Dutaislam.com mendoakan sukses HUT RI ke-72 pada Kamis Wage, 17 Agustus 2017. NKRI Harga Hidup Dunia Akhirat!

  • Mendengar Nama Muhammad, Wahabi Saudi Tidak Nyaman Telingan

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 02 Agustus 2017
    A- A+

    Oleh Azzam Mujahid Izzulhaq

    DutaIslam.Com - Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Arab Saudi tahun 2010 lalu, sebetulnya ada beberapa hal yang kurang nyaman dan janggal. Salah satunya adalah penggunaan panggilan Ahmad atau Muhammad kepada orang lain atau orang asing yang derajatnya dianggap lebih rendah.

    Di hotel, seorang supervisor yang Saudi acapkali memanggil petugas Room Service anak buahnya, yang kebetulan non-Saudi dengan panggilan Ahmad atau Muhammad dengan intonasi yang membentak. Di restoran-restoran juga demikian. Orang-orang Saudi acapkali memanggil pelayan restoran dengan panggilan Ahmad atau Muhammad, pun juga dengan intonasi yang kurang nyaman terdengar. Membentak dan lainnya.

    Bukan hanya di dua sektor tadi. Penggunaan panggilan yang (bagi saya) tidak sopan ini, merebak di segala sektor.

    Kenapa tidak menggunakan kata Akhi, Shadiqi, atau apalah sapaan dan panggilan lain selain menggunakan nama Baginda Sayyidina Rasulullah Muhammad saw? Pertanyaan ini yang kadang seperti bom waktu yang ingin sekali diledakkan di depan orang-orang Saudi. Padahal, sebagian dari pemuja Saudi di Indonesia bahkan meributkan apabila menulis saya shallallahu 'alaihi wasallam dengan singkatan saw. Tak menghormati Baginda Rasul katanya. Ya salaam...

    Satu waktu, terjadilah itu. Ketika itu saya mengajak rekan saya makan di salah restoran makanan khas Timur Tengah. Di sebelah saya, ada 4 orang Saudi yang hampir bersamaan datangnya.

    Mereka kemudian memanggil pelayan restoran duluan untuk memesan makanan. "Ya Muhammad! Ta'al! Wahai Muhammad, sini!", kata salah seorang di antara mereka dengan intonasi yang keras. Pelayan yang dari wajahnya diketahui adalah orang Bangladesh, menghampiri dengan mimik datar. Mungkin dalam benaknya sudah biasa dia dibentak-bentak.

    Mereka memesan 2 porsi makanan yang 1 porsinya cukup untuk makan 2 orang Saudi atau 4 orang Indonesia seperti saya.

    "Nah, saatnya meledakkan bom waktu", gumam saya.

    Saya pun kemudian memanggil pelayan. Saya tidak menggunakan panggilan biasa, apalagi panggilan seperti orang-orang Saudi.

    "Ya Abdalaziz! Ta'al!" Hai Abdul Aziz, sini!", teriak saya. Sontak si pelayan kaget tapi raut mukanya tersenyum sambil menghampiri saya dan rekan saya.

    Ternyata 4 orang Saudi di samping saya tadi berdiri juga menghampiri. Mereka lebih dahulu membombardir saya dengan pertanyaan dan pernyataan ketidaksukaan.

    "Kenapa kamu panggil dia (pelayan ini) dengan panggilan Abdulaziz? Abdulaziz adalah kakek kami yang melahirkan kerajaan yang diberkahi Allah ini! Kamu kurang ajar orang Indonesia!", hardik dia sambil menggerakkan tangan khas orang Saudi jika berbicara.

    Saya menjawab mereka, "Lalu kenapa kamu memanggil dia (pelayan ini) dengan panggilan Muhammad? Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang mulia. Ia bukan hanya mengajarkan orang Arab tentang indahnya ber-Islam dengan keagungan akhlaknya pada sesama! Melainka ia mengajarkan dan mendakwahkan Islam bagi seluruh umat manusia. Sehingga kami yang jauh dari kota lahirnya Rasulullah yang diberkahi ini bisa keluar dari zaman kegelapan menuju cahaya Islam! Lebih kurang ajar siapa?"

    Mereka masih misuh-misuh tapi intonasinya sudah mulai datar. Saya tidak memperdulikan, saya memesan makan saja kepada pelayan ini. Dia tersenyum lebar.

    Selesai makan, kami (saya dan rekan serta 4 orang Saudi tadi) hampir bersamaan keluar dari restoran. Mereka masih misuh-misuh. Sayup terdengar salah seorang mereka berkata, "Sudahlah mereka orang miskin yang mencari hidup di Saudi."

    Saya tidak melayaninya, saya tekan remote kunci mobil saja. Saya dan rekan saya naik. Saya buka kaca jendelanya sambil memasang kaca mata hitam. Saya lambaikan tangan kepada mereka sambil berkata, "Assalamu'alaikum. Semoga Allah memberikan rezeki padamu untuk membeli mobil baru".

    Dari kaca spion saya melihat mereka terpana.

    Mungkin mereka baru tahu ada orang asing sombong yang berani menyombongi mereka di sana. Mungkin juga, seperti biasanya, jika saya menceritakan tentang Arab Saudi dari sisi lainnya, ada yang menyimpulkan bahwa saya adalah pembenci Saudi. Padahal, ah sudahlah. Saya sudah tahu kadar 'kelelakian' mereka.

    Mobil yang saya naiki Chevrolet Suburban pabrikan General Motors versi terbaru saat itu. Sementara mobil mereka sedan buatan Jepang dengan produksi tahun 7 tahun ke belakang. [dutaislam.com/gg]

    Source: facebook Azzam Mujahid Izzulhaq

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar:

    Ga nyangka, ternyata bgitu kenyataannya. Ditunggu lagi berita2 ajibnya