiai Sholeh ketika beliau nyantri pada masa selanjutnya di pesantren mana pelajaran yang Kiai Sholeh terima diperuntukkan bagi mereka yang telah menguasai keduanya.

    Dari rumah, Sholeh muda mulai mengembara dari satu pesantren ke pesantren lainnya, dari satu kiai ke kiai lainnya. Cukup sulit untuk menetapkan susunan kronologis pesantren-pesantren dari mana dia pernah memperoleh pendidikan dan rentang waktu pelajaran yang dia tempuh. Dalam satu-satunya rujukan utama, Kiai Sholeh hanya menyebutkan nama-nama kiai yang menjadi gurunya dan kitab apa yang mereka ajarkan padanya (Sholeh as-Samarani, al-Murshid al-Wajīz, 118–20).

    Informasi ini nampaknya disusun berdasarkan pada tempat pesantren, tanpa petunjuk waktu sedikitpun. Berdasarkan pada rujukan ini, urutannya adalah Pati, Kudus, Semarang, kemudian ke pusat pendidikan tinggi Islam bagi cendekiawan nusantara kala itu, Mekkah, dan akhirnya kembali ke Semarang. Meskipun kunjungannya ke Singapura tidak dapat disangkal, tidak ditemukan informasi bahwa Kiai Sholeh mengambil ilmu dari seorang guru di Singapura. Oleh sebab itu, kunjungan ke Singapura dinilai kurang bermakna dalam konteks pengembangan intelektual Kiai Sholeh.

    Kiai Sholeh menyebutkan bahwa awal pendidikannya di pesantren adalah di Pati, di mana dia belajar beberapa kitab fikih tradisional bersama Kiai Syahid. Sholeh muda bermukim cukup lama di pesantren ini sehingga beliau menguasai pendidikan dasar, dikenal dengan ‘ilm al-’ālāt untuk mempelajari kitab-kitab di bidang jurisprudensi Islam, yang sebagiannya hanya ditujukan kepada santri tingkat tinggi, misalya Fatḥ al-wahhāb, Iqnā’ oleh Khaṭīb Sharbīnī, dan Fatḥ al-mu‘īn (Bruinessen, Kitab kuning, 226-269).

    Kudus adalah tujuannya pendidikan Kiai Sholeh yang berikutnya. Pada umumnya, kurikulum tradisional pesantren menuntut seorang santri untuk  mempelajari ‘ilm al-’ ālāt sebelum seorang dapat melanjutkan studi tingkat lanjut pada bidang fikih tingkat lanjut yang biasanya terkandung dalam kitab-kitab syarah dan hasyiyah, ilmu tafsir al-Qur’an, dan Hadis (Sholeh as-Samarani, Minhāj al-Atqiyā’, 376–78). 

    Sesuai dengan kurikulum inilah, Kiai Sholeh kitab klasik tafsir al-Quran, Tafsīr Jalālain, dari Kiai Raden Muhammad Shalih bin Asnawi Kudus. Mata-rantai intelektual lainnya yang Kiai Sholeh peroleh di Kudus adalah pelajaran yang beliau tempuh bersama Kiai Asnawi, ayah dari Kiai Raden Muhammad Shalih bin Asnawi (Sholeh as-Samarani, al-Murshid al-Wajīz, 118). [dutaislam.com/gg]

    Bersambung....

    Nur Ahmad,
    Wakil Sekretaris PCINU Belanda
    Mahasiswa Master di Vrije University Amsterdam

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: