Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Kiai Nawawi, Pejuang Kemerdekaan Dari Mojokerto Yang Anti Peluru

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Minggu, 10 September 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Kalau anda orang Mojokerto, atau pernah melintas masuk kedalam Kota Mojokerto, tempat dimana Majapahit pernah bercokol, tepatnya di desa Trowulan, anda akan menemui salah satu nama Jl. KH. Nawawi. Nama itu tidak dibuat sembarangan.

    Jl. KH. Nawawi berlokasi dekat dengan kantor pemkot di Jl. Gajahmada. Tepatnya di pasar besar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto.

    Jalan KH. Nawawi diambil dari salah satu tokoh pejuang kemerdekaan jaman dulu. Beliau bersama santrinya, berperang melawan penjajah. Beliau wafat di dusun Sumantoro, dekat daerah Kletek, Sidoarjo (yang dilewati jalur bus antar propinsi itu) pada tahun 1946, selang setahun setelah Surabaya dibombardir sekutu (Inggris dan Belanda) yang kita terkenal dengan peristiwa 10 November 1945 nya itu.

    KH Nawawi menjadi komandan Laskar Sabilillah, resimen pejuang kemerdekaan akar rumput, yang sumbernya langsung dari pondok pesantren. Bersama dengan santri-santrinya, beliau menjadi most wantednya Belanda di area Mojokerto, Sidoarjo dan Gresik, tempat laskar perjuangan itu dulu beroperasi.

    Hingga pada satu kesempatan, para serdadu belanda berhasil mengeroyok sang Kiai hingga wafat. Kyai wafat dengan luka tusukan 4 pisau bayonet di leher. Sebaliknya, tidak dengan tembakan bedil khas Belanda.

    Mengapa?
    Dari cerita cucunya, ketika membacakan sekilas riwayat KH. Nawawi di acara napak tilas tahun kemarin lalu, Kyai tak mempan peluru. Semuanya karena karomah Allah SWT kepada hamba yang dicintainya. Selebihnya, hanya Allah yang tahu.

    Haul Kyai Nawawi diperingati setiap tahun. Tanggal 3 sampai 6 Nov 2017 mendatang, akan ada gawe besar di kota Mojokerto. Serangkaian kegiatan untuk mengenang hari wafat dan perjuangannya beliau digelar secara rutin. Ada pengajian  umum, ziarah bersama Walikota, dan puncaknya adalah Napak Tilas sejauh 40 kilometer dari Sidoarjo-Mojokerto, mengenang perjalanan malam hari diusungnya jenazah Kyai Nawawi dri Sidoarjo ke Mojokerto. Kyai Nawawi dimakamka dimakamkan di TPU Losari, desa Terusan.

    Umat Islam Mojokerto, khususnya warga NU, harus banyak berterima kasih kepada beliau. Karena beliau adalah pendiri NU pertamakali di Mojokerto pada Tahun 1928.

    Semaca hidupnya, beliau pernah berguru kepada Hadratus Syaikh (Tuan Guru Besar) Hasyim Asy’ari di pondok pesantren Tebuireng Jombang. Beliau juga pernah nyantri di Syaikhuna (Guru Kami) Kholil di Bangkalan, Madura yang juga banyak memiliki karomahnya. Mbah Kholil juga guru dari Mbah Hasyim dan guru dari banyak sekali ulama-ulama masyhur pimpinan pondok pesantren, waktu itu.

    Riwayat-riwayat lain mengenai perjuangan kyai Nawawi bisa dicari di pondok pesantren Tarbiyah Tahfidzul Qur’an An-Nawawi, Mojokerto. Bisa juga melalui pondok pesantren Al Multazam pimpinan Gus Makin di desa Kepuhanyar, Kab Mojokerto. Atau lewat IKEBANA (Ikatan Keluarga Besar Bani Nawawi). [dutaislam.com/ed]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: