Jumat, 25 Agustus 2017

Subhanallah, 20 Tahun Meninggal, Jasad Kiai Kudus Santri Mbah Fadhol Ini Masih Hangat

Foto: ilustrasi (diambil dari banjaramasin post)
DutaIslam.Com - Ada santri Syaikhina Abul Fadhli (Mbah Fadhol Senori, Tuban) asal Kudus yang selama hayatnya, -tiap menjelang Ramadhan,- selalu berangkat ke Senori mengaji kepada sang guru dan berkhidmah dengan mengajar pengajian Qiro'atul Qur'an. 

Beliau selalu menjalani hal itu walau sudah berkeluarga dan mempunyai tiga putra putri. Beliau adalah Kiai M Chamim Sulaiman, santri asal Blender, Peganjaran, Bae, Kudus. Diketahui, semasa hidupnya beliau selalu mengajarkan Al-Qur'an dari desa ke desa, dari kecamatan ke kecamatan.

Beliau kembali sowan ila rahmatillah pada Jum'at Wage di bulan Dzulqa'dah, kurang lebih hampir 20 tahun lalu pasca sakit sepulang dari ngaji dan khidmah posonan di pondok pesanten yang diasuh Mbah Fadhol Senori. 

Karena kondisi badan tidak fit, pertengahan Sya'ban kala itu, beliau dijemput langsung oleh putra Mbah Fadhol Senori untuk mengaji dan khidmah di ponpes Senori. Ternyata, itulah khidmah terakhis Kiai Chamim kepada sang guru, Mbah Fadhol.

Semasa di Kudus, Kiai Chamim Sulaiman belajar kepada para masyayikh Kudus dan masyayikh Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus. 


Selain gigih menghabisakan waktunya mengajar Al-Qur'an, beliau juga selalu mengikuti thoriqoh kepada Simbah KH Arwani Amin dan selalu mengikuti pengajian Mbah KH Turaichan Adjhuri hingga hadir di munadharah Qudusiyyah walau hanya sebagai mustami' (pendengar).

Pada Kamis pagi, 24 Agustus 2017, almarhum Kiai Chamim Sulaiman yang dikebumikan di maqbarah sebelah utara Blender Peganjaran, tanpa sengaja makam beliau terbuka akibat adanya penggalian untuk pemakaman warga yang baru meninggal. 

Karena para penggali terlalu mepet dengan makam beliau, maqbarah Kiai Chamim pun terbuka. Dan atas izin Allah, ternyata kain kafan beliau masih utuh dan jasadnya masih terasa hangat.

Rasa haru, kagum dan kaget pun menyeruak para penggali kubur, dan warga sekitar sangat menaruh hormat pada beliau. Segeralah mereka  menghubungi putra-puteri beliau untuk meminta maaf dan menutup kembali makam beliau.

Kiai Chamim Sulaiman, menurut keterangan, tidak pernah mau menerima bisyaroh ketika ngajar Al-Qur'an. Beliau juga pernah berhenti menjadi tailor (penjahit) setelah mendengar keterangan dari KH Turaichan bahwa kain sisa potongan orang yang menjahit tetap jadi milik yang menjahitkan.

Karena mengetahui hal itu, ia selalu kepikiran dengan sisa-sisa potongan kain yang kecil-kecil di tempat kerjanya. Walhasil, demi kehati-hatian, ia memutuskan berhenti dari profesi tailor karena sulitnya menjaga hak barang orang yang menjahitkan.

Sungguh haq bahwa para sholihin tidaklah mati melainkan hanya berpindah alam. Imam Syafi'i berkata:

احب الصالحين ولست منهم # ولكن ارتجي منهم شفاعة


Artinya: Saya mencintai para shalihin walaupun saya bukan golongan mereka # tetapi dengan rasa cintaku kepada mereka, aku mengharap syafa'at mereka. 

Mari bacakan al-Fatihah untuk Kiai Chamim Sulaiman murid Mbah Fadhol, Mbah Arwani dan juga Mbah Turaichan Adjhuri. [dutaislam.com/ab]

Sumber keterangan: 
Adik kandung Kiai Chamim Sulaiman, Ibu Musti'ah.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini