Minggu, 06 Agustus 2017

Masjid Tiban Al-Fatah Klaten Ini Sudah Puluhan Tahun Kehilangan Obor Iktikafan

Foto: Masjid Keramat Al Fatah, Keprabon, Polanharjo, Klaten (dok. Tondho Waskitha)
DutaIslam.Com - Sejak wafatnnya para kiai sepuh yang meneruskan pengelolaan masjid tiban Al Fatah di Desa Keprabon, Polanharjo, Klaten, kini masjid yang disebut keramat oleh warga sekitar itu kehilangan obor amaliyah ahlussunnah wal jama'ah nya.

Pasalnya, masjid yang diperkirakan bediri pada tahun 1825-1830 M itu, sejak puluhan tahun lalu sudah tidak lagi dipakai untuk jamaah iktikafan sebagai riyadlah khas masjid yang konon berbarengan masanya dengan Perang Diponegoro itu.  

"Dulu banyak yang bermalam di masjid tersebut sambil berdoa, minta sama Allah agar dikabulkan hajatnya, dan memang yang iktikaf di masjid tersebut rata-rata hajatnya terkabul," terang Tondho Waskitha, warga tetangga masjid di Rt. 02 Rw. 01, Ahad (06/08/2017).

Selain soal iktikafan, air sumur masjid yang dulu bebas dipakai jamaah juga sekarang sudah terisolasi. Di masjid Al Fatah tersebut, kata Waskitha, dulunya banyak didatangi warga sekitar dan luar kota karena ada air sumur keramat yang dipercaya sebagai wasilah tabarrukan.

"Sekarang sih masih dipakai sumurnya, cuma untuk mengambil air harus minta tolong diambilkan orang sini," jelas Waskitha kepada Dutaislam.com.

Dulu ada cerita bahwa masjid tersebut ditunggu oleh makluk gaib yang disebut Gajah Barong. "Banyak isu miring yang beredar bahwa orang-orang yang iktikaf di masjid itu mintanya sama Gajah Barong, padahal itu hanya isu tak berdasar," terangnya.

Sejak itulah iktikafan tidak ada, unsur keromah juga hilang, yang pada akhirnya juga menghilangkan sejarah masjid tiban, -masjid yang tiba-tiba saja ada dan sudah terbangun kokoh hingga sekarang tanpa diketahui siapa pendiri awalnya-.

Sejak wafatnya para sesepuh, masjid Al Fatah kini jadi rebutan kuasa antar pihak yang berambisi ingin menjadi pengelola. "Banyak banget kelompok yang masuk, maksud mereka apa, saya kurang tahu pasti," ungkap Waskitha.

Setelah mengalami renovasi beberapa kali, hanya tiang masjid yang masih tidak diganti. Foto: https://nonobudparpora.wordpress.com
Selain unik, masjid di sebelah Barat rumah Waskitha itu sebetulnya memang keramat, "bukan dikeramatkan," imbuhnya. Cara shalat antar pihak yang berebut Al Fatah itu sama dengan umumnya, tapi mereka tidak suka ada acara iktikafan dan tabarruk air sumur masjid.

Waskitha ingin memperjuangkan masjid agar bisa kembali digunakan sebagaimana asal. "Banyak yang minta sama Allah di masjid tersebut hajatnya terkabul," tegasnya. Namun untuk memperjuangkan agar kembali ada iktikafan, dia menemui banyak halangan saking banyaknya kelompok yang masuk.

"Saya sebetulnya mau minta tolong, tapi kepada siapa. Di sini banyak orang NU, cuma pada diam," keluh Waskitha kepada Dutaislam.com.

Beberapa waktu lalu setelah Waskitha men-share informasi tentang hilangnya iktikafan di masjid Al Fatah tersebut, ada kabar akan datang rombongan tiga bus dari Mojokerto hendak iktikafan. "Tapi nggak tahu ini, belum ada follow up," ujarnya. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini