Senin, 28 Agustus 2017

"Mantra" Islam Nusantara yang Bikin Skak Mat Anggota NII Jadi Tobat Makar

Ilustrasi pasukan milisi cingkrangers ala NII
Oleh Junaidi Abdul Munif

DutaIslam.Com - Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan mantan pengikut NII. Dia cerita bagaimana direkrut, rutin didatangi ke kosnya untuk didoktrin tentang NII dan lain-lain.

Dalam hati, dia sudah bisa mengafirkan orangtuanya dan bahkan membohongi orangtua untuk meminta uang yang disetorkan pada NII. Dia juga mengaku sudah berbaiat langsung dengan pimpinan utama NII. Diguyoni teman satu kos, “aku kafir to?” Lalu temannya nyanyi, “aku kafir, aku kafir....” sambil tertawa mengejek temannya.

Namun, ada beberapa pertanyaan sebagai sikap kritisnya soal doktrin takfiri NII, gagal dijawab oleh seniornya. Saat Jumatan di masjid umum misalnya, dia pernah bertanya, "Lho katanya di luar NII itu kafir, lha kok kita tadi jumatan dengan orang-orang bukan NII? Yang saya tahu jumatan itu minimal 40 orang. Lha tadi hanya kita berdua yang NII".

Sang senior gelagapan menjawab. Tapi akhirnya menjawab bahwa jumatan tadi sah dengan berbagai alasan. Pertanyaan kritis selanjutnya, "NII kan berdiri tahun 1949. Jadi Nabi Muhammad yang lahir jauh sebelum NII lahir, kafir dong?” Sang senior lagi-lagi gelagapan menjawab.

Puncaknya ketika berkegiatan dengan teman-teman NII-nya, sudah waktu shalat dhuhur kok tidak shalat. Sampai waktu dhuhur habis, dia bertanya pada salah satu teman, "kenapa tidak shalat dhuhur?"

Temannya menjawab bahwa shalat itu dilakukan kalau sudah di periode Madinah. Ini kan masih periode Mekah. Dia semakin mantap dengan keyakinannya, "wah nggak bener ini," batinnya.

Dia pulang menemui bapaknya, dan bapaknya meminta ijazah pada seorang kiai agar anaknya bisa keluar dari NII. Mbah kiai memberi ijazah "Islame Arab kui kurma, Islame Indonesia kui asem".

Dia kaget, masak diberi ijazah kok bukan doa bahasa Arab. Kembali ke kos, dia dikepung tujuh orang senior NII yang mengajaknya hijrah, meninggalkan Indonesia yang taghut.

Ketika terdesak oleh doktrin-doktrin yang disampaikan secara bergantian, dia ingat ijazah itu dan mengucapkannya: "Islame Arab kui kurma, Islame Jawa kui asem". Tanpa ba bi bu, tujuh orang senior itu salaman dan pamit. Islam Nusantara jan ampuh tenan! [dutaislam.com/ab]

Junaidi Abdul Munif, pengurus LTN NU Semarang

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini