Jumat, 04 Agustus 2017

Kala Presiden Jokowi Paham Tiada Manfaat Mendekati Kelompok Anti Maulid dan Dzikir


Oleh Ahmad Tsauri

DutaIslam.Com - Saya kaget sekali ketika ada pengikut fanatik seorang tokoh agama, tapi berseloroh "Habib Anu hanya ngajak dzikir dan ajakan gombal cinta NKRI". Saya tidak paham apa saja yang disampaikan sang panutan, sampai fansnya tidak mengerti penting dan fungsinya dzikir.

Tidak ada cara membenahi diri selain dzikir. Dzikir harfiyahnya ingat. Ingat pada gusti Allah. Semua dosa dan kejahatan bermula dari lalainya hati pada gusti Allah. Demikian menurut ulama.

الغفلة راءس كل خطيئة

Nah tugas ulama membenahi masyarakat dan umara, pemerintah membangun. Lihat saja saat terjadi perang Salib, apa yang dilakukan al-Ghazali? Beliau tidak ikut pergi ke medan perang tetapi menulis kitab Ihya. 

Seperti ditulis dalam teks dibawah, al-Ghazali meyakini pertolongan dan kemenangan umat hanya bisa digapai apabila akidah dan ibadah masyarakat sehat. Dan komponen penting untuk menyehatkan aqidah adalah dzikir.

ورغم أنه في وقت الغزالي كانت الحروب الصليبية تطحن في المسلمين طحناً ، إلا أنه لم يكن يحرض على الجهاد العسكري فقد خلت كتاباته من ذلك ، على عكس ما كان منتشر في ذلك الوقت من أشعار واستنفار لهمم ميتة بشعارات لا تغير في مجريات الأحداث

وسبب ذلك أن الإمام كان يضع الأية السابقة نصب عينيه ، فهو أعلم بطريقة انتصار الأمم وكيقية خرابها ودوران الدائرة عليها ، وهو يعلم قوانين النصر التي أولها (( صحة العقيدة )) و العبودية لإله واحد وليس لأرباب متفرقون كما كان في ذلك الوقت ، (( أأرباب متفرقون خير أم الله الواحد القهار ))

Upaya Imam Ghazali pelan namun pasti, usaha serius itu membuahkan hasil. Beberapa abad kemudian dari madrasah Ihya Ulumidin ini, lahirlah Shalahudin al-Ayubi, seorang ulama, pemimpin dan sufi agung yang menghantarkan kemenangan umat Islam dan merebut kembali Palestina dari pendudukan tentara Salib.

Seperti disebutkan dalam kitab "Hakadza Dzahara Jail Shalahudin Wa Hakadza Adat alQuds" yang ditulis oleh  Dr. Majid Arsan Al-Jailani. 

Sepertinya presiden Jokowi menyadari itu, dan menyadari tidak banyak manfaatnya mendekati kelompok yang anti maulid, anti dzikir. Bagi kelompok itu dzikir bakda sholat saja haram. Jadi wajar jika mereka tidak punya imunitas terhadap faham radikal seperti HTI, atau godaan korupsi kopi, sapi dan padi.

Jika Soeharto terlambat, butuh waktu 30 tahun untuk memilih mendekati kelompok Islam yang gemar dzikir, maka Presiden Jokowi hanya butuh 2 tahun.

Beliau menyadari disaat kelompok lain mencurigai, menjegal dan ngerusuhi, hanya orang-orang yang gemar dzikir yang faham kemana arah pembangunan yang dilakukan pemerintahannya, dan kelompok ini yang membusungkan dada menjadi garda depan penjaga keutuhan bangsa.

Semakin sedikit kelompok ahli dzikir ini maka kehancuran bangsa ini makin dekat. Jika tiap bulan Anda ikut pengajian dan mengatakan "hanya" untuk mengecilkan arti penting dzikir, sepertinya Anda harus pindah lapak.

Begitu pentingnya berdzikir sampai seorang ulama mengatakan,
اكثروا الذكر حتى تقولون انتم مراؤن

Perbanyaklah dzikir sampai mereka menyebut kalian orang yang pamer. Konon perkataan ini adalah Hadis Nabi saw.  Jadi "dzikir" bukan hanya, tapi "dzikir" segalanya. [dutaislam.com/ab]

Source:


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini