Kamis, 07 September 2017

Dewan Pers Kembali Ingatkan Potensi Pers Jadi 'Senjata' Teroris

Foto: liputan6.com 
DutaIslam.Com - Anggota Dewan Pers, Anthonius Jimmy Silalahi, kembali mengingatkan lembaga pers memiliki peran yang sangat strategis dalam perang melawan terorisme. Pers disebutnya bisa membantu upaya pencegahan, namun akan menjadi 'senjata' teroris jika pengelolaannya tidak benar. 

Hal ini disampaikan Jimmy saat menjadi salah satu pemateri di kegiatan Visit Media Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara ke redaksi Harian Analisa, Rabu (06/09/2017).

"Di beberapa lokasi saya selalu sampaikan, pers untuk saat ini adalah senjata yang sebenarnya bagi kelompok pelaku teroris. Maka dari itu jangan sampai kita pelaku pers membantu mereka mencapai tujuannya, yaitu menebar ketakutan di masyarakat," kata Jimmy. 

Jimmy mengaku tak akan bosan mengatakan hal tersebut,  mengingat keberadaan pers yang salah kelola dan turut menjadi senjata kelompok pelaku terorisme masih saja ditemukan. "Kita lihat, ketika ada kejadian selalu saja ada satu dua media yang pemberitaannya justeru mengakibatkan teror baru. Ini menjadi tugas kita bersama agar pers dalam kaitan terorisme bisa lebih baik," tegasnya. 

Bentuk-bentuk kesalahan pers dalam pemberitaannya  yang berpotensi membantu pelaku terorisme menyebarkan ketakutan, masih kata Jimmy, antara lain berupa glorifikasi, framing, stigma, pemberitaan tanpa konfirmasi, dan pelanggaran-pelanggaran lain seperti tertuang dalam Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Peliputan Terorisme. 

"Maka dari itu penting setiap awak redaksi membaca dan memahami isi Pedoman Peliputan Terorisme. Jika belum memiliki ajukan permintaan ke Dewan Pers dan BNPT, nanti kami kirim," ujar Jimmy. 

Dalam kesempatan yang sama Jimmy juga mengungkapkan hasil survey Kementerian Pertahanan tentang keterkaitan media massa pers, media sosial dan terorisme. Disebutkannya, satu pemberitaan atau informasi tentang radikalisme dan terorisme yang terpublikasi dapat menghasilkan 500 simpatisan baru bagi kelompok pelaku terorisme. 

"Padahal kita lihat setiap hari, bisa ada ratusan berita bohong yang tersebar. Sepuluh persen saja dari lima ratus simpatisan itu yang benar-benar menjadi teroris, berarti ancaman besar bagi Indonesia. Maka dari itu mari berhati-hati dalam memberitakan terorisme," tutup Jimmy. 

Sekretaris Redaksi Harian Analisa, Warjamil, sependapat dengan materi yang disampaikan oleh Jimmy Silalahi. Diakuinya, media sebagai lembaga pers memiliki tanggung jawab besar dalam membuat dan menyebarluaskan pemberitaan yang mengedukasi masyarakat. 

"Kami sampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kunjungan BNPT, FKPT dan Dewan Pers ke redaksi kami. Di sini kami bisa banyak belajar agar media kami bisa semakin baik ke depan," kata Warjamil. 

Visit Media merupakan salah satu metode yang dijalankan dalam kegiatan Pelibatan Media Massa Pers dalam Pencegahan Terorisme. Satu metode lainnya adalah dialog Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat, yang sudah dan akan diselenggarakan di 32 provinsi se-Indonesia sepanjang tahun 2017. 

BNPT dan 32 FKPT pada tahun ini juga menggelar lomba karya jurnalistik untuk jenis peliputan indeph reporting. Lomba berhadiah totol lebih dari Rp.90 juta tersebut mengangkat tema kearifan lokal sebagai sarana pencegahan terorisme.  Hingga saat ini pengumpulan materi masih dibuka, dan akan ditutup pada akhir September 2017. [dutaislam.com/shk/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini