Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • [Khianat] Tuduh Intoleran Soal Dauroh Pesantren di Karimunjawa, MD Pilih Berhadapan dengan Warga?

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Jumat, 08 September 2017
    A- A+
    Pengurus PDM saat menunggu surat tembusan camat Karimun di rumah KH Ubaidillah Umar (tengah). Foto: Luluk
    DutaIslam.Com - Betul nian jika ada wahabi masuk wilayah, konflik dan ketegangan akan segera muncul di sana. Mirip Suriah dan negara Timur Tengah yang berkonflik.

    Begitulah yang terjadi saat bangunan yang dulu dianggap warga Karimunjawa sebagai hotel, tiba-tiba akan dibuat pesentren oleh Yayasan Bina Muwahhidin yang berpusat di Surabaya. Dutaislam.com pernah mengulasnya. Baca: Yayasan "Wahabi" Masuk Atas Nama Pesantren Muhammadiyah, Karimunjawa Memanas.

    Mengetahui Yayasan Bina Muwahhidin beraliran wahabi, warga Karimunjawa sebetulnya sudah menurunkan tensi sejak kisruh pesantren wahabi yang menggunakan platform Muhammadiyah itu terjadi. Antara PDM Jepara dan PCNU Jepara pun sepakat untuk mengelola pesantren tersebut dengan nama Pesantren Tahfidz Al-Qur'an MuhammadiNU, pesantren gabungan MD dan NU pertama di dunia.

    Namun pihak yayasan ternyata bermain "tusuk" belakang. Dasar kelakuan khas wahabi, Bina Muwahhidin pun kemudian secara sepihak menyerahkan tanah dan bangunan di Karimunjawa kepada PP Muhammadiyah. Merasa ada "rejeki nomplok" bangunan pesantren di Karimun, Ittihadul Ma’ahid Muhammadiyah (ITMAM/Persatuan Pondok Pesantren Muhammadiyah) mengirim 47 orang untuk nyantri di sana, tanpa konsultasi, minim komunikasi. Pokoknya ada bangunan nganggur, sikat!

    "Wah, wahabi mulai datang ini," begitu salah satu asumsi yang keluar dari warga Karimun karena tidak mengetahui asal usul mereka. Para santri yang datang tak diundang, pulang pun tak diantar. Pasalnya, PD Muhammadiyah Jepara tidak tahu sama sekali soal serah terima gedung wahabi di Karimun kepada PP Muhammadiyah.

    Padahal, dulunya, antara PDM dan PCNU sepakat tidak akan menggunakan fasilitas itu kecuali resmi dikelola bareng atas nama Pesantren Tahfidzul Qur'an MuhammadiNU, bukan dengan nama Pesantren Al-Quds Muhammadiyah Karimunjawa, sebagaimana nama yang diinginkan yayasan wahabi.

    PDM Jepara juga tidak tahu ada dauroh. Mereka juga mengaku tidak pernah dipasrahi santri-santri penghafal Al-Qur'an di pesantren tanpa pangasuh itu. "Tahu-tahu sudah 'mak bedunduk' ada di lokasi," demikian Kata Ulul Albab, Sekretaris PCNU saat bertemu dengan Dutaislam.com di Jepara, Jumat (08/09/2017).

    Menurut keterangan Rais Syuriah PCNU Jepara, KH Ubaidillah Umar, dulu pihak yayasan tidak akan menyerahkan wakaf bangunan kepada siapapun sesuai amanat wakif (pemberi wakaf). Termasuk kepada Muhammadiyah. Ironisnya, di belakang hari, tiba-tiba diserahkan ke PP Muhammadiyah tanpa komunikasi dan konfirmasi kepada PCNU Jepara maupun PDM Jepara yang sudah berbulan-bulan menenangkan warga Karimunjawa.

    Oleh situs ala-ala Muhammadiyah sangpencerah.id itu, warga Karimunjawa malah dituduh intoleran karena meminta tidak ada aktivitas di pesantren sebelum terbit IMB dan ijin operasional pengelola. Warga Karimun menginginkan agar pesantren tidak beroperasi jika tidak dikelola oleh PDM Jepara bersama PCNU Jepara, sebagaimana kesepakatan awal.

    Andai saja yayasan Bina Muwahhidin tidak main belakang dengan manuver munafiq menyerahkan kepada PP Muhammadiyah, situasi Karimunjawa tak akan memanas lagi karena pengurus PDM maupun PCNU sudah calling down dan slow.

    Baca: Kronologi Warga Karimunjawa Jepara Disebut Intoleran oleh Situs Muhammadiyah

    "Kalau dikelola oleh PDM Jepara, silakan. Muhammadiyah Jepara maksudnya, yang sudah dikenal karakter moderatnya oleh warga Karimun dan warga Jepara pada umumnya. Tapi jika masih disusupi Al Quds-nya, dia siap-siap berhadapan dengan NU yang jelas menolak sel-sel radikal tumbuh di Karimunjawa," ujar Mbah Ubaib, Syuriah NU, Jumat (08/09/2017).

    Hadirnya 47 peserta tahfidz jelas membuat warga merasa "ditusuk" dari belakang. Kesepakatan yang selama ini dibangun ternyata dikhianati oleh yayasan wahabi. Apalagi pihak ITMAM menuduh intoleran warga Karimunjawa. "Ini sudah keterlaluan," kata Luluk, sekretaris PCNU Jepara.

    Padahal, kata Luluk, status tanah dan bangunan milik Yayasan Bina Muwahhidin di Karimunjawa sudah disepakati akan ada dan beroperasi jika dilengkapi ijin operasional. Ini surat dari Camat Karimunjawa soal hasil pembahasan sejarah pesantren yang menuai polemik itu, dikirim kepada Dutaislam.com, Kamis (07/09/2017).

    hlm. 1
    hlm. 2
    Andai saja ITMAM di PP Muhammadiyah mengetahui sejarah bangunan, mereka tidak akan mau diadu domba oleh yayasan wahabi ala-ala Bina Muwahhidin Surabaya itu. Betul nian, wahabi masuk desa, kisruh semua. Bangunan belum jadi saja sudah main rusuh dan misuh-misuh intoleran, apalagi kalau sudah jadi. Karimun mau dibuat konflik? [dutaislam.com/ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    5 komentar

    Alhamdulillah ... Telah masuk disana, semoga menyingkirkan praktik khurafat, bid'ah dan kesyirikan yg menyebar di tengah masyarakat ... "Yang Haq datang dan yang batik akan lenyap" ... Bismillah

    Lanjutkan langkahmu sangsurya. Cerahi karimunjawa dengan hikmah. Tumpas pikiran2 kotor dan prasangka tidak jelas yg ada disana. Buktikan niatan kita klo kita ingin memajukan NKRI ga hanya menjaga NKRI doang. Yakinlah kita bakal diterima. Aamiin

    sabar sabar dan sabar

    Lanaa a'maaluna walakum a'malukum.
    Kenapa harus membid'ahkan, mengkafirkan, menuduh sesat, syirik, syiah kepada sesama muslim? Orang NU itu juga muslim loh. Sama2 bersyahadat Laa ilaaha illa Allah. Semua amalan NU ada dalilnya. Tabayyun dulu sebelum menuding orang. Apa yg suka menuduh dan memfitnah tidak takut hukuman Allah?