Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • KH Maimoen Zubair: Mbah Hasyim Anak Mas Zaman

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Sabtu, 02 September 2017
    A- A+

    Oleh Ubaidillah Arsyad

    DutaIslam.Com - KH Maimoen Zubair bercerita: Jika kita telusuri sejarahnya, diantara pondok pesantren yang ada di Indonesia ini memiliki tali yang saling kait-mengait. Artinya, Ulama' satu tidak terputus dengan Ulama' yang lainnya. 

    Dari situ kita bisa mengetahui bahwa Allah itu ternyata mempunyai "anak mas zaman". Jadi yang dimaksud dari maqalah "Al insan Abna' az-Zaman adalah, Allah itu menciptakan "zaman" bagi orang yang baik-baik dan kebaikan zaman ini harus diketahui oleh kita. Kalau di zaman Mbah Hasyim Asy'ari, orang nggak bakalan bisa menjadi Kiai besar tanpa adanya Mbah Hasyim.

    Satu contoh di daerah Lasem, disana itu kiainya besar-besar, Mbah Baidhowi malah lebih alim, ada Kiai Masduqi , Mbah Kiai Kholil dan Mbah Kiai Ma'shum. Dari keempat kiai ini yang paling erat hubungannya dengan KH Hasyim Asy'ari adalah Mbah Kiai Ma'shum. Maka tidak heran jika beliau santrinya paling banyak. 

    Tidak ada dalam sejarahnya pondok pesantren yang diasuh Mbah Baidhowi (Lasem) itu santrinya banyak, paling pol adalah khomsin (50), dikarenakan hal itu memang sudah waktunya. Jadi pada waktu itu yang menjadi 'Abna' az-Zaman" adalah Mbah KH Hasyim Asy'ari.

    Pondok yang ada di sarang juga begitu, seumpama Mbah saya tidak ngaji ke Kiai Hasyim, yah habis pondok Sarang. Begitu juga dengan Lirboyo Kediri, jika Mbah Manab tidak mondok ke Tebuireng yah habis santrinya. Pengasuh pondok Ploso, pondok Rejoso Peterongan, pondok Buntet Cirebon juga mengaji kepada Mbah Kiai Hasyim.

    Setelah itu kurunnya Lirboyo. Jadi, Lirboyo banyak menelorkan kiai itu saat saya mondok di sana, tidak ada seorang kiai yang menjadi besar kecuali nempel dengan Lirboyo. Pondok Lirboyo adalah satu-satunya saya nyantri. Meski di Lirboyo hanya tiga tahun, saya sangat bersyukur sekali dikarenakan bisa dekat dengan Mbah Kiai Abdul Karim, Mbah Kiai Marzuqi dan Mbah Kiai Mahrus. 

    Saya sangat terkesan yang mendalam sekali dengan pendiri pertama, Kiai Abdul Karim. Beliau kerap kali tanya kepada saya tentang kawan karib beliau ketika masih di pondok Kiai Kholil Bangkalan Madura, dia adalah Mbah Miftah dari Sarang dan kawan karib beliau ketika nyantri di pondok Tebuireng Jombang yakni Mbah saya, Kiai Ahmad bin Syu'aib yang kebetulan beliau berdua meninggalkan Tebuireng asuhan Kiai Hasyim pada tahun yang sama, 1909 M. Lha sekarang Abna' az-Zaman itu berada di mana? Wallahu A'lam. Saya sendiri tidak tahu. [dutaislam.com/gg]


    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: