Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Empat Fondasi NU yang Wajib Diketahui Warga NU

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Kamis, 14 September 2017
    A- A+
    Foto: NU Online

    DutaIslam.Com - Banyak orang mengaku warga Nahdlatul Ulama (NU) dan mengira sudah cukup dengan qunut, tahlil, maulidan, ziarah kubur dan lain sejenisnya. Pedahal, semua itu hanya sebagian kecil dari fondasi ke-NU-an dari sisi amaliyah.

    Menjadi orang NU setidaknya harus memiliki 4 fondasi utama. Fondasi itu sudah diwariskan para ulama-ulama NU untuk diketahui seluruh warga Nahdliyin. Berikut empat fondasi tersebut:

    1. Amaliyah
    Nahdlatul Ulama merupakan organisasi islam yang mengusung ideologi ahlussunnah wal jama'ah. Yakni ideologi yang menjaga kemurnian islam dengan berpegang pada sunnah nabi dan para sahabat dengan terdisiplin melalui sanad ilmu yang jelas.

    Ciri-cirinya mudah, yaitu bermadzhab pada salah satu madzhab fiqih yang empat: Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali. Selain itu, berakidah islam sesuai yang diajarkan Rasulullah. Yakni, sesuai dengan manhaj Imam Abu Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Sedangkan dari sisi tasawuf berpedoman pada yang telah dipegang Imam Al-Ghazali dan Imam Junaidi al-Baghdadi.

    Sehingga tidak dapat dikatakan orang NU apabila amaliyahnya bukan amaliyah Ahlussunnah wal Jam'ah. Apalagi bila sampai menyerang amaliyah ahlussunnah wal jamaah.

    2. Fikroh (pemikiran)
    Dalam cara pandang atau berfikir, NU senantiasa mengusung nilai-nilai yang berhaluan pada konsep tasammuh (toleran), tawassuth (pertengahan), tawajjun (seimbang) dan mu'addalah (adil).

    NU harus senantiasa teduh. Tidak condong pada pemikiran liberal, tidak pula pada radikal.  Dengan konsep tersebut, orang NU sejatinya tidak akan kagetan dan tidak akan terjebak pada jurang pemikiran yang kaku.

    Sehingga, bukan NU namanya apabila ada orang yang berfikir liberal atau radikal. Orang yang melakukan aksi terorisme, meyimpan bom untuk melakukan kerusakan, atau mudah menyembelih orang (bahkan divideo) dan tindakan-tindakan kacau yang lain.

    3. Harokah (gerakan)Menjadi NU tentu harus bergerak sesuai dengan cara NU. Gerakan NU adalah gerakan selaras dan satu koordinasi dengan keorganisasian NU. Siapapun bisa bergerak untuk NU. Bisa berjuang bersama struktural, maupun hanya sebagai kultural.

    Jika ada orang mengaku NU tapi malah masuk dalam gerakan atau organisasi yang justru bertentangan dengan gerakan NU maka ke-NU-annya dipertanyakan. Terlebih jika justru bergabung dengan gerakan yang ingin menghancurkan NU. Itu celaka besar. Na'udzubillah.

    Contoh kasus misalnya, ada orang mengaku NU namun masuk dalam gerakan/organisasi yang berafiliasi dengan saudara muslim  Wahabi. Itu jelas kurang tepat karena selama ini Wahabi masuk dalam kategori gerakan radikal.

    Wahabi bahkan ingin menghancurkan dan membinasakan faham ahlussunnah wal jama'ah. Dibuktikan dengan banyaknya amaliyah NU dituduh bid'ah, musyrik, sesat, dan bahkan diantaranya menyatakan halal untuk dibunuh.

    Di timur tengah, gerakan wahabi menjadi gerakan yang menciderai umat islam dunia.

    4. Ghirah (semangat)
    Untuk Nahdliyyin semua, kuatkan hati kita. Tetapkan iman dan ketakwaan kepada Allah SWT. Kita harus yakin bahwa NU adalah rumah besar kita. NU adalah rumah para ulama, kiyai, santri, dan bahkan seluruh masyarakat muslim Indonesia yang sebagian besarnya adalah masyarakat NU.

    Kita lahir sebagai orang NU, tumbuh besar sebagai orang NU, dan akan mati sebagai orang NU. Jangan ada keraguan untuk merawat NU dan menetapkannya. [dutaislam.com/ed/pin]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: