Jumat, 11 Agustus 2017

Jihad Medsos Penting, Mengapa?


Oleh M. Azha

DutaIslam.Com - Kini, media sosial menjadi sarana penting dalam berjihad. Panggung jihad ini membutuhkan bertumpuk-tumpuk energi. Berlapis-lapis rasa sabar. Dan dada yang sungguh-sungguh lapang. Mengapa?

Pertama, komunikasi dengan tulisan sangat berbeda jauh dengan komunikasi langsung. Peluang terjadinya mispersepsi sungguh besar. Karena, intonasi berbicara tak bisa diraba. Beda jauh dgn berbicara langsung.

Kedua, keterbatasan ruang. Menjelaskan sesuatu yang rumit acapkali membutuhkan waktu dan konsentrasi. Baik bagi kita maupun partner dialog. Seringkali, di media sosial ruang ekspresi sangat terbatas. Pun konsentrasi kadang terpecah. Kita berdialog kadang sambil beraktifitas lain. Demikian pula lawan dialog, melakukan hal yang serupa. So, kadang dialog menjadi miss leading.

Ketiga, kecenderungan membaca yang dikehendaki. Inilah repotnya, kita sudah memberikan informasi pembanding tetapi tiada berguna. Mengapa? Karena alih-alih dibaca, justru dikesampingkan dan dianggap tidak ada. Yang muncul, tetap sumpah serapah dan pertunjukan "keras kepala".

Keempat, mudahnya keluar kata sumpah serapah dan judgement yang tidak pada tempatnya. Inilah barangkali keengganan "silent majority" berdialektika di media sosial. Mudah sekali keluar "stempel" tertentu ketika tidak setuju dengan sebuah pendapat. Kalimat kasar pun bertebaran dan menghiasi timeline. Sungguh tak sehat. Tapi akankah "sakit" akut ini dibalas dengan tindakan serupa? Bagi yang masih menggunakan nalar sehat, sepertinya pasti enggan menggunakan cara yang sama. Sekali lagi, saya menduga faktor inilah yang menyebabkan sebagian besar kaum moderat enggan berjibaku dan berbantahan di media sosial.

Persoalannya, ada pepatah "sebuah kebohongan yang terus menerus disampaikan, suatu saat akan diyakini bahwa kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran". So, media sosial yang penuh dengan beragam kebohongan dan propaganda itu, jika tidak dilawan maka berbahaya bagi masa depan bangsa.

Dus, suka tidak suka, mau tidak mau, kaum moderat harus turun tangan berjibaku di media sosial. Tentu dengan cara yang berbeda dengan "mereka". Di sinilah diperlukan kesabaran, ketelatenan, dan ketidakbaperan. Dan inilah jihad fi sabilillah yang sebenarnya. Kecuali, jika kita menginginkan kehidupan berbangsa kita dipenuhi ankara murka di masa depan. [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini