Senin, 11 September 2017

Mengapa Aku Ingin Jadi Banser?

Foto: NU Online
Oleh Vinanda Febriani

DutaIslam.Com – Siapapun yang sudah alergi mendengar istilah Banser mungkin tidak akan sudi membaca tulisanku kali ini. Ya, sejak kurang lebih satu tahun yang lalu aku memang mengidamkan jadi seorang Banser. Banser sudah menjadi sebuah cita-cita.

Entah mengapa. Bukan karena aku mencari ketenaran, pujian atau yang lain. Aku sangat suka keberaniannya (teringat tragedi Bom yang membunuh salah satu anggota Banser yang tengah mengamankan sebauh gereja), ketekunannya, keikhlasannya, perjuangannya, dan segala yang ia pertaruhkan demi NU dan NKRI. Banser tidak hanya omong kosong atau adu domba saja. Banser berani bertindak nyata.

Berulang kali aku katakan, aku cinta NU karena Banser. Banser lah yang mula-mula mengenalkanku Nahdlatul Ulama (NU), ormas paling toleran di Indonesia. Banser adalah banom GP Ansor (Anak kandung NU) yang sangat "gila". Disaat orang-orang sok ngislam sibuk menyebarkan label "kafir" kepada saudaranya (saudara seiman, sebangsa, dan se tanah air), Banser berupaya menghilangkan cap "Kafir" yang ditempelkan dengan dalih Politik.

"Aduhaiii.. apa sih maumu ser, Banser?".

Disaat orang-orang eslam sibuk mengkafirkan orang Islam, NU-mu bahkan mampu mengislamkan orang yang belum islam. Sungguh mulia bukan?

Lah terus, kenapa masih banyak yang nyinyir kepada NU dan menganggap bahwa NU adalah perusak Islam? Padahal banyak orang "non muslim" yang masuk islam melalui perantara kiai dan ulama NU. Disaat para lasykar eslam sibuk "melaknat" Polri yang konon katanya bertemu Polri serasa bertemu dengan zionis, eh justru Banser merangkul dan memeluk erat aparat kepolisian untuk sabar dan selalu tegar atas fitnah dan olokan kaum seler seprai online. Aneh bukan?

Ya memang begitulah seharusnya ciri khas umat beragama yang baik: mengutamakan persatuan, kesatuan, persaudaraan dan menghindari mulut mencela memprovokasi atau melempar fitnah-fitnah murahan.

Banser adalah banom GP Ansor NU paling “aneh”  se jagad. Benar kata kaum sebelah: Banser menjaga gereja namun membubarkan pengajian. Jangan terkecoh! karena tak ada tindakan tanpa alasan. Banser mengamankan gereja karena kemanusiaan, membubarkan pengajian karena isi ceramah ceplas ceplos nggak karuan. Provokatif. Memicu konflik.

Jadi, sudah jelas, ya. Sudah banyak klarifikasi dan penjelasan dari NU dan GP Ansor soal apa yang sering dikatakan tetangga ngislam sebelah mengenai lika-liku berNUsantara ala Banser.  Soal caci-maki, olokan, fitnah, dan segala yang diterimanya dari golongan yang sok “pengkapling syurga. Ah, biarlah mereka berkata apa. Yang penting niatku lillahi ta’ala

“Kamu pingin jadi Banser? apa nggak malu?” Begitulah pertanyaan orang "aneh" yang sering dilontarkan kepadaku.

"Panggilan dari hati nurani" jawabku. Tak usah diperpanjang. Bagiku, Banser terbukti berani menyelesaikan masalahnya sendiri, berani bertemu aparat ketika ada suatu masalah tanpa harus susah-susah cari pembelaan. Apalagi sampai mendatangkan pengacara papan atas dan repot-repot pergi umroh namun lama nggak pulang-pulang (awas! ada yang rindu).

Setiap orang memiliki cita-cita meskipun berbeda-beda. Jangan salahkan A ingin jadi gubernur atau B jadi profesor. Jangan salahkan aku ingin jadi Banser karena itu memang cita-citaku. Dan aku tidak akan pernah menyalahkan dirimu ingin jadi apa kelak karena itu hakmu dan keinginanmu. Jadi jangan saling menyalahkan.

Suatu saat nanti aku pasti akan mengenakan seragam Banser. Jangan salah sangka. Seragam itu tidak bisa didapat tanpa pengorbanan dan proses panjang. Demi dapat gelar Banser, harus berani Diklatsar, berani mati demi NU dan NKRI.

Banser kuat karena do’a para ulama dan kiai. Kiai dan ulama kuat karena diamankan dan dilindungi Banser. Merekalah generasi militan NUsantara kita. Mereka cerminan terbaik untuk diceritakan pada anak, cucu, cicit hingga generasi penerus kelak. [dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini