Selasa, 08 Agustus 2017

Ironi Acara Dakwah Tivi yang Hanya Pindahkan Pengajian ke Layar Kaca

Hasan Chabibi di Seminar Literasi di Fakultas Dakwah Unisnu Jepara (Sabtu, 05/08/2017)
DutaIslam.Com - Untuk menjadi konsumen cerdas dalam bermedia sosial setidaknya dibutuhkan tujuan pasti. Apakah ingin jadi pencipta konten, kritik konten, kolektor link medos, pengamat status, suka join grup, atau bahkan menjadi penggembira status orang lain.

"Ngapain sih kita di medos? Itu soal pilihan," demikian pendapat Hasan Chabibi, pegiat literasi media saat menjadi narasumber bersama Tazkiyyatul Mutmainnah, dari KPID Jawa Tengah, dalam Seminar Nasional bertajuk "Literasi Media: Menjawab Tantangan Penyiaran Islam" yang digelar di Lantai III Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unisnu Jepara, Sabtu (05/08/2017).

Berkegiatan di medos sangat juga terpengaruh oleh tujuan penggunanya. Ada yang ingin membangun reputasi diri, menyadarkan orang lain, berbisnis atau uang, perang (cyber) dan untuk pencerahan (edukasi).

Hasan mengibaratkan medsos seperti lautan. Kita adalah penumpang kapal dengan konten-konten yang kita bawa. "Kemana mendaratkan kapal di lautan, itu harus terkontrol," terang Hasan yang juga pejabat di Pustekkom Kemendikbud RI, Jakarta.

Saat ini, penggunaan medsos didominasi oleh gadget. Dan kebanyakan justru dari usia 25-30 tahun, "geser sedikit ada usia 18-19 tahun," imbuh Hasan.

Fakta usia pengguna medos sangat itu bisa dimanfaatkan untuk meenyebarkan konten dakwah di kalangan pegiatnya. Utamanya konten dakwah untuk kalangan urban.

"Kita datang dengan kitab tebal dan banyak. Padahal orang kota hanya butuh bisa baca Qur'an dan tartil saja," ujar Hasan menyarankan agar Fakultas Dakwah Unisnu bisa mengembangkan strategi dakwah medsos untuk kalangan kota dengan memanfaatkan khazanah kitab kuning yang sangat kaya itu.

Antusias: Ratusan Peserta hadri dalam seminar nasional di Unisnu (Sabtu, 05/08/2017)
Senada dengan Hasan, menurut Mbak Iin, -panggilan akrab Tazkiyyatul Mutmainnah,- para da'i banyak yang tidak laku tampil di layar televisi bukan sebab kapasitas keilmuannya yang luas, melainkan cara menyampaikan pesan ke penonton.

"Acara agama di televisi akhirnya masih kering karena kurang inovatif. Kadang malah ada stasiun tivi yang hanya memindahkan acara mejelis pengajian ke layar kaca," ujar Iin kepada 300-an peserta seminar dari pelbagai kalangan itu.

Khoirul Muslimin, ketua panitia menjelaskan, seminar literasi di Unisnu ini sangat dirindukan beberapa kalangan karena minimnya para pendakwah media dari Jepara. "Insyallah akan dilanjutkan pembentukan wadah khusus untuk berdakwah via medsos," tandasnya. [dutaislam.com/ab]

Baca: Cara Cerdas Mendaratkan Kapal Konten di Laut Media Sosial
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini