Kamis, 21 September 2017

Disorientasi Ekspresi Tahun Baru Hijriyah di Sosmed


Oleh Abdulloh Hamid

DutaIslam.Com - Banyak orang yang mengekspresikan tahun baru hijriyah dengan mengupdate status di sosmednya tentang ucapan tahun baru hijriyah serta amalan-amalan membaca do’a akhir dan awal tahun.

Generasi sekarang mengekspresikan tahun baru hijriyahnya dengan bermacam-macam: pertama, orang yang membuat status ucapan tahun baru hijriyah serta  membaca doa akhir dan awal tahun, kedua orang yang membuat status ucapan tahun baru hijriyah namun tidak membaca do’a akhir dan awal tahun, dikarenakan tidak sempat atau sebatas menunjukkan eksistensi saja, ketiga orang yang tidak membuat status ucapan tahun baru hijriyah namun membaca do’a akhir dan awal tahun dan yang keempat orang yang tidak sempat membuat status ucapan tahun baru hijriyah dan juga tidak sempat membaca doa akhir dan awal tahun.

Mc Luhan dalam bukunya Understanding Media tahun 1960 memperkenalkan istilah global village yang memberikan makna bahwa media tidak hanya sarana penyebaran informasi saja tapi juga isi pesan itu sendiri, bahkan Mc Luhan dalam buku tersebut sudah meramalkan tentang kekuatan sebuah gambar, a picture speaks a thousand words. dan audiovisual juga telah diramalkan menjadi media yang berupaya menyampaikan pesan yang memiliki kekuatan berlipat ganda.

Saat ini aplikasi Instagram dan WhatsApp dapat dipakai untuk mengupdate status (baik gambar maupun audiovisual), generasi milenial lebih suka meng-update status dengan memanfaatkan history di kedua aplikasi tersebut, kita bisa mengetahui posisi teman kita sedang apa dan di mana cukup dengan melihat historynya. Era teknologi informasi membuat manusia saat ini bisa mendapatkan semua informasi yang dibutuhan dan bahkan sampai berlebih (information spill over), yang membuat orang mengalami disorientasi, terlalu banyak informasi justru menyebabkan orang kebingungan dan hilangnya kedalaman, dan lahirnya generasi yang oleh Nicholas Carr di sebut sebagai “orang-orang dangkal” (The Shallows). Yang terbiasa menyantap informasi instan dan tanpa kedalaman.

Selanjutnya problem terbesar generasi saat ini adalah menerima informasi tanpa adanya tabayyun (ceck and recheck) kemudian men-share info tersebut melalui sosmednya, kemudian cenderung anti perbedaan, perbedaan dianggap perpecahan, padahal ajaran agama mempunyai karakter yang dinamis dan sarat dengan perbedaan pendapat, minimnya ruang diskusi di dunia nyata membuat dunia maya menjadi salah satu (bahkan satu-satunya) tempat untuk berdebat yang pada akhirnya saling menghujat dengan penuh amarah.

Apa yang kita lakukan dengan hal tersebut di atas? Meminjam istilanya Haidar Baqir dalam bukunya Islam Tuhan, Islam Manusia saatnya kita berhijrah di zaman penuh amarah dengan kembali ke Agama dan spiritualitas, manusia, betapapun berjalan di muka bumi yang dibatasi oleh ruang dan waktu sesungguhnya hidup di alam spiritualitas, agama adalah spiritualitas, dari spiritualitas lahir moralitas dan rahmat (cinta kasih) bagi alam semesta.

Berbeda dengan Quraisy Syihab memberikan solusi dengan akhlak (sekarang populer dengan karakter), Agama terdiri dari Aqidah, Syari’ah dan Akhlak, di zaman sekarang yang hilang dari kita adalah akhlak, maka untuk mengembalikannya adalah dengan “akhlak” dan untuk membentuk akhlak adalah dengan kebiasaan, perbuatan yang telah menjadi kebiasaan akan dilakukan dengan mudah, tanpa banyak berfikir, dan ketika itu ia menjadi akhlak. Ajaran Islam banyak menggunakan cara pembiasaan guna meraih akhlak mulia dan meninggalkan akhlak tercela.

Selain pembiasaan dan meniru keteladanan untuk meraih akhlak luhur adalah: pertama melakukan introspeksi, kedua menyibukkan dengan hal positif, ketiga memperhatikan dampak buruk ketiadaan akhlak, keempat berada di lingkungan yang baik, keempat membaca yang bermanfaat, kelima bergaul dengan yang berbudi dan keenam berdo’a kepada Allah SWT.

Nadirsyah Hosein memberikan penawaran agar memahami agama dari berbagai sudut perspektif akan memberikan penyegaran pandangan (fresh eyes) dalam mencermati berbagai persoalan akan menjadi khazanah tersendiri yang melahirkan pemikiran warna-warni, sebab agama dilahirkan bukan di ruang hampa namun di lahirkan sesuai dengan ruang dan waktu dinamis dan mampu menjadi solusi problematika umatnya, sehingga produk hukum-hukum kita selalu bermacam-macam dan kita selalu mempunyai opsi memilih mana yang sesuai dengan kemampuan kita, agama itu mudah dan janganlah dipersulit.

Sedangkan menurut beberapa ulama tasawwuf (sufi) agar terhindar dari zaman amarah yaitu dengan uzlah (menyepi) di tempat-tempat yang tenang, tempat yang membuat kita bisa lebih fokus, karena fokus merupakan barang yang sangat mahal saat ini, dengan meninggalkan segala bentuk alat komunikasi seperti handphone dan lain-lain sedikit bisa membuat kita lebih fokus. [dutaislam.com/gg]

Abdulloh Hamid, Penulis Buku Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini