Selasa, 19 September 2017

Ingin Kuliah ke Jerman? Simak Penjelasan Santri Buntet Ini

Foto: Istimewa

DutaIslam.Com - Jerman merupakan salah satu negara favorit sebagai tujuan mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi. Negara yang saat ini dipimpin Kanselir Angela Merkel tersebut menyediakan sejumlah fasilitas beasiswa dan biaya terjangkau.

Salah satu santri Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat, Muhammad Abdullah Syukri menguraikan bagaimana proses persiapan bisa kuliah di Jerman dalam Webinar yang digelar oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki melalui Youtube, Senin (18/9/2017).

Bagi masyarakat Indonesia yang terbilang mampu secara materi tak perlu repot-repot untuk berebut beasiswa di Jerman karena biaya perkuliahan dan kehidupannya cukup terjangkau.

“Selain kampusnya murah, juga kemudian biaya hidupnya sangat murah sekali,” ungkap mahasiswa magister ilmu politik Universitas Duisberg-Essen, Jerman itu.

Abdullah Syukri mengatakan, “Di Jerman kampusnya gratis.” Namun ada istilah semester ticket. Biaya untuk semester ticket ini cukup terjangkau, “Biasanya sekitar 300 Euro, kalau dirupiahkan kurang dari lima juta.”

Keterjangkauan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat pembayaran semester itu sudah termasuk seluruh tiket transportasi di kota tersebut.

Meskipun biaya hidup murah, tetapi mahasiswa wajib memiliki uang deposito. Bagi mahasiswa yang tidak menggunakan beasiswa, wajib menyediakan 8000 Euro atau sekitar 120 juta rupiah.

“Untuk yang kuliah di Jerman kemudian tidak menggunakan beasiswa harus mempunyai sekitar 8000 Euro selama satu tahun,” katanya.

“Uang 8000 Euro itu akan ditarik berkala selama setahun oleh penggunanya,” imbuhnya.

Proses persiapan
Beasiswa yang paling populer dan hampir semua mahasiswa asing menggunakannya yaitu beasiswa DAAD. Untuk S2 dan S3 mereka sudah banyak membuka kelas internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.

Hal pertama yang harus diperhatikan bagi calon pendaftar kuliah di Jerman adalah melihat daftar kampus yang diakui oleh Jerman. “Tidak semua kampus di Indonesia diakui ijazahnya untuk dapat melanjutkan S2 di Jerman,” jelas Syukri.

Mas Dede, begitu ia akrab disapa oleh masyarakat Buntet Pesantren, memberitahukan, bahwa kita dapat melihat daftar kampus Indonesia mana saja yang sudah diakui oleh Jerman melalui laman Kementerian Pendidikan Jerman Anabin (http://anabin.kmk.org/anabin.html).

Dari hal tersebut, Mas Dede mengingatkan pemerintah Indonesia, bahwa standard kualitas pendidikan Indonesia masih diragukan oleh Jerman. Meskipun ia tidak melihat hal tersebut di negara lainnya, semisal Inggris.

“Ini juga jadi PR sendiri bagi pemerintah kita, pemerintah Indonesia, bahwa ternyata standarisasi kampus di Indonesia masih diragukan kualitasnya untuk bersanding dengan kampus-kampus yang ada di Jerman khususnya,” katanya.

Setidaknya ada empat aspek yang harus diperhatikan oleh calon pendaftar. Hal yang paling pertama dilihat adalah Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Meskipun IPK bukan segalanya, tetapi ia menjadi poin penting. Meskipun begitu, hal tersebut bisa ditunjang dengan tiga aspek lainnya, yakni karya atau publikasi dan konferensi, pengalaman bekerja, dan organisasi.

“Nah jadi, sisi akademik, kemudian karya kita, lalu pengalaman bekerja, pengalaman organisasi, empat itu merupakan satu kesatuan yang kalau kita bisa memenuhi standar di sini maka kita siap bersaing dengan pelamar beasiswa yang ingin mendaftar di DAAD,” ungkapnya.

“Itupun berlaku bagi teman-teman yang ingin mendaftar melalui LPDP. Persyaratannya kurang lebih sama,” lanjutnya.

Proses perkuliahan
Di Jerman, seluruh keseharian menggunakan bahasa Jerman. Mulai dari pertokoan, transportasi, dan sebagainya. Oleh karena itu, DAAD sebagai lembaga pemberi beasiswa untuk studi di Jerman memberikan kursus bahasa Jerman gratis kepada penerimanya selama jangka waktu tertentu sesuai program beasiswa yang diterimanya.

“Mereka sangat membantu dari segi persiapan, contoh kita diberikan kursus bahasa Jerman,” ujar santri Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang tersebut.

Selain DAAD, masing-masing kampus juga umumnya membuka kursus bahasa Jerman gratis. “Biasanya kampus menyediakan kursus bahasa Jerman gratis. Kita tinggal apply saja,” katanya.

Jika kita mengenal kampus-kampus terbaik di Indonesia seperti UGM, UI, ITB atau lainnya. Atau di Amerika Serikat dengan adanya Harvard University, Stanford University, MIT, dan di Inggris seperti Cambridge University dan Oxford University, hal tersebut tidak berlaku di negara pimpinan Angela Markel tersebut.

“Semua lembaga pendidikan di Jerman diberlakukan sama,” ujar alumni Universitas Brawijaya tersebut.

Jerman tidak mengenal kampus terbaik karena semua disamaratakan. Hal yang membedakan antara kampus satu dengan lainnya adalah usia dan lokasinya. Kampus tua tentu saja sudah lebih banyak melahirkan alumni yang sudah bisa dilihat kiprahnya. Berbeda dengan kampus yang lebih baru.

Selain itu lokasi kampus juga hal yang berbeda. Jika ingin menikmati perkuliahan dengan suasana yang cukup ramai, kita bisa pilih kampus di wilayah selatan seperti Stutgart, Frankfurt, atau Munchen.

Sebaliknya, jika ingin merasakan perkuliahan dengan suasana yang sepi, kita dapat memilih kota di wilayah barat. Pertimbangan lainnya untuk memilih kampus tentu saja dari jurusannya.

Abdullah Syukri mengingatkan, bahwa membaca menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Meskipun tentu saja belajar di manapun membaca itu suatu keharusan. Tetapi studi di Jerman memiliki alasan tersendiri.

“Biasanya dosen memberikan lima sampai enam referensi dalam satu mata kuliah per minggu,” jelasnya.

Pria yang fotonya sempat viral di jagad santri karena menggunakan pakaian ala santri saat berjalan-jalan di tengah kota Koln Jerman itu juga menekankan pentingnya pengatuaran waktu. “Kalau ada yang meleset sebentar saja itu akan mengacaukan semuanya,” ungkapnya.

Selain itu, tidak hanya tugas akhir yang mesti dibicarakan dengan dosen, tetapi keseluruhan tugas pembuatan makalah harus dikonsultasikan. “Semua tugas harus dikonsultasikan.” Artinya, hal tersebut menuntut mahasiswa untuk berperan aktif.

“Yang aktif mahasiswanya, dosen tidak mengarahkan sama sekali,” tegasnya. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar kita dapat berinisiatif.

Di samping itu, hal yang tak kalah penting untuk dipersiapkan sejak dini untuk melanjutkan studi di Jerman adalah mental. “Yang paling harus dipersiapkan sekali kuliah di Jerman adalah mental,” tutur 

Persaingan yang sangat kompetitif membuat hal tersebut penting selain juga karena hal lain seperti keaktifan dalam diskusi. Oleh karena itu, ia sepakat dengan pendapat yang mengatakan, bahwa kuliah di luar negeri bukan bagi orang yang pinter ataupun cerdas, tetapi bagi mereka yang bermental.

Syukri yang juga akrab disapa Abe oleh rekan-rekannya di Universitas Brawijaya, juga menyampaikan bahwa birokrasi Jerman cukup rumit. “Birokrasi di Jerman agak rumit,” katanya. Hal tersebut karena semuanya berbahasa Jerman dan segala rupanya harus segera ditentukan dan dilaporkan seperti kepulangan dan sebagainya.

Diskusi yang dimoderatori oleh mahasiswi magister ilmu tafsir Necmettin Erbakan University Turki Aeni Nahdliyati ini juga menghadirkan Wakil Ketua PCINU Jepang Yudhi Nugraha dan mahasiswa magister Uludag University Turki M. Muafi Himam.

Kegiatan ini terselenggara atas insiasi PCINU Turki bekerja sama dengan PCINU Jerman dan PCINU Jepang, serta AIS Nusantara. [dutaislam.com/Syakir NF/Fathoni/pin]

Sumber: NU Online

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini