Senin, 04 September 2017

Media Online Masih Didominasi Wahabi, Begini Cara Menguasainya

Syafi Ali bersama para awak redaksi Dutaislam.com dalam acara Kopdar Majelis Cyber Duta Islam di Ponpes Al Asror Gunungpati Semarang, Ahad (03/09/2017).
DutaIslam.Com - Nahdliyin perlu mengikis dominasi ajaran garis keras yang sampai kini masih mendominasi wacana tentang Islam di media online. Dari 10 besar media online berlatar Islam yang ada di internet, sebagian besar dari kelompok intoleran. Yakni kelompok media yang mengampanyekan Islam penuh amarah, serba menyalahkan dengan tudingan bid'ah dan sebagainya. Karena dominasi itulah maka kesan yang muncul di internet adalah wajah Islam yang tidak ramah, bahkan radikal.

Demikian dinyatakan Direktur NU Online Syafi' Ali ketika menjadi narasumber dalam acara Kopi Darat (Kopdar) ke 1 Majelis Cyber Duta Islam (MacDI) di Ponpes Al Asror Gunungpati, Semarang, Ahad malam (03/09/2017).

Kopdar MacDI ini diikuti 40 an orang nahdliyin pegiat media online dari berbagai daerah di Pulau Jawa, diselenggarakan oleh redaksi Dutaislam.com.

"NU kalah dominasi di media, khususnya media Islam online. Internet dikuasai media Islam radikal. Sehingga wajah Islam yang menonjol adalah intoleran," ujarnya mengajak hadirin menyatukan barisan dan berjuang merebutnya.

Lebih lanjut Syafi mengungkapkan, situs resmi PBNU yakni NU Online adalah satu satunya media Islam non wahabi yang ada di 10 besar namun maksimal berada di ranking keempat. Sebuah peringkat yang menurutnya tidak bisa naik di panggung untuk meraih medali.

Dia sebutkan, lima tahun lalu NU Online belum masuk dalam 20 besar. Namun dengan perjuangan yang gigih tiada lelah, akhirnya masuk dalam 20 besar dan kini masuk 10 besar. Keberhasilan itu menurutnya belum prestisius karena tidak menggambarkan kondisi di dunia nyata bahwa NU adalah organisasi terbesar dengan jumlah anggota terbanyak serta diperhatikan oleh mata dunia.

"Jika di dunia nyata NU adalah yang terbesar, mestinya di dunia maya NU nomor satu. Namun nyatanya tidak. Inilah PR kita. Mari kita garap besama," pungkasnya seraya mengajak media Duta Islam bersinergi menghadapi lawan dengan cara sesuai jalur masing masing.

Perang Psikis, Sikapi Seperti Menghadapi Anjing
Syafi sang pendiri portal video online Nutizen ini menjelaskan, perang yang terjadi di internet bukanlah perang gagasan, tetapi perang psikis. Perang gagasan, kata dia, adalah adu argumen berpola ilmiah, plus didukung dalil untuk memperkuat sebuah gagasan.

Media radikal tidak melakukan itu. Mereka sudah menganggap pihaknya adalah yang benar, yang lain salah semua. Sehingga meski telah disanggah dengan argumen disertai bukti dan dalil yang kuat, tidak akan diterima.

Jadi sesungguhnya mereka berperang psikis. Intinya hanya menyerang, pokoknya ini pokoknya begini. Persis seperti Kirik (anak anjing). Kirik, kata Syafi, badannya kecil tapi suaranya keras. Suka njegog (menggonggong) dan gonggongannya sering membuat ciut nyali orang.

"Ibaratanya Kirik, dia njegogi (menggonggongi) siapa saja. Jika orang yang dijegogi mengalah dengna menyingkir karena tidak mau ribut, maka  Kirik akan semakin keras menggonggong. Semakin leluasa meneror. Apabila korbannya itu takut, dia mengejar. Semakin lari korbannya, semakin kencang Kirik mengejar," jelasnya.

Maka cara menghadapi situasi macam itu adalah menunjukkan kita tidak mau kalah. Tunjukkan keberanian. Hadapi si Kirik, berjongkoklah dan pelototi matanya, lalu ambil batu. Angkat batu sambil gertak dengan suara keras, maka dijamin si Kirik akan diam lalu lari ketakutan.

"Ini bukan sungguh sungguh mau melempar batu untuk melukai atau membunuh Kirik. Tapi hanya pura-pura hendak melempar, sekedar menunjukkan respon yang setara atas kekurangajaran dia meneror dengan jegogan tersebut.  Inilah yang perlu kita lakukan di ranah media," tandas pria yang pernah nyantri di Kajen Pati ini. [dutaislam.com/Ichwan/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini